Hidayatullah.com – Sekitar 133 juta nama, mayoritas warga Muslim, telah dihapus dari daftar pemilih India, menurut Middle East Eye pada Jumat (23/102/26). Penghapusan itu dilakukan pemerintah karena dianggap “tidak memenuhi syarat untuk memilih”.
Sebuah investigasi yang dilakukan The Wire di Benggala Barat menemukan bahwa dari 2,75 juta nama yang dihapus dari daftar pemilih, sekitar 1,8 jutanya adalah Muslim. Padahal, Muslim hanya berjumlah 25 persen dari seluruh pemilih di negara bagian tersebut.
Di beberapa distrik, imbuh The Wire, penghapusan nama warga Muslim bahkan mencapai lebih dari 90 persen. Hal ini juga yang menyebabkan ratusan ribu warga India menggelar aksi demonstrasi di New Delhi.
Sejumlah kritik menyebut banyak pemilih yang memenuhi syarat terdampak penghapusan itu, sebagian besar Muslim dan warga dari kasta Dalit.
Pengakuan warga Muslim
Dari jutaan nama yang dihapus, salah saqtunya adalah Samiudin. Ia telah tinggal di alamat yang sama di Old Delhi selama bertahun-tahun.
Ia bahkan sempat memberikan suaranya dalam pemilihan umum Delhi tahun 2025. Namun, saat draf daftar pemilih untuk program Special Intensive Revision (SIR) diterbitkan kali ini, namanya tidak tercantum.
“Sungguh ironis nama saya tidak ada dalam daftar SIR tersebut. Saya tidak menerima pemberitahuan apa pun dari Komisi Pemilihan Umum India (ECI) saat nama saya dihapus,” ujar pria yang biasa dipanggil Din, seorang pengusaha berusia 44 tahun dari kawasan Nizam Ud Din, Old Delhi, kepada Middle East Eye.
“Sekarang saya diminta untuk mengisi Formulir 6—sebuah permohonan untuk mendaftar sebagai pemilih baru—yang jelas merupakan pernyataan tidak benar dan dapat berkonsekuensi hukum,” tambahnya.
Din mengaku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dan merasa tertekan untuk menyerahkan formulir tersebut. Pemilihan umum India berikutnya akan diselenggarakan pada tahun 2029.*




