Hidayatullah.com– Pasukan Kurdi masih menahan sekitar 2.200 orang asing yang merupakan kerabat dari terduga petempur ISIS di sebuah kamp di bagian timur laut Suriah, kata seorang pejabat di sana kepada AFP, meskipun sudah ada kesepakatan integrasi antara Kurdi dan Damaskus.
Dua pejabat pemerintah juga mengatakan kepada AFP bahwa pengalihan administrasi kamp Roj ke otoritas Damaskus akan membutuhkan waktu dan termasuk di antara isu-isu dalam kesepakatan integrasi yang masih dirundingkan.
Di kamp Roj, yang terletak di Provinsi Hasakeh, koresponden AFP melihat sejumlah wanita berniqab dan anak-anak serta remaja, yang sebagian meminta untuk tidak difilmkan.
Pasukan Kurdi menjaga dengan ketat kamp tersebut.
Pejabat kamp itu, Hakmieh Ibrahim, hari Senin (5/10/2026) mengatakan kepada AFP bahwa kamp Roj menampung 729 keluarga dari terduga anggota ISIS, atau lebih dari 2.200 orang.
“Sampai saat ini belum ada perubahan administrasi kamp,” kata wanita itu, meskipun sudah ada kesepakatan integrasi.
Dia menjelaskan bahwa kamp itu menampung orang asing dari lebih 50 negara, yang terbanyak dari Rusia, disusul wanrga negara Prancis, Rurki, Jerman, Tunisia, Maroko dan lainnya.
Penghuni kamp itu termasuk Shamima Begum, wanita muda yang dicopot kewarganegaraan Inggris-nya setelah meninggalkan negara itu menuju Suriah saat masih remaja untuk menikahi seorang petempur ISIS.
Kurdi dan Damaskus pada bulan Januari mencapai kesepakatan tentang integrasi pasukan dan institusi-institusi Kurdi ke dalam negara Suriah, setelah pasukan pemerintah berhasil mendorong Kurdi melepaskan daerah-daerah yang direbutnya dari ISIS selama perang sipil.
Pada bulan Agustus, Mazloum Abdi pemimpin SDF (Syrian Democratic Forces) mengumumkan pembubaran pasukan tempur Kurdi yang dipimpinnya dan dia ditunjuk sebagai penasihat Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa.
Sejak itu pemerintah baru Suriah secara bertahap mengambilalih tanggung jawab institusi-institusi dan berbagai hal yang selama ini ditangani Kurdi.
Seorang pejabat Suriah yang enggan disebutkan identitasnya mengatakan kepada AFP bahwa “integrasi kamp Roj, seperti institusi-institusi lainnya, sedang berjalan.”
“Pengalihan administrasinya akan memakan waktu,” ujarnya, mengingat kerumitan “dimensi kemanusiaan dan politik, serta kaitannya dengan pihak-pihak asing,” merujuk pada negara-negara yang sampai saat ini menolak untuk merepatriasi warganya.
Seorang pejabat Kementerian Dalam Negeri yang juga enggan disebutkan identitasnya mengatakan kepada AFP bahwa kamp Roj “merupakan bagian dari agenda umum yang sedang digarap.”
Roj merupakan kamp terakhir yang berada di bawah kendali Kurdi, setelah pasukannya menarik diri dari amp Al-Hol selama eskalasi operasi militer pemerintah tahun ini.
Kebanyakan penghuni kap Al-Hol termasuk orang asing akhirnya meninggalkan kamp itu dan otoritas baru Suriah kemudian menutupnya.
Pada bulan Februari, Amerika Serikat memindahkan lebih dari 5.700 tahanan ISIS yang berasal dari lebih 60 negara ke Iraq setelah bertahun-tahun mereka dijebloskan ke penjara-penjara yang dikelola Kurdi Suriah.*




