Banner

Hidayatullah.com - Situs Islam Pembela Umat

Warga Muslim Pun Sekarang Jadi Mayoritas

E-mail Print PDF
Pada awalnya dakwah dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, karena mendapat tentangan dari warga. Tetapi justru yang menentang akhirnya masuk Islam

Hidayatullah.com—Dari sekitar 5000 penduduk di Desa Argosari, Kec. Senduro, Lumajang, saat ini terdapat 3400 lebih warga beragama Islam. Banyak dari mereka itu para mualaf, bahkan sampai saat ini pun masih banyak warga yang mengucapkan dua kalimat Syahadat, masuk ke dalam Islam.

“Rata-rata setiap bulan ada lebih dari 10 orang mengucapkan dua kalimat Syahadat,” kata Ali Farchu, dai yang rutin berdakwah di Argosari, Senduro.

Dengan perkembangan Islam semacam ini di Argosari, cukup menyemangatkan hati Ali Farchu dalam berdakwah di kawasan pegunungan Tengger tersebut. Maklum, dia sudah hampir dua dasawarsa melakukan syiar Islam di situ, di saat umat Islam masih menjadi minoritas. “Sekarang ini sudah 60% warga memeluk Islam,” ujarnya.

Ia mengatakan, pada saat awal berdakwah di Argosari, penduduk yang muslim baru 19 kepala keluarga, sekitar 93 warga. Pada waktu itu untuk berdakwah dilakukan secara sembunyi-sembunyi guna tidak terjadi benturan dengan warga setempat. Hal ini ditambah lagi dengan umumnya aparat desa yang masih beragama non-muslim.

Menurut Sugiyanto, penduduk Dusun Gedog, Argosari, ketika kaum muslim masih menjadi minoritas memang ada sejumlah penduduk yang tidak suka dengan kegiatan ibadah orang Islam. Kalau ada suara azan misalnya, ada yang mengatakan seperti suaranya wedhus (suara kambing). “Tapi yang mengatakan itu akhirnya masuk Islam,” katanya.

Pengalaman yang sama dialami Sutomo, salah satu tokoh pengembang Islam awal di Argosari, ketika membangun musholla di depan rumahnya di Dusun Gedog. Pada saat itu seorang warga bernama Suparman menentang kegiatannya. Namun karena di dusun itu masih belum ada tempat ibadah, Sutomo terus saja melanjutkan rencananya.

Suatu ketika Suparman datang lagi ke rumah Sutomo. Tetapi kali ucapan yang disampaikan bukan lagi bernada penolakan, tetapi niat membantu material untuk pembuatan musholla.

“Saya sempat heran, sekarang ini dia justru menawarkan untuk membantu pembangunan musholla. Dia bilang, “Pak Tomo ingin dibantu apa?” Lantas dia mengirim material batu ke tempat saya,” katanya.

Selanjutnya Suparman masih mengirim pasir dan bambu untuk keperluan musholla tersebut. Dan yang terakhir, malah Suparman menjadi mualaf masuk Islam.

Ali Farchu mendapat kesan, mudahnya masyarakat Tengger di Argosari, Senduro, ini menerima Islam karena menganggap keyakinan mereka sebelumnya hanya merupakan ritual adat saja. “Sesungguhnya di antara mereka banyak yang tidak paham dengan aturan dan cara ibadah Hindu. Mereka hanya merasa saja memiliki keyakinan itu, tetapi tetapi tidak tahu lebih jauh tentang keyakinannya itu,” katanya.

Tidak heran kemudian banyak warga yang beralih keyakinan masuk Islam. Di Dusun Puncak, Argosari, saja, yang merupakan dusun terjauh dan tertinggi di pegunungan Tengger itu, saat ini dari 30 KK, sekitar 95% telah memeluk Islam. Di tempat itu pun sedang dibangun tempat ibadah yang lebih memadai (Masjid Jabbal Nur), serta ditempatkan seorang dai dari Ormas Hidayatullah, untuk membantu Ali Farchu.

