Hidayatullah.com – Penjajah ‘Israel’ kembali mengancam akan membunuh para pemimpin Hamas yang tinggal di luar negeri, dengan menyatakan bahwa mereka berada dalam “bidikan”. Zionis juga bersumpah bahwa tidak ada satu pun pihak yang bertanggung jawab atas peristiwa 7 Oktober yang akan dibiarkan mati dengan tenang.
“Para pemimpin Hamas di luar negeri juga berada dalam bidikan,” ujar Menteri Perang Israel Katz dalam sebuah pernyataan video yang dirilis usai membunuh Izz al-Din al-Bik, komandan Brigade Gaza Utara Hamas, dalam serangan udara di Kota Gaza pada hari Selasa (29/09/2026).
“Tidak boleh ada satu pun dari para pembunuh keji ini—yang memainkan peran sentral dalam pembantaian 7 Oktober—yang dibiarkan mati dengan tenang,” gertaknya.
Ia lantas menyinggung upaya pembunuhan ‘Israel’ terhadap para pemimpin Hamas di Qatar, yang menurutnya gagal akibat gangguan teknis.
“Mereka pernah lolos karena adanya gangguan teknis,” ujarnya. “Namun, kesempatan berikutnya akan tiba, dan mereka pun akan dikirim ke dasar neraka.”
Ancaman ini merupakan sinyal langsung bahwa Zionis ‘Israel’ berniat mengulangi upaya pembunuhan di Qatar tersebut, yang menargetkan para pemimpin politik senior Hamas di Doha.
Qatar menampung biro politik Hamas dan memegang peran sentral dalam setiap putaran perundingan gencatan senjata sejak Oktober 2023.
Ancaman untuk membunuh tokoh-tokoh Hamas di sana juga merupakan ancaman terhadap upaya mediasi. Hal ini membuktikan ‘Israel’ bersedia melancarkan serangan di wilayah negara sekutu demi membunuh orang-orang yang pada saat yang sama sedang menjadi mitra perundingan mereka.
Al-Bik adalah komandan brigade Hamas ketiga yang syahid di tangan penjajah ‘Israel’ dalam beberapa minggu terakhir, bersama dengan komandan brigade Gaza Utara Hamas lainnya, Mohannad Abu Foul, yang syahid dalam serangan udara terpisah pada hari yang sama.
Israel juga telah membunuh Mohammed al-Yazouri, komandan Brigade Khan Younis, serta Faraj Hamad, seorang mantan tahanan Palestina yang telah dibebaskan, dalam beberapa hari terakhir.
Rangkaian pembunuhan ini terjadi di tengah pelanggaran terus-menerus yang dilakukan ‘Israel’ terhadap gencatan senjata yang secara resmi telah berlaku sejak Oktober 2025.*




