Hidayatullah.com – Sebanyak 20 hingga 30 hancur dalam serangan AS-Israel ke Iran, ungkap kepala maskapai penerbangan nasional milik negara tersebut pada Senin.
Melansir kantor berita Iran Tasnim, Taher Abdolhai, CEO Iran Air—yang juga dikenal sebagai HOMA—menyatakan dalam sebuah konferensi pers bahwa Iran membutuhkan sekitar 1.000 pesawat penumpang, namun saat ini hanya memiliki sekitar 300 unit.
Dari jumlah tersebut, antara 130 hingga 140 pesawat dalam kondisi layak terbang sebelum perang. Sekitar 20 hingga 30 di antaranya hancur selama konflik berlangsung, imbuhnya.
Abdolhai juga menyebutkan bahwa antara 70 hingga 80 pesawat sempat menjadi sasaran selama perang.
Entitas Zionis ‘Israel’ tidak hanya menyasar target militer, namun juga pesawat-pesawat sipil milik maskapai nasional. Abdolhai menyebut bahwa banyak pesawat milik Iran Air yang juga rusak parah akibat serangan ‘Israel’. Sementara, pesawat maskapai lain hanya mengalami kerusakan ringan.
Pimpinan maskapai tersebut juga mengungkapkan bahwa sanksi dan pembatasan internasional telah melemahkan operasional Iran Air secara bertahap, yang berujung pada berkurangnya jumlah armada yang beroperasi serta terbatasnya akses ke rute-rute yang menguntungkan.
Ia menyebutkan kesulitan dalam memperoleh suku cadang, kendala keuangan, dan tantangan terkait sumber daya manusia sebagai hambatan utama yang dihadapi maskapai tersebut.
Pernyataan ini menegaskan bahwa serangan-serangan AS-Israel ke Iran telah menyebabkan kerusakan infrastruktur militer dan sipil yang luas. Hal itu diperparah dengan sanksi terhadap negara tersebut, sehingga membatasi pembelian suku cadang dan layanan pemeliharaan pesawat.*