Yang menarik pada tahun 1989, Sugiyanto mengisahkan, pada saat warga muslim di Dusun Gedog sudah semakin banyak, warga non-muslim berinisiatif membangun pura. Pada saat itu semua warga diminta sumbangan untuk proses pembangunan itu. Namun akhirnya pembangunan itu batal karena pura yang sedang dibangun disambar petir. Uang warga pun dikembalikan.

Proses masuknya warga memeluk Islam pun bermacam-macam. Sebagian ada karena kesadaran sendiri, sebagian lain karena proses perkawinan. Hal semacam terakhir ini, misalnya, terjadi pada Sutomo dan Supardi. Keduanya menikah dengan sesama warga yang sebelumnya masih dengan keyakinan Hindu. Para calon istri itu masuk Islam menjelang pernikahan dilaksanakan.

Gelombang Masuk Islam

Gelombang warga Tengger di Kecamatan Senduro masuk Islam terjadi pada tanggal 17 Mei 2007. Pada saat itu terdapat 227 warga pegunungan Tengger yang berasal dari Desa Argosari, Wonocempoko Ayu, dan Burno, mengucapkan dua kalimat Syahadat di hadapan pemuka-pemuka agama dan pejabat Kecamatan Senduro, termasuk ustadz dari Ormas Hidayatullah. Acaranya dilangsungkan di Masjid Nurul Huda, Senduro.

Umumnya yang masuk Islam itu orang-orang dewasa, baik yang telah menjadi “suami-istri” pada keyakinan sebelumnya, atau yang masih bujangan. Seusai pengucapan dua kalimat Syahadat, masing-masing mendapat bingkisan perlengkapan ibadah. Mualaf pria mendapat bingkisan kain sarung, sementara mualaf perempuan mendapat mukenah.

Untuk menindaklanjuti perkembangan di kalangan warga di pegunungan Tengger itu, MUI Kecamatan Senduro, Lumajang, pun membentuk Forum Komunikasi Takmir Masjid. Forum ini mengupayakan pembangunan tempat ibadah di desa-desa domisili para mualaf.

DPD Hidayatullah Lumajang bersama BMH Surabaya pada saat itu juga segera memberi bantuan dua pengeras suara, amplifier, dan mik, untuk musholla dan masjid yang ada di Dusun Gedog, Argosari. Saat ini DPD Hidayatullah Lumajang telah mengelola sejumlah TPQ dan satu TK Islam Yaa Bunayya di Desa Argosari.

Untuk keperluan pemantapan akidah, DPD Hidayatullah Lumajang menempatkan 8 dai dan daiyah di Desa Argosari, Senduro, dengan enam orang di antaranya menetap di lokasi pegunungan Tengger tersebut. Tiga dari 6 orang merupakan guru TK Islam Yaa Bunayya.

“Semua guru TK itu kita ambilkan dari warga setempat. Mereka lulusan SD, SMP, dan SMA. Khusus yang lulus SD dan SMP sudah ikut ujian Paket Kesetaraan, sehingga mereka sudah memiliki ijasah SMA. Seluruh guru itu sebelum mengajar mengikuti pelatihan selama dua bulan di TK Yaa Bunayya Kota Lumajang,” kata Ketua DPD Hidayatullah Lumajang, Ust. Warsito Muhammad yang juga dai untuk warga Tengger.

Untuk tiga dai lainnya yang ditempatkan di Argosari, penempatannya menyebar di dusun-dusun setempat. Seorang di antaranya Arofik yang sudah dua tahun berada di Dusun Puncak, suatu kawasan tertinggi di pegunungan Tengger itu.

Kepada para mualaf Tengger itu, para dai mengajarkan cara bersuci, salat, membaca Al-Quran, dan masalah-masalah akidah lainnya. [syaiful irwan/www.hidayatullah.com]
Last Updated ( Thursday, 28 January 2010 11:02 )  
Banner
Jum'at, 12 Maret 2010
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner

Terkait

Iklan Baris

www.al-quran-dan-hadist.com
Ensiklopedi Mukjizat Al Quran & Hadits
Mengungkap Fakta, Teguhkan Iman
www.serbaadamuslim.com
GROSIR KAOS KAKI, tersedia aneka warna, dibutuhkan reseller seluruh Indonesia. Hub. Rina 08155100517

© 2010 Hidayatullah.Com, All Rights Reserved    
Banner