Hidayatullah.com– Tiga pria mengaku bersalah merencanakan aktivitas teroris, khususnya merusak Masjid Maryam di Galway, Irlandia.
Mereka adalah Garrett Pollock (36) warga Kilhorne Greene di Annalong, Darren Gorman (34) penduduk O’Moore Place di Portlaoise dan Karolis Peckauskas (39) warga Newfoundwell Road di Drogheda.
Mereka sudah membuat rencana untuk meledakkan Masjid Maryam yang teletak di Monivea Road antara tanggal 4 dan 5 November 2025 saat mereka ditangkap, demikian diungkap di Pengadilan Kriminal Khusus di Dublin seperti dilansir BBC hari Jumat (10/10/2026).
Pollock juga mengaku bersalah memiliki bahan peledak yang ditemukan di empat toples kaca yang disembunyikan di sebuah laci yang berada di dalam kendaraan van miliknya pada 4 November 2025.
Ketiga pria itu merupakan bagian dari kelompok yang menamakan diri mereka sebagai Irish Defence Army yang menurut Det Insp Alan McDevitt merupakan sebuah kelompok ekstremis sayap kanan.
McDevitt mengatakan di pengadilan bahwa kelompok itu merupakan sempalan dari kelompok daring Irish Citizens Army yang berkomunikasi melalui aplikasi Signal, lapor RTÉ.
McDevitt mengatakan gardaí (Kepolisian Irlandia) tidak mengetahui kapan serangan terhadap masjid tersebut akan dilakukan tetapi para pria itu sudah merencakan serangan dengan menggunakan alat pembakar rakitan seperti bom pipa dan bom molotov.
Mereka membuat rekaman video dengan menggunakan ponsel Pollock saat berada di dapur rumah Gorman di Portlaoise di mana mereka mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Rekaman itu menunjukkan empat pria bertopeng berseragam tempur berdiri di hadapan bendera Irlandia. Mereka mengatakan ingin “menjadi pihak yang bertanggung jawab atas kehancuran masjid pertama yang didirikan di negeri besar kami di Galway.”
Pengadilan juga menerima bukti sebuah surat tertulis dari Pollock berisi ungkapan penyesalan atas tindakan-tindakannya.
Di persidangan hari Jumat tersebut diungkap bahwa Pollock mengalami “radikalisasi” secara daring setelah dia mulai kecanduan alkohol dan kokain.
Pollock, seorang intruktur kebugaran, mengonsumsi konten radikal tentang ancaman para imigran bagi masyarakat dan negaranya. Setelah dia melakukan kontak dengan sebuah kelompok, dia diundang untuk mengikuti kelompok-kelompok yang lebih kecil di mana dia merasa merupakan bagian dari kelompok tersebut, dan teradikalisasi dengan sangat cepat dan ingin menunjukkan kepada teman-temannya bahwa dirinya sangat berkomitmen terhadap kelomponya itu.
Seorang dokter yang memeriksa kesehatan mental Pollock mengatakan bahwa tindakan pria itu patut dianggap sebagai disfungsi emosional, akibat dari rendahnya kepercayaan diri dan isolasi.
Sementara itu, tim hukum Gorman berusaha membela kliennya dengan beralasan hasil pemeriksaan mentalnya menunjukkan kerentanan, submisif ektrem, dan disebabkan dia seorang pecandu alkohol dan narkoba maka dia memiliki masalah kesehatan jiwa.
Mereka menambahkan bahwa kliennya tidak memiliki catatan sebagai pelaku tindak kekerasan, kebencian atau terorisme.
Ketiga pria itu akan menjalani sidang hukuman pada 30 OKtober 2026.*




