Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kajian

Menembus Pintu Langit:  Kandungan Doa Ashabul Kahfi (2)

Ahmad
Terakhir diupdate: 8 Januari 2025 05:38 5:38 am
Ahmad
Dipublikasikan 5 Januari 2025 13:45
Bagikan
Bagikan

Kandungan doa Ashabul Kahfi tentang rahmat Allah –berupa segala keperluan, keamanan dan perlindungan—kepada mereka yang didzalimi, yang ketakutan, dan yang dikejar-kejar karena memperjuangkan iman

Daftar isi
  • Memohon rahmat Allah dalam menghadapi kesulitan
  • Memohon Kebaikan dalam Segala Urusan
  • Kandungan Doa Ashabu al-Kahfi
          • Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Memohon rahmat Allah dalam menghadapi kesulitan

فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً

Lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu.”

Al-Qasimi (w. 1332 H) di dalam Mahasin at-Ta’wil (7/8) menafsirkan (رَحْمَةً) pada ayat di atas dengan ampunan, rezeki, dan rasa aman dari gangguan para musuh.

Dalam keadaan kesulitan dan rasa takut yang begitu mencekam, para pemuda memohon rahmat dan kasih sayang Allah, karena hanya dengan rahmat-Nya, manusia akan terhindar dari segala marabahaya.

Baca Juga

KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
KH. Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
Jika Bumi Menutup Semua Pintu, Ketuklah Pintu Langit!
Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
Teladan Umar bin Khattab Ra. dalam Mengatasi Problem Gratifikasi

Dan hanya dengan rahmat-Nya, manusia tidak akan merugi di dalam kehidupan dunia ini. Allah berfirman,

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS: al-A’raf: 23)

Nabi Adam memahami bahwa kesuksesan dan kemenangan itu dengan mendapatkan ampunan dan rahmat-Nya. Sebaliknya, kerugian dan kesengsaraan jika jauh dari ampunan dan rahmat-Nya.

Ini dikuatkan dengan firman Allah,

إِنَّهُ كَانَ فَرِيقٌ مِنْ عِبَادِي يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ

“Sesungguhnya, ada segolongan dari hamba-hamba-Ku berdoa (di dunia): “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik.” (QS: al-Mu’minun: 109)

Doa pada ayat di atas menurut Mujahid sebagaimana yang disebutkan oleh al-Qurthubi di dalam al-Jami li Ahkami al-Qur’an (12/138) adalah doa yang diucapkan oleh para sahabat dari golongan lemah. Diantara mereka adalah Bilal bin Rabah, Khabab bin al-Arat, dan Shuhaib bin Sinan ar-Rumi.

Ini juga dikuatkan di dalam firman-Nya,

وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ

“Dan katakanlah: “Ya Tuhanku berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling baik”.” (QS: al-Mu’minun: 118)

Berkata Ibnu Katsir di dalam Tafsir al-Qur’an al-’Azhim (5/502), “Ar-Rahmah pada ayat di atas artinya semoga Allah meluruskan dan memberikan taufik kepada seluruh perkataan dan perbuatan.”

Berkata al-Alusi di dalam Ruhu al-Ma’ani (13/305), “Doa ini disebut secara khusus oleh Allah (di dalam ayat ini) menunjukkan betapa pentingnya doa tersebut. Dan ini pernah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ kepada Abu Bakar ash-Shiddiq.”

Doa yang dimaksud adalah apa yang tersebut di dalam hadits Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu,

وَعَنْ أَبِي بَكْرٍ اَلصِّدِّيقِ رضي الله عنه أَنَّهُ قَالَ لِرَسُولِ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – عَلِّمْنِي دُعَاءً أَدْعُو بِهِ فِي صَلَاتِي . قَالَ قُلْ : ” اَللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا , وَلَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ , فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ , وَارْحَمْنِي , إِنَّكَ أَنْتَ اَلْغَفُورُ اَلرَّحِيمُ

“Dari Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu bahwa dia berkata kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Ajarkanlah padaku doa yang aku baca dalam shalatku.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Ucapkanlah: ‘Ya Allah sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri dan tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu dan kasihanilah diriku sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ قَرَأَ فِي أُذُنِ مُبْتَلًى، فَأَفَاقَ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: ” مَا قَرَأْتَ فِي أُذُنِهِ؟ ” قَالَ: قَرَأَتُ: (أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا)، حَتَّى فَرَغَ آخِرُ السُّورَةِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: ” لَوْ أَنَّ رَجُلًا مُوقِنًا قَرَأَ بِهَا عَلَى جَبَلٍ لَزَالَ

