Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Krisis Identitas Berawal dari Cara Berpikir, Keluarga jadi Benteng Terakhir Peradaban

Dija
Terakhir diupdate: 12 Agustus 2026 06:32 6:32 am
Dija
Dipublikasikan 25 Juli 2026 10:49
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com— Krisis keluarga Muslim saat ini bukan semata dipicu persoalan ekonomi atau derasnya arus teknologi, tetapi berawal dari krisis cara berpikir yang melahirkan krisis identitas. Dampaknya terlihat dari meningkatnya angka perceraian, memudarnya adab anak kepada orang tua, hingga berbagai penyimpangan perilaku yang mengkhawatirkan.

Hal itu disampaikan Dr. Wido Supraha dalam sesi I “INSISTS Camp bertema Bina Ketahanan Keluarga untuk Generasi Berdaya” 2026/1448 di Robinson Cisarua Resort, Bogor.

Dalam agenda tahuna Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) tersebut, pendiri Sekolah Adab itu menegaskan bahwa pendidikan Islam harus dimulai dari pembentukan cara berpikir.

“Pendidikan Islam dimulai dari kebiasaan berpikir. Al-Qur’an datang bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk melahirkan pemikiran,” ujarnya mengangkat topik “Jadi Diri Muslim dalam Terpaan Krisis Identitas: Menyemai Kemuliaan Islam di Tengah Keluarga.”

Menurut bapak empat anak itu, perintah pertama yang turun kepada Nabi Muhammad ﷺ adalah “Iqra'”, bukan shalat atau zakat. Perintah membaca menunjukkan bahwa Islam membangun manusia melalui akal dan cara berpikir yang benar.

Baca Juga

Bandara Riyadh Kembali Melayani Penerbangan Internasional
Sebagian Pecahan Rudal Balistik Houthi Jatuh di Mekah
Gereja di Yordania Diserang, Raja Abdullah Janji akan Menuntut Balas
Didanai Beijing, Pentagon Anggap Confucius Institutes Ancaman Bagi Keamanan Negara AS
Lebih dari 100 Juta Nama Dihapus dari Daftar Pemilih India, Mayoritas Muslim

“Istilahnya boleh berubah, hari ini critical thinking, besok deep learning. Tetapi hakikatnya tetap sama, yaitu membiasakan manusia berpikir,” ujarnya.

Ia menambahkan, seseorang yang belajar agama, mondok, bahkan menghafal Al-Qur’an, tetapi tidak dibiasakan berpikir, belum benar-benar memasuki fondasi pendidikan Islam.

Wido kemudian menjelaskan makna tadabbur sebagai kemampuan melihat akibat sebelum mengambil keputusan.

“Kalau menikah umur 24 tahun, umur 47 anak pertama sudah kuliah. Sebelum memulai sesuatu, lihat dulu ujungnya.”

Krisis Identitas Berawal dari Rumah

Menurutnya, banyak orang menyalahkan media sosial atau teknologi sebagai penyebab rusaknya generasi muda, padahal akar persoalannya justru berada di dalam keluarga.

Ia menyinggung meningkatnya angka perceraian, anak yang kehilangan adab dan rasa hormat kepada orang tua, kenakalan remaja, hingga penyimpangan perilaku. Namun semua itu, katanya, hanyalah gejala.

“Penyakit yang sebenarnya adalah rapuhnya worldview.”

Worldview adalah cara memandang kehidupan. Ketika keluarga kehilangan worldview Islam, mereka kehilangan arah dalam menghadapi persoalan.

Pengalaman mendampingi berbagai lembaga pendidikan memperkuat keyakinannya. Ia pernah menemukan sebuah lembaga yang tampak baik dari luar, tetapi setelah ditelusuri hampir separuh keluarga siswanya memiliki persoalan.

“Bukan karena ekonomi atau orang ketiga, tetapi karena suami tidak memahami istrinya dan istri tidak memahami suaminya. Kelihatannya sederhana, tetapi komunikasi keluarga tidak terbangun,” ujarnya.

Menurutnya, benteng terakhir keluarga bukan harta atau jabatan, melainkan worldview yang dibangun di atas Al-Qur’an.

Rumah Tangga Bukan Grup WhatsApp

Di tengah pemaparannya, Wido mengingatkan agar budaya media sosial tidak dibawa ke dalam rumah tangga.

“Kalau di media sosial suka tinggal join, bosan tinggal left. Pernikahan bukan grup WhatsApp.”

Ia menilai banyak pasangan terlalu cepat menjadikan perceraian sebagai jalan keluar.

Ia kemudian menceritakan pasangan muda yang aktif mengikuti kajian Islam, tetapi hampir bercerai. Setelah didalami, masalah mereka ternyata sangat sederhana. Sang suami selalu berjalan di depan, sedangkan istrinya berjalan di belakang. Mereka hampir tidak pernah bergandengan tangan.

Dari pengalaman itulah ia sering menggunakan istilah The Power of Handshake.

“Kadang rumah tangga tidak membutuhkan teori yang rumit. Yang dibutuhkan adalah kembali saling mendengar, saling memperhatikan, dan saling menggenggam tangan.”

Setelah diminta membiasakan berjalan berdampingan dan membangun komunikasi, beberapa tahun kemudian pasangan tersebut tetap hidup harmonis.

