Hidayatullah.com – Dana pensiun syariah terbesar Inggris telah membeli lebih dari 100 juta dolar saham perusahaan-perusahaan yang terkait dengan militer ‘Israel’ di paruh pertama tahun ini, menurut analisa Middle East Eye.
Hal tersebut diketahui setelah Hyphen melaporkan bahwa Islamic Global Equity Index Fund, dana infestasi syariah milik HSBC, telah membeli saham senilai 38 juta dolar AS milik perusahaan teknologi Palantir.
Mayoritas skema dana pensiun halal di Inggris ditempatkan pada dana investasi HSBC tersebut.
Analisis MEE terhadap aktivitas Islamic Global Equity Index Fund selama paruh pertama tahun 2024, sebagaimana dirinci dalam laporan setengah tahunannya, menunjukkan bahwa dana tersebut telah membeli saham senilai 35,7 juta dolar AS di RTX, perusahaan persenjataan terbesar kedua di dunia.
Raytheon, anak perusahaan RTX, bekerja sama dengan raksasa persenjataan Israel, Rafael, untuk memproduksi pencegat (interceptor) bagi sistem pertahanan rudal Iron Dome milik ‘Israel’.
Campaign Against the Arms Trade, sebuah organisasi asal Inggris yang berfokus untuk menghentikan perdagangan senjata internasional, mendeskripsikan Raytheon sebagai “pemasok utama rudal serta berbagai barang dan jasa bagi militer Israel”.
Organisasi tersebut juga menganggap Raytheon “terlibat dalam perang ‘Israel’ di Gaza”.
Melansir MEE pada 14 Oktober lalu, perusahaan ini telah memasok ribuan rudal ke ‘Israel’, termasuk rudal yang dilaporkan digunakan dalam genosida di Gaza. Raytheon juga menyediakan sistem persenjataan dan komponen untuk jet tempur F-15, F-16, dan F-35, yang telah dikerahkan di wilayah kantong Palestina tersebut.
Hingga berita ini ditulis, MEE melaporkan RTX tidak menanggapi permintaan komentar mereka.
Dana investasi HSBC juga membeli saham Analog Devices senilai 20,3 juta dolar AS. Analog Devices merupakan perusahaan semikonduktor asal AS yang pada tahun 2024, saat genosida ‘Israel’ di Gaza berlangsung, mengirimkan komponen-komponen krusial kepada Elbit Systems, produsen senjata terbesar di ‘Israel’.
Elbit memasok 80 persen peralatan untuk angkatan darat ‘Israel’ dan 85 persen pesawat nirawak (drone) tempur yang digunakan oleh militer ‘Israel’.
Analog Devices Inc (ADI) menyatakan kepada MEE: “Sebagai perusahaan terbuka, saham ADI diperjualbelikan di pasar bebas, dan ADI tidak mengarahkan atau mengendalikan keputusan investasi dana mana pun.”
“Produk-produk ADI dijual ke seluruh dunia untuk berbagai macam kegunaan. Seluruh penjualan kami tunduk pada hukum pengendalian ekspor dan sanksi yang berlaku, baik dari AS maupun yurisdiksi lain, termasuk ketentuan perizinan pemerintah jika diwajibkan.”
Komponen buatan Honeywell ditemukan dalam rudal yang menewaskan anak-anak di Gaza
Dana investasi HSBC juga membeli saham senilai $18,9 juta di Honeywell International, sebuah konglomerat AS yang merancang sensor dan perangkat pemandu yang digunakan dalam persenjataan.
Menurut Al Jazeera, Honeywell memproduksi unit pengukuran inersia (inertial measurement unit)—yang berfungsi membantu penargetan presisi—yang ditemukan dalam sebuah rudal yang menyerang sebuah sekolah di Gaza pada Juni 2024.
Serangan tersebut menewaskan sedikitnya 40 warga Palestina, termasuk 14 anak-anak dan sembilan perempuan.
Unit bisnis Honeywell di Inggris juga telah menerima tiga lisensi untuk mengekspor komponen pesawat ke Israel pada tahun 2022 dan 2023.
Honeywell tidak menanggapi permintaan komentar dari MEE.
Pada Selasa, Hyphen melaporkan bahwa dana investasi HSBC telah membeli saham senilai 38,3 juta dolar AS di Palantir.
Sejak tahun 2020, Palantir—perusahaan pengawasan data asal AS yang terkait berbagai pelanggaran Israel di wilayah Palestina yang diduduki—telah memenangkan kontrak senilai lebih dari 670 juta poundsterling di sektor sipil dan pertahanan Inggris.
Pada Januari 2024, Palantir mengumumkan bermitra dengan Kementerian Pertahanan ‘Israel’ untuk penggunaan teknologinya dalam “misi terkait perang”.
Pada April 2025, CEO Palantir, Alex Karp, menanggapi tuduhan bahwa teknologi perusahaannya telah memfasilitasi pembunuhan warga Palestina di Gaza dengan mengatakan, “sebagian besar adalah teroris, itu benar”.
Sebuah laporan yang disusun oleh Pelapor Khusus PBB, Francesca Albanese, pada Juli 2025 menyatakan bahwa “terdapat alasan yang kuat untuk meyakini bahwa Palantir telah menyediakan teknologi kepolisian prediktif otomatis, infrastruktur pertahanan inti untuk pembangunan dan penyebaran perangkat lunak militer secara cepat dan dalam skala besar, serta Platform Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence Platform) miliknya, yang memungkinkan integrasi data medan perang secara waktu nyata (real-time) untuk pengambilan keputusan otomatis”.*




