Banner

Hidayatullah.com - Situs Islam Pembela Umat

Tidak Ada Lagi Kain Kafan Sepanjang 100 Meter

E-mail Print PDF
Masyarakat Tengger masih kuat memegang adat. Atau boleh disebut, beragama bersendi adat

Hidayatullah.com—Ada saatnya akidah para mualaf di Argosari, Senduro, Lumajang, untuk ditingkatkan. Jika peribadatan para mualaf yang berada di pegunungan Tengger ini masih bercampur dengan keyakinan sebelumnya, saat ini mulai diluruskan. Demikian pula dengan semakin banyaknya umat muslim dan mualaf, perlu juga dibangun “kemandirian” umat dengan menciptakan guru ngaji dan dai dari masyarakat setempat.

Mengenai pelurusan akidah ini, Ust. Ali Farchu, dai Hidayatullah, mengatakan, masyarakat Tengger memang masih kuat memegang adat. Atau boleh disebut, beragama bersendi adat. Hal ini sebagai sisa-sisa dari keyakinannya sebelumnya.

Contohnya kalau ada orang meninggal masih menggunakan sesajen, diarak, serta melakukan judi selama tujuh hari berturut-turut. Demikian pula, biasanya mayat tidak dikubur dulu selama tiga hari. Kemudian kalau mayat dikafani, kainnya bisa sepanjang 70 sampai 100 meter.

“Kafan sepanjang itu karena setiap orang yang bertakziah, membawa kain kafan untuk digunakan bagi si mayat. Akhirnya mayat jadi terbungkus kain kafan yang panjang,” kata Ali Farchu. Hal-hal semacam ini mulai diluruskan oleh para dai yang berdakwah di Argosari, dengan meminta warga menjalankan ajaran agama dengan sebenarnya.

Sementara untuk mencetak para dai dan guru ngaji setempat, BMH Lumajang bersama DPD Hidayatullah Lumajang menyelenggarakan Pelatihan Da’i dan Guru Ngaji pada Selasa (5/1/2010) di Kec. Pasrujambe, Lumajang. Acara ini berupa pelatihan cara cepat membaca Al-Qur’an metode tartiila. Pelatihan ini di antaranya diikuti  20 da’i Tengger agar dapat mengajar Al Quran bagi masyarakat di lingkungannya.

Secara keseluruhan acara ini diikuti 160 orang yang terdiri atas para guru ngaji, dai, tokoh masyarakat, dan pengurus takmir masjid. Pembukaan oleh Wakil Bupati Lumajang KH Drs. As’ad Malik, M.Ag, dihadiri anggota DPRD Lumajang.

”Para dai dan guru ngaji warga Tengger sangat antusias mengikuti pelatihan ini karena betapa pentingnya kegiatan mereka nantinya membina para mualaf Tengger,” kata Ust. Warsito Muhammad.

Dari segi penyempurnaan lainnya sebagai umat muslim, para mualaf ini telah mengikuti sunatan massal yang dilaksanakan pada bulan Agustus 2008. Kemudian untuk mewujudkan pernikahan yang islami, para mualaf pun telah memperbarui pernikahannya dalam acara “Nikah Massal Mualaf Senduro”. Acaranya dilaksanakan Ahad, 1 Maret 2009, berlangsung di dua tempat. Ijab qobul dilaksanakan di Masjid Nurul Huda, Dusun Tempuran, Desa Senduro, Kecamatan Senduro, sedang walimah dilaksanakan di Pasar Agropolitan, Senduro, dengan dihadiri Bupati Lumajang Syahrazad Masdar, dan Wakil Bupati KH As’ad Malik.

Pada saat itu peserta yang menikah dengan wali hakim 30 pasang dan wali penghulu 40 pasang. Pasangan pengantin yang mewakilkan kepada penghulu karena walinya sudah meninggal atau sang wali enggan datang karena sedang mengurus keberlangsungan ladangnya di Pegunungan Tengger.

Bangun masjid

Meskipun baru memeluk agama Islam, kesadaran para mualaf untuk beramal saleh juga sudah mulai muncul. Terbukti di antaranya ada warga yang mewakafkan sebagian tanahnya yang berukuran 40 x 60 meter. Separuh dari tanah itu diwakafkan, sisanya dijual.

Menurut Warsito, saat ini sedang dicari dana untuk membeli tanah tersebut. Untuk sementara sudah dilakukan pembuatan plengsengan untuk sudut tanah yang berada di kemiringan.

Sementara untuk pembangunan masjid Jabbal Nur yang berada di Dusun Puncak, sedang mendekati penyelesaian. Pembangunannya sudah mencapai 75%. “Untuk pembangunan itu sudah menghabiskan Rp 50 juta. Insya Allah butuh Rp 20 juta lagi untuk menuntaskan pembangunannya,” jelasnya.

Ukuran masjid hanya 8 meter persegi, tetapi cukup memadai untuk masjid yang berlokasi di kawasan bertanah curam di pegunungan. Masjid itu juga telah mulai dipakai untuk salat Jumat dan pengajaran Al Quran bagi warga setempat.

“Untuk membangun tempat ibadah di sini memang membutuhkan dana yang lebih banyak, dibandingkan pembangunan masjid dengan ukuran sama di kota . Untuk mendatangkan material ke Dusun Puncak ini harganya cukup mahal, bisa dua kali lipat. Hal ini karena material harus didatangkan dari kota kecamatan yang di bawah pegunungan,” ucap Warsito.

Ia yakin dapat menyelesaikan pembangunan Masjid Jabal Nur dalam waktu dekat, walaupun dana untuk penyelesaian itu masih belum ada. Keyakinan yang sama juga untuk kebutuhan dana membeli sisa tanah yang diwakafkan seorang mualaf. “Semua ini kepentingan umat, insya Allah akan ada yang membantu,” kata Warsito optimis. Semoga. [syaiful irwan/www.hidayatullah.com
Last Updated ( Thursday, 28 January 2010 10:55 )  
Banner
Senin, 15 Maret 2010
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner

Terkait

Iklan Baris

www.al-quran-dan-hadist.com
Ensiklopedi Mukjizat Al Quran & Hadits
Mengungkap Fakta, Teguhkan Iman
www.serbaadamuslim.com
GROSIR KAOS KAKI, tersedia aneka warna, dibutuhkan reseller seluruh Indonesia. Hub. Rina 08155100517

© 2010 Hidayatullah.Com, All Rights Reserved    
Banner