Kisah lain datang dari pasangan yang ingin bercerai hanya karena suami membalas pesan WhatsApp teman perempuan semasa SMA.

Alih-alih menyetujui perceraian, ia meminta mereka mengambil cuti selama sepekan dan bepergian berdua. Beberapa tahun kemudian mereka mengabarkan rumah tangganya kembali harmonis.

“Banyak keluarga sebenarnya tidak membutuhkan perceraian, tetapi membutuhkan komunikasi,” ujarnya.

Jangan Letakkan Ilmu di Bawah Ego

Mengutip data perceraian di Indonesia, Wido mengatakan penyebab terbesar perceraian bukan poligami ataupun kekerasan dalam rumah tangga, melainkan pertengkaran dan perselisihan.

Karena itu, ia mengingatkan agar pasangan tidak menempatkan ilmu di bawah ego. “Jangan baper, bawa perasaan. Tapi baim, bawa ilmu.”

Saat terjadi perbedaan pendapat, katanya, yang menjadi rujukan haruslah Al-Qur’an dan Sunnah, bukan emosi.

Ia juga mengajak generasi muda merancang keluarga sejak masa ta’aruf. Menurutnya, pertanyaan penting bukan lagi soal hobi atau makanan favorit, melainkan arah kehidupan keluarga.

“Kalau nanti kita menikah, keluarga ini mau dibawa ke mana? Kalau kita berselisih, apa yang menjadi pegangan kita?”

Menutup ceramahnya, Wido menegaskan bahwa membangun peradaban dimulai dari keluarga.

“Untuk tampil di panggung peradaban tidak dimulai dari ruang DPR, tetapi dimulai dari meja makan rumah tangga.”

Menurutnya, dari rumah dan meja makan itulah lahir komunikasi, nilai-nilai Islam diwariskan, worldview dibangun, dan generasi berdaya dipersiapkan.

Kegiatan INSISTS Camp 2026 Batch 3 yang berlangsung pada 24–26 Juli 2026 menghadirkan rangkaian sesi spiritual, intelektual, dan diskusi interaktif bersama para cendekiawan Muslim terkemuka seperti; Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, Prof. Dr. Syamsuddin Arif, Assoc. Prof. Dr. Ugi Suharto,  Dr. Nirwan Syafrin Manurung,  Dr. Henri Shalahuddin, Dr. Akmal Sjafril, dan Arif Afandi Zarkasyi, M.A.

Acara ini diselenggarakan atas kerjasama INSISTS dengan “Direktorat Bina KUA dan Keluarga Sakinah”.*

Redaktur: Dija
Wartawan: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Generasi BerdayaHeadlineINSISTSINSISTS Campketahanan keluarga Muslimkomunikasipendidikan berbasis al-Qur'anworldview Islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ketua Umum MUI Usulkan Danantara Syariah Indonesia untuk Perkuat Ekonomi Umat
Tulisan selanjutnya Tak Cukup Bermodal Cinta, Keluarga Harus Dibangun di Atas Maqasid Syariah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Jelang Pemilu ‘Israel’, Trump Dukung Netanyahu Terpilih Kembali

Berita
20 Oktober 2026 21:55
Cegah Data Jatuh ke Tangan ‘Israel’, Malaysia Larang ASN Pakai Waze
Terus Langgar Gencatan Senjata, Serangan ‘Israel’ Bunuh 4 Warga Palestina
Gereja di Yordania Diserang, Raja Abdullah Janji akan Menuntut Balas
Jutaan Dolar Dana Nasabah Syariah HSBC Diduga Mengalir ke Perusahaan Senjata terkait ‘Israel’

Terbaru

  • Bandara Riyadh Kembali Melayani Penerbangan Internasional
  • Sebagian Pecahan Rudal Balistik Houthi Jatuh di Mekah
  • Gereja di Yordania Diserang, Raja Abdullah Janji akan Menuntut Balas
  • Didanai Beijing, Pentagon Anggap Confucius Institutes Ancaman Bagi Keamanan Negara AS
  • Lebih dari 100 Juta Nama Dihapus dari Daftar Pemilih India, Mayoritas Muslim
  • Yunani Sahkan Larangan Media Sosial bagi Anak di bawah 15 tahun
  • Dua Tentara Penjajah ‘Israel’ Tewas dalam Baku Tembak di Tepi Barat
  • Cegah Data Jatuh ke Tangan ‘Israel’, Malaysia Larang ASN Pakai Waze
  • Kelas SPI: Teguh dengan Konsep Din, Lawan Penyimpangan Literasi
  • Jihad Santri di Era Modern

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Yunani Sahkan Larangan Media Sosial bagi Anak di bawah 15 tahun

24 Oktober 2026 12:58
Berita

Dua Tentara Penjajah ‘Israel’ Tewas dalam Baku Tembak di Tepi Barat

24 Oktober 2026 10:13
Berita

Kelas SPI: Teguh dengan Konsep Din, Lawan Penyimpangan Literasi

23 Oktober 2026 20:19
Berita

Sepakati ‘Badr’, Indonesia Perkuat Kerjasama Pertahanan dengan Turki, Qatar dan Pakistan

22 Oktober 2026 10:33
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?