Banner

www.hidayatullah.com

Cara China Meredam Etnis Uighur

E-mail Print PDF
Pemerintah China sering merujuk kata 'separatisme' sebagai sebab kekerasan, yang disulut oleh kelompok warga Uighur yang berada di pengasingan

Hidayatullah.com--Semula, ribuan warga Uighur berkumpul untuk mengajukan seruan pada pemerintah. Mereka menuntut penyidikan atas tewasnya dua warga Uigur, buruh pabrik di suatu kota kecil. Dua orang ini dibunuh oleh warga Cina, etnis Han. Dan warga Han, bertindak, karena ada desas desus, sekelompok warga Uigur memperkosa seorang gadis warga Han.

Ketika polisi mulai menangkap para pengunjuk rasa, aksi protes berubah menjadi amukan massa. Beberapa saksi mata melaporkan, di antara para pengunjuk rasa terdapat orang-orang yang bersenjatakan pentungan dan pisau.

Tapi pemerintah China sering merujuk kata 'separatisme' sebagai sebab kekerasan, disulut oleh kelompok warga Uighur yang berada di pengasingan. Dan sebagaimana biasa, yang dituduh menjadi biang kerok adalah Rabiya Kadeer, seorang pengusaha wanita, yang usai menjalani hukuman penjara atas tuduhan separatisme, tinggal di Amerika Serikat.

"Pada tanggal 5 Juli Kadeer menelepon ke China, dan beberapa situs internet menghasut penduduk untuk membuat kerusuhan", kata Gubernur Xinjiang, Nur Bekri.

Warga Uighur ini, walaupun jabatannya Gubernur, bukan penguasa tertinggi di Xinjiang. Orang paling kuat adalah Wang Lequan, seorang warga Han, Ketua Sekretariat Partai di propinsi Xinjiang. Demikian cara China menjinakkan lebih dari 50 warga etnis yang ada.

Sistem seperti itu mengecewakan warga Uighur. Pada masa lalu, hamparan luas gurun dan stepa adalah kampung halaman kelompok etnis yang termasuk rumpun etnis Turki ini. Namun, akibat perpecahan interen, Republik Islam Turkistan tidak berumur panjang. Xinjiang, yang mencakup kelompok minoritas muslim keturunan China dan Rusia, sempat mencoba berdiri sendiri. Tapi, pada akhirnya jatuh ke pangkuan revolusi China, pimpinan Mao Zedong.

Setelah aneksasi tersebut, Pemerintah China mengirim warga Han sebagai pasukan tempur, untuk menaklukkan 'daerah liar' itu. Dalam Bahasa China; bingtuan.

Pasukan militer yang dilatih untuk menjadi satuan produksi kini masih ada. Mereka mengelola kebun kapas, produksi buah-buahan, dan berbagai kekayaan barang tambang.

Dan arus kedatangan warga Han mengalir, bukan hanya anggota pasukan tempur tersebut. Setiap tahun, ribuan warga Han dari wilayah China Timur yang telah padat, pindah ke Xinjiang, mencari kehidupan dan pekerjaan.

Aksi Bunuh Biri

Dampaknya, dari 20 juta penduduk propinsi Xinjiang, 40 persen di antaranya adalah warga Han. Warga Uighur bukan hanya merasa jadi kelompok minoritas di kampung halaman sendiri, akibat diskriminasi, mereka juga tidak ikut menikmati hasil pertumbuhan ekonomi.

Kadang, suatu bom meledak di propinsi ini. Ledakan amatiran, sekadar botol berisi bensin. Atau bom aksi bunuh diri profesional buatan 'Gerakan Muslim Turki Timur’. Biasanya, jawaban Beijing, bertindak lebih keras lagi.

Kekangan terus menerus dan tindakan keras polisi, merupakan sumber banjir darah Ahad lalu, kata warga Uighur di pengasingan. Bukan separatisme, tapi rasa jengkel penduduk, akibat lindasan mesin modernisasi warga Han.

Pernyataan seperti di atas perlu dijawab dengan kebijakan untuk meredakan ketegangan antar etnis, bukannya penindasan. Tapi, Pemerintah China tidak pernah mempertimbangkan pelaksanaan kebijakan seperti itu.

Dalam bayangan para penguasa di Beijing, semua kelompok minoritas berbahagia, sementara berbagai kelompok separatis, dengan bantuan kekuatan kekuatan anti-China di luar negeri, mengganggu keharmonian di bawah lindungan Bendera Merah. [cha, rnwl/www.hidayatullah.com]
 
Banner

© 2010 Hidayatullah.Com, All Rights Reserved