Hidayatullah.com– Fenomena lonjakan jumlah penganut ateisme dan agnostisisme di kalangan generasi muda kerap dibingkai sebagai bentuk kebebasan berpikir dan tingkat kecerdasan yang tinggi. Padahal pandangan yang mengidentikkan sikap ateis dengan keunggulan intelektual atau kecerdasan dinilai sebagai anggapan keliru yang berakar dari cacat nalar.
Fenomena ini dinilai krusial mengingat maraknya konten-konten populer di media sosial yang mempropagandakan ateisme dengan balutan bahasa sains modern. Tanpa pemahaman logika yang utuh, narasi tersebut rawan diterima mentah-mentah oleh generasi muda sebagai simbol kehebatan intelektual dan modernitas.
Hal tersebut disampaikan Pakar filsafat Islam Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Prof. Dr. Syamsuddin Arif, Prof. Dr. Syamsuddin Arif, M.A., dalam kuliah umum di Kampus IAI Persis Garut.
Ia menegaskan bahwa klaim superioritas berpikir yang diusung kelompok ateis runtuh ketika diuji menggunakan prinsip-prinsip dasar logika formal.
“Menganggap bahwa ateisme itu identik dengan kecerdasan itu jelas keliru. Karena banyak orang cerdas yang tidak ateis, dan tidak sedikit orang ateis yang goblok,” ujar oleh peneliti senior INSISTS, di hadapan ratusan peserta kuliah umum.
Menurut Syamsuddin, narasi yang dibangun oleh kelompok ateis modern—baik melalui pendekatan empiris, evidensialis, maupun evolusionis—banyak terjebak dalam kesesatan berpikir (logical fallacy).
Kesalahan paling mendasar terletak pada kecenderungan menyimpulkan ketiadaan (non-existence) hanya berdasarkan ketidakterlihatan (non-visibility).
Ia menjelaskan bahwa membatasi keberadaan sesuatu semata-mata pada hal yang dapat divalidasi oleh pancaindra atau metode fisik merupakan bentuk kedangkalan berpikir.
Dalam disiplin filsafat dan logika (ilmul mantik), menyamakan keterlihatan dengan keberadaan adalah kesalahan kategoris.
Syamsuddin juga menyoroti terjebaknya kelompok ateis pada paham sainsisme—sebuah kekeliruan yang menganggap metode ilmiah sebagai satu-satunya jalan menuju kebenaran. Padahal, sains sendiri memiliki batas objektif yang tidak dirancang untuk mengukur hal-hal metafisik.
Kesesatan logika kaum ateis tercermin jelas dalam struktur silogisme empiris yang kerap mereka gunakan
Pertama, Premis Mayor yang Keliru: Kaum ateis berangkat dari premis bahwa “segala sesuatu yang ada harus dapat dibuktikan secara fisik atau kasat mata”. Premis ini cacat secara mendasar karena mereduksi hakikat keberadaan hanya pada materi fisik. Dalam realitas ilmiah sekalipun, banyak hal seperti kesadaran, gravitasi, hingga sinyal elektromagnetik yang diyakini ada meski tidak terlihat oleh pancaindra.
Kedua, Kesalahan Kategoris (Category Mistake): Menggunakan metode empiris-saintifik untuk mengukur atau membuktikan Tuhan adalah kesalahan alat dan ruang lingkup. Sains dirancang untuk meneliti alam semesta yang terikat materi, ruang, dan waktu, sedangkan Tuhan didefinisikan sebagai Pencipta yang tidak terikat oleh hukum materi tersebut.
Ketiga, Kesesatan Argumentum ad Ignorantiam: Kaum ateis menyimpulkan “Tuhan tidak ada” hanya karena “Tuhan tidak/belum bisa dibuktikan secara saintifik”. Dalam kaidah logika, ketidaktahuan atau ketidakmampuan membuktikan sesuatu bukanlah bukti atas ketiadaan hal tersebut.
Oleh karena itu, Syamsuddin menekankan pentingnya penguatan literasi ilmiah dan pemikiran kritis berbasis tradisi keilmuan Islam. Langkah ini dinilai krusial untuk meluruskan kerangka berpikir masyarakat dan menyelamatkan generasi muda dari infiltrasi gagasan ateistik yang rapuh secara metodologis.*