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwasanya suatu ketika beliau membacakan sesuatu di dekat telingan orang yang sedang sakit kemudian orang tersebut sembuh. Rasulullah ﷺ bertanya kepada ‘Abdullah bin Mas’ud, “Apa yang kamu baca di telinganya?” Beliau menjawab, “Aku membaca (Afahasibtum annama khalaqnakum abatsa…) QS: al-Mu’minun: 115-118.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Seandainya seseorang membacanya dengan penuh keyakinan di depan di gunung, niscaya akan hancur lebur.” (HR. Abu Ya’la. Berkata al-Haitsami di dalam Majmau az-Zawaid (5/115), “Di dalamnya terdapat Ibnu Lahi’ah, dia adalah dha’if. Padahal haditsnya hasan. Adapun sisa perawinya adalah perawi yang yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim).

(5) Di dalam doa ketika tertimpa bencana disebutkan dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

دَعَوَاتُ الْمَكْرُوبِ: اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ 

“Doa-doa ketika terkena bencana dan musibah, ‘Wahai Allah, hanya rahmat-Mu yang aku harapkan, maka janganlah Engkau menyerahkan aku kepada diriku sendiri meski hanya sekejap mata dan perbaikilah seluruh urusanku. Tiada Ilah Yang berhak disembah selain Engkau.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Di dalam doa di atas disebutkan bahwa rahmat Allah satu-satunya harapan di saat bencana menimpa seseorang. Rahmat Allah merupakan solusi dari segala problematika hidup, bahkan dengan rahmat-Nya saja seluruh urusan akan menjadi baik.

Memohon Kebaikan dalam Segala Urusan

وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

“Dan sediakan untuk kami petunjuk yang benar dalam segala urusan.”

(1) Menurut Ibnu ‘Asyur (w. 1393 H) di dalam at-Tahrir wa at-Tanwir (15/267) terdapat perbedaan sedikit antara lafazh ar-Rasyadu (الرَّشَدُ) dengan ar-Rusydu (الرُّشْدُ).

Adapun ar-Rasyadu seperti dalam ayat ini adalah kebaikan dan ketepatan dalam bertindak, manfaat serta perbaikan. Adapun ar-Rusydu dalam QS: an-Nisa: 6, artinya mirip dengan di atas, tetapi lebih kepada kecakapan dalam mengatur keuangan.

(2) Sebagian menyimpulkan bahwa lafadz  ar-Rasyadu (الرَّشَدُ) dan pecahannya mempunyai tiga arti:

(a) Pertama, ar-Rasyadu (الرَّشَدُ) artinya baik, benar dan beres, atau kebaikan dan ketepatan dalam bertindak

Sebagian orang mengetahui sesuatu yang baik dan benar, tetapi tidak mampu mengerjakannya. Oleh karenanya, kita meminta pertolongan Allah untuk bisa melaksanakan kebaikan tersebut. Hal ini mirip dengan firman Allah,

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS: al-Fatihah: 5)

(b) Kedua, ar-Rasyidu (الرَّاشِدُ) artinya cinta kepada ketaatan dan benci kepada kemaksiatan. Allah berfirman,

وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

“Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (QS: al-Hujurat: 7)

(c) Ketiga, ar-Rusydu (الرُّشْدُ) berarti juga jalan kebenaran lawan jalan kesesatan. Sebagaimana firman Allah

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS: al-Baqarah: 256)

Kandungan Doa Ashabu al-Kahfi

(1) Doa pertama (رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً) menggambarkan hubungan vertikal antara Allah dan hamba-Nya. Sedangkan dalam doa yang kedua (وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا) menunjukkan hubungan horizontal antara sesama manusia.

Di dalam berdoa seseorang membutuhkan dua hubungan tersebut. Dia harus secara terus menerus mempererat hubungan dengan Allah, dengan mengikhlaskan amal dan mengharap ridha-Nya, mensucikan, memuji, mengagungkan serta mentauhidkan-Nya. Ini terwujud dengan empat doa yaitu: ‘Subhanallah, walhamdulillah, wa Laa ilaha Ilallah, wallahu Akbar.’

