Hidayatullah.com – Mesir menyatakan siap membela Arab Saudi “jika diminta,” di tengah meningkatnya ketegangan dan konflik dengan milisi Houthi di Yaman.
Kesiapan tersebut ditegaskan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi pada Sabtu dalam pidatonya pada sebuah kegiatan akademi militer.
“Mesir, tentu saja, dengan arahan dari Yang Mulia Raja Salman dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman, akan mengambil langkah apa pun untuk melindungi atau membela Anda,” kata al-Sisi.
Presiden ke-6 Mesir itu menyatakan pemerintahnya tidak akan tinggal diam sementara Arab Saudi “terancam keamanannya.”
Sisi menegaskan bahwa Mesir “tidak sedang mencari peran” dalam konflik regional dan bahwa pengerahan pasukan apa pun akan memerlukan persetujuan parlemen.
“Saya tidak berbicara tentang memerangi siapa pun atau menyerang siapa pun,” katanya. “Kita hanya berbicara mengenai pertahanan.”
Sejak perang di Yaman berkobar kembali pada bulan Juli, milisi Houthi telah berulang kali menyerang target-target di Arab Saudi, termasuk fasilitas energi dan bandara internasional Riyadh, di mana 13 orang tewas dalam satu serangan pekan lalu.
Milisi yang didukung Iran itu juga telah memblokade Selat Bab al-Mandab, yang membuat aliran energi dunia terhambat. Sedangkan Selat Hormuz masih berada dalam blokade Iran.
Laut Merah Jadi Kepentingan Bersama
Konflik yang terjadi di Timur Tengah berdampak signifikan bagi Mesir. Menurut Menlu Mesir Badr Abdellaty pada bulan lalu, Terusan Suez telah kehilangan pendapatan hingga 11 miliar dolar AS, sejak Houthi mulai menyerang kapal-kapal komersial pada tahun 2023—tahun dimulainya perang ‘Israel’ di Gaza.
Bagi Arab Saudi, konflik menjadi ancaman terhadap keamanan dan sektor energi mereka.
Dalam kunjungan ke Mesir bulan lalu, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dan Presiden Sisi menyerukan kebebasan dan keamanan navigasi di Laut Merah, yang merupakan jalur perdagangan vital.
Meskipun memiliki hubungan militer yang telah lama terjalin dengan negara-negara Teluk, Mesir tidak bergabung dengan “Perjanjian Mekkah” (Mecca agreement), sebuah pakta pertahanan bersama yang ditandatangani oleh Arab Saudi, Turki, dan Pakistan pada bulan Agustus lalu.*




