Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Politisi PDIP: Negara Wajib Selesaikan Masalah Tenaga Honorer

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 25 Juli 2018 20:11 8:11 pm
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 25 Juli 2018 20:11
Bagikan
Demo guru honorer tahun 2015
Bagikan

Hidayatullah.com– Anggota Komisi II DPR RI, Komarudin Watubun, meminta pemerintah daerah (pemda) dalam hal ini Bupati/Wali Kota dan Gubernur, untuk tidak seenaknya mengangkat tenaga honorer.

Pasalnya kata dia, menumpuknya jumlah tenaga honorer saat ini, adalah akibat dari para pemimpin daerah yang mengangkat pegawai tanpa mempertimbangkan anggaran serta peruntukkannya.

“Jangan asal dan seenak udelnya,” ujarnya dalam siaran persnya, Rabu (25/07/2018) di Jakarta diterima hidayatullah.com.

Menumpuknya persoalan tenaga honorer kata dia, berawal dari tidak adanya komando yang jelas.

“Jadi mereka ini diangkat suka-suka oleh kepala daerah. Tidak ada kejelasan berapa pegawai yang sesuai dengan kebutuhan,” papar politisi asal Papua itu.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Baca: DPD Minta Jokowi Punya Solusi Soal Guru Honorer yang Akan Kepung Istana

Harusnya kata dia, para kepala daerah juga harus tahu, idealnya berapa orang yang dibutuhkan negara dan daerah.

“Jadi saya melihat, penyakit ini karena ada kepentingan segelintir keluarga atau bahkan timses kepala daerah,” urainya.

Yang pada akhirnya, kata Komarudin, jumlah tenaga honor tidak bisa dikendaikan.

“Menurut informasi, yang dulu saya dapat dari Menteri Yuddy kepada kami di Komisi II, memang indikasinya sebagian itu. Waktu itu kami sudah meminta selesaikan, tapi tidak selesai. Nah, kenapa angkanya begitu besar? Karena di daerah itu Bupati, Gubernur seenaknya saja angkat mereka,” bebernya.

Baca: Ketua PGRI: Satu Juta Guru Honorer Dizalimi

Masalah lainya, lanjutnya, adalah tenaga honorer kebanyakan direkrut tanpa kompetisi yang jelas.

“Jadi ketika mereka nantinya diangkat menjadi ASN, ya keterampilannya ngasal. Hanya modal karena tugas sudah lama, dan hanya mengikuti seleksi secara administrasi, kan jadi dilema juga. Kalau tak diangkat ya kasihan juga kan,” paparnya.

“Jadi saya minta kepada Presiden Jokowi, yang memiliki sisa jabatan setahun ini, tolonglah selesaikan. Minimal fokus kepada tenaga pendidikan dan medis, ingatkan para kepala daerah itu,” pintanya.

Apa pun alasannya, imbuh dia, masalah kategori 2 (K2) harus diselesaikan.

“Ini hak hidup warga negara. Ini amanat konstitusi untuk hak hidup warga negara. Mereka sudah mengabdi kepada negara. Jadi jangan digantung-gantung hak mereka itu,” tandasnya.

“Jangan digantung-gantung hak mereka, selesaikan, jangan diwariskan ke pemimpin berikutnya,” desaknya.

Baca: BOS Belum Cair, Guru Honorer Madrasah Belum Terima Gaji

Kasus ini, kata dia, sejatinya adalah penyakit yang diwarisi dari rezim ke rezim. Yang akhirnya, jadi menumpuk.

“10 tahun sudah masalah honorer tak selesai, bahkan dari zaman SBY dan diwariskan ke Jokowi. Saya berharap, mudah-mudahan Jokowi bisa menyelesaikannya. Jangan diwariskan lagi,” pinta politisi PDIP ini.

Masih kata Watubun, pihak Komisi II DPR juga mendorong pemerintah, agar menggunakan hak inisiatif, guna mengubah UU ASN.

“Supaya ada ruang penyelesaian masalah warisan ini. Dalam pengajuan hak inisiatif DPR, pemerintah belum mengajukan DIM (Daftar Inventarisasi Masalah, Red). Pemerintah harus menugaskan Kementerian terkait guna melakukan tugas ini. Jadi sekali lagi, negara wajib selesaikan ini. Jangan sampai diwariskan ke pemerintahan berikutnya,” pungkasnya.*

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:anggota Komisi II DPR RIASNbupatiDaftar Inventarisasi MasalahDIMGubernurguruhonorerJoko widodoJokowiKomarudin WatubunKomisi II DPR RIPDIPPemdaPemerintah DaerahPNSpolitisi Papuapolitisi PDIPPresiden Joko Widodotenaga honorerUU ASNWali kota
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Masjid Jami Mukhtar di Durban Afsel Dibakar Orang
Tulisan selanjutnya Pimpinan Kelompok Moro Filipina Sambut baik UU Otonomi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

PBB Catat Kenaikan Angka Kemiskinan Dunia, 1 Miliar Orang Terdampak

Berita
13 Oktober 2026 05:30
Serangan Drone Paramiliter Sudan Tewaskan 41 Orang Dekat Perbatasan Ethiopia
Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
Zionis Sebut Belanda Sarang Anti-Semit usai Suporter ‘Israel’ Dilarang Tandang
Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat

Terbaru

  • Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?