Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Pakar Filsafat Islam Ini Membedah 7 Cacat Nalar Kaum Ateis

Ahmad
Terakhir diupdate: 3 Oktober 2026 20:41 8:41 pm
Ahmad
Dipublikasikan 3 Oktober 2026 20:41
Bagikan
Dr. Syamsuddin Arif dalam Saturday Forum yang diadakan INSISTS di Jakarta
Bagikan

Hidayatullah.com– Fenomena lonjakan jumlah penganut ateisme dan agnostisisme di kalangan generasi muda kerap dibingkai sebagai wujud kebebasan berpikir, kemajuan intelektual, dan simbol modernitas. Namun, pandangan yang mengidentikkan ateisme dengan keunggulan intelektual dinilai sebagai kekeliruan mendasar yang berakar dari kerangka logika cacat dan pemahaman dangkal atas hakikat keberadaan Tuhan.

Karakteristik utama dari cara pandang kelompok ateis modern adalah memaksakan pendekatan empiris-materiil untuk menilai realitas metafisik. Akibatnya, mereka terjebak pada penyederhanaan yang mereduksi hakikat kebenaran hanya sejauh apa yang divalidasi oleh alat ukur fisik.

Kerangka nalar yang rapuh ini membuat klaim-klaim ateistik yang terkesan ilmiah sebenarnya runtuh ketika diuji menggunakan kaidah logika formal (ilmul mantik).

Hal tersebut dipaparkan oleh Guru Besar Filsafat Islam UNIDA, Prof. Dr. Syamsuddin Arif, M.A., dalam kuliah umum di Kampus IAI Persis Garut. Ia membongkar bagaimana narasi populer ateisme di ranah publik dibangun di atas kesesatan berpikir (logical fallacy).

“Menganggap bahwa ateisme itu identik dengan kecerdasan itu keliru. Karena banyak orang ateis yang goblok,” ujar Syamsuddin di hadapan ratusan peserta kuliah umum hari Selasa (29/9/2026).

Baca Juga

Ateis dan Mitos Kecerdasan: Membedah Cacat Logika dalam Gagasan Ketiadaan Tuhan
Menara Shahi Masjid Ujjain Roboh Saat Dibongkar, Warga Muslim Pertanyakan Prosesnya
Singapura Perketat Aturan Kelas Pelajaran Agama Islam
Kopilot Pelaku Serangan di Pesawat Flydubai Tujuan Tel Aviv Pernah Dilarang Terbang di Oman
Amerika Jatuhkan Sanksi atas Jaringan Pendanaan Hamas

Dalam pemaparannya, Syamsuddin membedah tujuh argumentasi utama yang kerap dijadikan sandaran kaum ateis beserta letak kekeliruan logikanya:

Pertama,  Argumen Empiris. Menurutnya, kaum ateis berargumen bahwa Tuhan tidak ada karena tidak dapat dilihat, disentuh, atau dibuktikan secara fisik. Contohnya, klaim bahwa “Tuhan itu mitos karena sains tidak bisa memotret atau mendeteksi wujud-Nya.”

Menurut Syamsuddin, argumen ini terjebak pada kesalahan kategoris menyamakan ketidakterlihatan (non-visibility) dengan ketiadaan (non-existence). “Menyamakan keberadaan dengan keterlihatan adalah kedangkalan berpikir. Dalam sains sendiri, fenomena seperti gravitasi, kesadaran, dan sinyal elektromagnetik diakui ada meskipun wujudnya tidak kasat mata,” jelasnya.

Kekdua, Argumen Evidensialis. Kaum Ateis selalu menuntut bukti laboratorium yang terukur secara kuantitatif sebagai syarat mutlak untuk mempercayai Tuhan. Contohnya, pertanyaan “Mana bukti laboratorium yang menunjukkan Tuhan itu ada?”

Syamsuddin menyoroti kesalahan metode yang digunakan kelompok ateis. “Ini adalah bentuk memaksakan metode eksperimental alam fisik untuk menguji Sang Pencipta yang tidak terikat oleh materi. Meminta bukti fisik atas zat yang non-fisik adalah cacat metodologi,” tegasnya.

Ketiga, Argumen Evolusionis. Kaum Ateis juga kerap menggunakan teori evolusi biologi untuk menyimpulkan bahwa keanekaragaman hayati terjadi secara kebetulan tanpa intervensi Desainer Agung.

Misalnya mengatakan, manusia ada karena proses seleksi alam acak jutaan tahun, bukan diciptakan Tuhan. Pandangan seperti ini adalah kekeliruan besar dalam membedakan antara mekanisme (how) dan sebab utama (why/first cause).

Syamsuddin menegaskan bahwa “Evolusi—jika pun diterima sebagai proses biologis—hanya menjelaskan tata cara, bukan pencipta hukum evolusi itu sendiri. Menjelaskan cara kerja mesin tidak menghilangkan keberadaan perancang mesin tersebut”.

Keempat, Argumen Infinitis (Infinite Regress).  Kaum Ateis mengajukan pertanyaan berantai untuk menjebak logika keberadaan Pencipta. Contoh argumen yang sering diulang: “Jika segala sesuatu diciptakan Tuhan, lalu siapa yang menciptakan Tuhan?”

“Argumen ini gagal memahami definisi dasar ketuhanan dalam logika.” Syamsuddin lalu menjelaskan, “Pertanyaan tersebut cacat secara silogisme. Tuhan adalah Sebab Pertama (Uncaused Cause) yang tidak terikat oleh hukum sebab-akibat materi. Jika Tuhan diciptakan, maka Dia bukan lagi Tuhan”.