Begitu juga dia harus mempererat hubungan dengan sesama manusia untuk memperbaiki urusan dunia. Menyelesaikan segala problematika dan urusan dunia. Al-Qurthubi di dalam al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an (10/312) menyebutkan perkataan Ibnu ‘Abbas bahwa maksud doa ini adalah memohon kepada Allah agar mereka bisa keluar dari gua tersebut dengan selamat.

Ternyata jalan keluar yang Allah berikan adalah mereka ditidurkan selama 309 tahun sampai penguasa kafir yang mengejar mereka telah mati, dan diganti dengan penguasa yang beriman. Ketika bangun dari tidur panjang, dan keluar dari gua, mereka mendapatkan penguasa yang baik dan melindungi mereka.

Inilah buah dari doa Ashabul Kahfi yang sangat dahsyat. Hendaknya setiap muslim yang mempunyai problematika yang tidak kunjung selesai, untuk berdoa dengan doa ini. Semoga Allah memberikan jalan keluar baginya, sebagaimana Allah memberikan jalan keluar kepada Ashabul Kahfi.

(2) As-Sa’di (w. 1376 H) di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman (1/471) menjelaskan bahwa doa Ashabul Kahfi di atas adalah doa yang menggabungkan antara usaha manusia (yang berupa lari dari kekejaman penguasa, kemudian mencari tempat persembunyian yang aman) dengan kepasrahan mereka kepada Allah tanpa tergantung kepada manusia.

Oleh karenanya, Allah mengabulkan doa mereka dan memberikan jalan keluar dari arah yang tidak disangka.*/ Dr. Zain Annajah,  Pusat Kajian Fiqih Indonesia (PUSKAFI)

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Ashabul KahfiDoa Ashabul Kahfidoa didzalimidoa keamanandoa perlindungandoa rasa takutHeadlineKandungan doa Ashabul KahfiRahmat Allah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Konsepsi Ilmu Islam vs Barat
Tulisan selanjutnya Studi: Setiap Batang Rokok Merampas 20 Menit Kehidupan Perokok

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Intelijen Maroko Dituding Mematai Jurnalis dan Aktivis HAM

Berita
4 Oktober 2026 17:00
Bentuk Kantor Urusan Keagamaan, Menhan AS Kaitkan Perang Fisik dengan Pertempuran Spiritual
Masjidil Aqsha Terus Diserbu Pemukim, Ulama Palestina Serukan ‘Jumat Kemarahan’
Temuan BRIN, Bahaya Vape: 100% Berdampak Diabetes, 92% pada Paru-Paru
Houthi Menarget Gardu Listrik Masjid Nabawi, Kata Koalisi

Terbaru

  • Sekitar 2.200 Kerabat Terduga Petempur ISIS Masih Ditahan Pasukan Kurdi Suriah
  • KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
  • Bentuk Kantor Urusan Keagamaan, Menhan AS Kaitkan Perang Fisik dengan Pertempuran Spiritual
  • Menteri PertahananAS Kutip Alkitab dan Serukan Perang terhadap “Kaum Islamis”
  • Aljazair Berlakukan Hukuman Mati Bagi Arsonis Penyebab Kebakaran Hutan dan Lahan
  • Intelijen Maroko Dituding Mematai Jurnalis dan Aktivis HAM
  • Amerika Serikat Usir Dua Diplomat Iran Usai Sidang Majelis Umum PBB
  • Lima Orang Didakwa di Prancis Terkait Pendanaan Hamas
  • Amerika Serikat Umumkan Kontrak $24,4 Miliar untuk Mempercepat Produksi Rudal
  • Dua Pria Iran Didakwa Berencana Serang Yahudi Manchester

Mungkin Anda Juga Suka

Kajian

Al-‘Aqabah: Jalan Terjal Menuju Peradaban Fitrah

15 September 2026 13:13
Kajian

Merdeka Bersuara, Bukan Merampas Ketenangan: Sound Horeg dalam Syariat

22 Agustus 2026 11:43
Kajian

Atas Jasa Ulama Madzhab, Ijtihad Tidak Lagi Harus Dari Nol

22 Agustus 2026 10:58
Sejarah

Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo

17 Agustus 2026 07:05
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?