Hidayatullah.com - Situs Islam Pembela Umat

Bookmark and Share

Bingung mengikuti orang tua atau suami?

E-mail Print PDF

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Sebelumnya saya mohon maaf kalau kisahnya panjang lebar; karena saya bingung mau tanya siapa. Walhasil setiap saya sholat, sholat malam hanya bisa menangis dan menunggu jawaban dari ALLAH SWT.

Masalah ini dimulai dari ketidak jujuran suami. Pada waktu itu orang tua saya ikut bisnisnya suami yang kerja di securitas (saham).  Ternyata mengalami kerugian dan uangnya sudah ludes. Tapi suami saya masih mengirim bagi hasil kepada orang tua, dan mengatakan bahwa keadaan baik-baik saja..

Suami memutar otak, bagaimana cara mengembalikan uang orang tua dan semua tabungan kita. Dengan ikutan bisnis bersama teman-temannya, ternyata ujungnya ditipu. Semuanya ludes dan terbongkarlah ketidakjujuran suami saya. Sebagai istri saya berusaha menutupi kesalahan suami, agar ia tidak syok. Orang tua saya marah besar dan saya disuruh pulang.

Yang saya tanyakan, bagaimana seharusnya posisi saya di mata Islam? Saya tahu persis suami saya berusaha mati-matian untuk mengembalikan semuanya sampai sekarang. Bukankah seharusnya saya lebih menjaga suami dan ikut mensupportnya? Tetapi bagaimana  dengan orang tua, sepertinya saya tidak membela orang tua, dan malah ikut menutupi kebohongan suami. Saya benar-benar bingung.. Mohon petunjuknya harus bagaimana saya bersikap.

Sebenarnya saya hanya ingin menjadi istri yang sholehan tanpa menjadikan diri saya sebagai anak yg durhaka kepada orang tua. Dalan hati kecil saya, saya ingin menunggui suami bekerja dan hidup berdua; memberi support dan menjaganya agar tidak salah jalan lagi. Apakah keinginan saya ini salah?

Terima kasih atas dimiuatnya pertanyaan saya ini.

Wassalam.


Jawab:

Wa'alaikumsalam

Ibu Rhm yang dirahmati Allah

Saya bisa memahami perasaan ibu, antara memilih mengikuti kemauan orang tua harus meninggalkan suami tercinta atau tetap setia mendampingi suami dalam suka dan duka.

Nasi sudah menjadi bubur, kekhilafan yang dilakukan oleh suami ibu telah menimbulkan dampak yang kurang menguntungkan. Kerugian secara materil ketidakpercayaan orang tua serta retaknya hubungan keuarga. Semua peristiwa itu telah terjadi, dan tentu kita tidak bisa berandai-andai jika kasus itu tidak pernah ada bukan? Yang paling penting adalah bagaimana peristiwa tersebut bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi ibu dan suami, agar jangan sampai kesalahan yang sama diulang kembali. Niat baik saja tidak cukup, jika tidak disertai dengan bertindak dengan cara yang baik pula.

Ibu Rhm

Saya sangat salut dengan sikap anda yang tetap ingin mendampingi suami yang tengah dilanda musibah dan ingin memberikan support kepadanya di tengah keterpurukannya. Dan itu anda lakukan dengan harapan agar suami tidak terjerumus ke jalan yang sesat.

Didalam pandangan Islam, seorang wanita yang telah menikah, suaminyalah yang lebih berhak untuk mendapatkan ketaatannya dibandingkan dengan kedua orang tuanya. Hal ini terlihat jelas dalam Hadits Rasulullah salallahu alaihi wa sallam:

Dari Aisyah radhiyallahu anha: Sesungguhnya Nabi Muhammad salallahu alaihi wa sallam bersabda: “Seandainya aku boleh menyuruh seseorang sujud kepada (sesamanya) tentu aku akan menyuruh kepada para istri agar bersujud kepada suaminya. Dan kalau ada seorang laki-laki yang menyuruh istrinya agar berpindah dari bukit merah ke bukit hitam, atau dari bukit hitam ke bukit merah, tentu kewajiban istrinya tersebut adalah melaksanakan (apa yang diperintahkannya itu)” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Tentu saja sabda Rasulullah diatas harus diletakkan dalam konteks selama suami tidak memerintahkan kepada hal-hal yang melanggar syari’at Allah, perbuatan dosa serta perbuatan maksiyat.

Adapun terhadap orang tua andapun dengan sadar bahwa anda ingin menjadi anak yang berbuat baik kepada orang tua, dan tidak ingin menjadi anak yang durhaka dihadapan Allah Subhanahu wa ta’ala. Ini sikap yang benar dan seharusnya dipegang teguh oleh setiap anak kepada kedua orang tuanya.

Sikap tersebut dapat anda berdua lakukan dengan cara menunjukkan niat baik, tetap menyambung silaturrahim, memperkalukannya dengan sikap yang baik, menyampaikan rasa penyesalan dan permohonan maaf atas kesalahan yang pernah anda perbuat berdua. Dan tentunya komitmen anda untuk menunaikan hak-haknya, jika masih ada hak-hak orang tua yang mesti anda penuhi.

Memang terkadang memerlukan waktu untuk melunakkan hati orang tua. Tetapi jika niat baik, sikap dan komitmen itu benar-benar anda tunjukkan insya-Allah perubahan sikap orang tua akan anda rasakan.

Mudah mudahan peristiwa tersebut dapat semakin menjadikan ibu dan suami lebih dekat kepada Allah, dan berusaha lebih mengindahkan aturan-aturan Allah subhanahu wa ta’ala, khususnya dalam bermu’amalah.

Wassalam:

Pengasuh   

 
Kamis, 02 September 2010
Banner
Banner
Banner

Iklan Baris

tokoherbalonline.com
Sedia Jus Noni Javanony cocok untuk
hipertensi, kolesterol, diabetes dll.
www.metromediaenterprise.com/
Pertama di Indonesia!
Metode Belajar Haji & Umrah Spektakuler Plus 14 VCD Belajar Manasik Terbaru
www.serbaadamuslim.com
GROSIR KAOS KAKI, tersedia aneka warna, dibutuhkan reseller seluruh Indonesia. Hub. Rina 08155100517
www.busanabajumuslim.com
Busana Muslim Istimewa.
Istimewa kualitasnya.
Istimewa Murahnya.
Istimewa Hadiahnya

© 2010 Hidayatullah.Com, All Rights Reserved