Teroris bisa berbangsa Arab, Inggris, maupun Amerika. Bisa pula
Kristen, Katolik atau Yahudi. Karenanya jangan sampai melihat teror terbatas pada orang atau kelompok tertentu
Selasa, 6 Desember 2005
KDNY (Kabar Dari New York):
Oleh: Syamsi Ali
Menarik sekali, dan tentunya sangat menggembirakan bahwa ulama Madura dan Majelis Ulama Indonesia telah menyatakan "jihad" atau boleh jadi memakai kata "perang" melawan teror. Menarik, karena dalam dunia "teror-meneror" saat ini sangat identik dengan mereka yang mengaku lebih beriman dan bertakwa. Menggembirakan, karena terjadi persepsi bahwa suara umat Islam hampir tidak kedengaran dalam usaha-usaha melawan terorisme.
Teror adalah tindakan kekerasan baik secara fisik maupun non fisik terhadap civilian. Artinya semua bentuk kekerasan yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu, apakah itu secara individu maupun kolektif dengan target "non combatant" maka dikategorikan tindakan teroris atau teror.
Dari defenisi sederahana itu, dapat dipahami bahwa teror dapat dilakukan oleh siapa saja dengan target yang melampuai semua batas-batas kemanusiaan, nasionalis, suku, warna kulit, maupun ikatan idiologi dan agama.
Oleh karenanya, teroris bisa berbangsa Arab, Persia, Pakistan, India, China, Afrika, Prancis, Inggeris, maupun Amerika. Teroris bisa beragama Kristen, Katolik, Budha, Hindu, Konghucu, atau pun Yahudi.
Maka, teroris memang wajar untuk dijadikan "musuh bersama" oleh semua (common enemy) dan menjadi landasan bersama untuk memeranginya secara kompehensif atau menyeluruh.
Namun peperangan terhadap terorisme tidak dilakukan secara sepihak dan diskriminatif. Artinya, ketika seseorang atau sekelompok melakukan teror, maka dengan mudah diidentifikasi sebagai teroris. Tapi sebaliknya jika yang lain melakukan yang sama, dengan berbagai justifikasi, justeru dapat dilihat sebagai sebaliknya, yaitu memerangi terorisme.
Ketika sekelompok diyakini telah memproduksi senjata kimia, maka tanpa memandang urgensi "konsultasi" (resolusi PBB), perlu dilakukan preventive strike. Tapi justeru peperangan terhadap produsen senjata kimia dilakukan dengan menggunakan senjata pemusnah yang sama.
Artinya, terjadi self kontradiktif dalam upaya-upaya melakukan peperangan terhadap teroris. Terjadi sebuah kemunafikan nyata dalam peperangan terhadap terrorisme.
Akar permasalahan
Tidak dapat diragukan bahwa hampir semua "current terrorist events" yang terjadi di semua belahan dunia berkiblat kepada "kebencian" mereka negara adi-daya. Tapi dapatkan semua ekspresi kebencian itu dikategorikan "terorisme?".
Bagaimana dengan kemarahan mereka yang di Amerika Selatan dan Tengah di saat terjadi America Summit baru-baru ini? Apakah mereka yang melampiaskan kemarahannya di Korea saat ini dikategorikan "teroris?".
Hampir di mana-mana kita mendapati orang melampiaskan kemarahan dalam berbagai bentuk. Semuanya hampir dipastikan adalah karena telah terjadi "ketidakadilan" dalam berbagai manifestasinya, termasuk ketidak adilan ekonomi dunia yang menjadikan separuh manusia harus hidup dalam taraf yang sangat menyedihkan. Tiga juta anak meninggal dunia karena kelaparan atau malnutrisi.
Penyakit-penyakit mematikan seperti AIDS dan HIV justeru lebih mengrobankan mereka yang secara sistimatis telah dimiskinkan.
Oleh karenanya, dengan segala senang hati dan gembira menyambut "semangat" para ulama kita untuk melakukan jihad melawan "terror". Namun hendaknya diingat dua hal.
Pertama, lihatlah makna teror secara menyeluruh. Jangan-jangan melakukan peperangan terhadap teror yang berakibat kepada tindakan terror yang sama, walau dalam bentuk yang berbeda. Teror militer misalnya jangan menjadikan kita lupa terhadap teror ekonomi. Teror fisik jangan menjadikan kita buta terhadap teror iman dan moral.
Jika gagal melihat teror dalam perspektif ini, maka akan terjadi teror melawan teror. Pada akhirnya kita akan bingung, siapa yang sebenarnya teroris itu?
Kedua, bahwa teror itu telah "transgress all boundaries". Olehnya kita perlu berhati-hati, jangan sampai melihat bahwa teroris itu terbatas pada orang atau kelompok tertentu. Dan ini dapat dilhat pada fenomena terakhir, di mana ekspresi kemarahan tetumpah di mana saja, termasuk di Brazil, Prancis, dan kini di Korea.
Tidakkah ini membuka mata kita, untuk melihat bahwa jawaban terhadap pertanyaan klasik "why they hate us?" bukan karena agama lagi. Melainkan karena faktor-faktor terkait yang perlu ditangani.
*) Penulis adalah Imam Masjid Islamic Cultural Center of New York. Tulisan ini dimuat di wwww.hidayatullah.com dalam rubrik KDNY (Kabar Dari New York)