Kelima, Argumen Eternalisme. Kaum Ateis juga menganggap bahwa materi dan alam semesta bersifat kekal, ada dengan sendirinya tanpa titik awal, sehingga tidak memerlukan Pencipta.

Contoh klaim Ateis misalnya: “Alam semesta ini abadi dan berdaur ulang sendiri.”  Padahal pandangan seperti itu bertentangan dengan temuan fisika modern.

“Hukum Termodinamika dan teori pembentukan alam semesta (Big Bang) membuktikan bahwa alam memiliki titik awal dan akan berakhir. Sesuatu yang memiliki permulaan mustahil ada dengan sendirinya tanpa pemicu,” ungkap Syamsuddin.

Keenam, Argumen Apatisme (Problem of Evil). Kaum Ateis juga sering mempertanyakan moralitas Tuhan berdasarkan penderitaan di dunia. Contoh narasi yang sering dilontarkan: “Jika Tuhan Maha Pengasih, mengapa Dia membiarkan adanya bencana, perang, dan anak-anak yang menderita?”

Pandangan ini jelas penyederhanaan atas konsep kehendak bebas (free will) dan tujuan ujian hidup. “Banyak kejahatan terjadi akibat penyalahgunaan kehendak bebas manusia, bukan keharusan menyalahkan Tuhan. Menilai kebijaksanaan Ilahi yang tak terbatas dengan ukuran emosi manusia yang terbatas adalah kesesatan nalar,” jelasnya.

Ketujuh, Argumen Agnostisisme.  Kaum Ateis mengambil posisi skeptis bahwa kebenaran tentang Tuhan tidak mungkin bisa diketahui (unknowable) oleh akal manusia, sehingga memilih pasif. Contoh argument yang sering dilontarkan kaum Ateis: “Akal kita terbatas, jadi tidak usah menyimpulkan Tuhan itu ada atau tidak ada.”

Argumen ini terjerat dalam kesesatan argumentum ad ignorantiam.” Ketidakmampuan atau keengganan seseorang untuk mengetahui sesuatu bukanlah bukti bahwa kebenaran itu tidak ada. Ini adalah bentuk kelumpuhan bernalar yang dibungkus keraguan ilmiah,” tegas Syamsuddin.

Nasihat untuk Generasi Muda

Menutup pemaparannya, Syamsuddin memberikan nasihat mendalam bagi generasi muda agar tidak mudah terombang-ambing oleh narasi-narasi ateistik populer yang beredar pesat di media sosial.

Beliau menekankan pentingnya membangun ketahanan intelektual melalui penguatan literasi logika formal dan kedalaman kajian filsafat Islam. “Generasi muda jangan mudah silau dan minder dengan istilah-istilah keren berbalut sains yang diusung kaum ateis,” pesan Syamsuddin.

Ia mengingatkan bahwa ketajaman berpikir kritis yang sejati justru terletak pada kemampuan membedakan mana kebenaran ilmiah dan mana kesesatan nalar yang disamarkan. Pelajari kerangka pemikiran secara utuh dan kembalilah pada tradisi keilmuan yang kokoh agar tidak terjerat dalam skeptisisme dangkal yang merusak akidah dan nalar sehat.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:agnostisismeAteismecacat logikafilsasat Islamgenerasi mudaHeadlineIntelektualKebebasan Berpikirmodernitas
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ateis dan Mitos Kecerdasan: Membedah Cacat Logika dalam Gagasan Ketiadaan Tuhan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Pustaka

Keadilan dan Kemanusiaan di Balik Jeruji Besi

Pustaka
30 September 2026 10:35
Menara Shahi Masjid Ujjain Roboh Saat Dibongkar, Warga Muslim Pertanyakan Prosesnya
Pentagon Bilang Pasukan Amerika Serikat dan Sekutunya Resmi Mengakhiri Misi di Iraq
Kopilot Pelaku Serangan di Pesawat Flydubai Tujuan Tel Aviv Pernah Dilarang Terbang di Oman
Iseng Buat Gambar Buaya di Waduk Pakai AI Pria di Singapura Terancam Penjara

Terbaru

  • Pakar Filsafat Islam Ini Membedah 7 Cacat Nalar Kaum Ateis
  • Ateis dan Mitos Kecerdasan: Membedah Cacat Logika dalam Gagasan Ketiadaan Tuhan
  • Bulldozer, Masjid, dan Bayang-Bayang Israel di India
  • Menara Shahi Masjid Ujjain Roboh Saat Dibongkar, Warga Muslim Pertanyakan Prosesnya
  • Singapura Perketat Aturan Kelas Pelajaran Agama Islam
  • Kopilot Pelaku Serangan di Pesawat Flydubai Tujuan Tel Aviv Pernah Dilarang Terbang di Oman
  • Amerika Jatuhkan Sanksi atas Jaringan Pendanaan Hamas
  • “Jihad Korporat”, Babak Baru Serangan Politikus India terhadap Muslim
  • Iraq Dapat Pengecualian dari Sanksi Amerika Terkait Penerbangan Iran dari dan ke Najaf
  • Houthi Menarget Gardu Listrik Masjid Nabawi, Kata Koalisi

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

“Jihad Korporat”, Babak Baru Serangan Politikus India terhadap Muslim

3 Oktober 2026 15:37
Berita

Iraq Dapat Pengecualian dari Sanksi Amerika Terkait Penerbangan Iran dari dan ke Najaf

3 Oktober 2026 10:32
Berita

Houthi Menarget Gardu Listrik Masjid Nabawi, Kata Koalisi

3 Oktober 2026 10:17
Raja Yordania Abdullah II
Berita

Menlu AS Bicarakan Perlucutan Senjata Hizbullah dengan Raja Yordania

3 Oktober 2026 09:50
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?