Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
ArtikelSejarah

Jong Islamieten Bond (JIB) yang Sangat Modern

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 6 April 2022 13:10 1:10 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 6 April 2022 14:30
Bagikan
Jong Islamieten Bond (JIB) yang sangat modern
Bagikan

Perhimpunan Pemuda Islam atau dikenal Jong Islamieten Bond (JIB) yang sangat modern, bisa berkompetisi dengan peranakan atau anak-anak Belanda, yang merasa superior dari pribumi

oleh: Rosdiansyah

Hidayatullah.com | JONG ISLAMIETEN BOND (JIB) fenomena tak tergantikan. Minimal sulit menyamainya, sebab jaman sudah berbeda. Adalah Mohammad Natsir, Kasman Singodemejo, Jusuf dan Mohammad Roem, kuartet motor penggerak JIB di tengah perubahan zaman.

Ketika Jepang akan tiba di negeri khatulistiwa, Belanda takut tiada tara. Pegiat JIB berbagi cara menyiasati era yang berubah.

Mohammad Natsir siswa Algemeene Middelbare School (AMS) angkatan 1927 di Bandung. Ia adik kelas M Sjahrir. Natsir seangkatan Mohammad Roem di AMS Bandung.

Baca Juga

Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
KH. Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
Keadilan dan Kemanusiaan di Balik Jeruji Besi
Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam

Walau berbeda etnis, keduanya dipersatukan gairah ”Need for Achievement” (NAc) berkompetisi menghadapi anak-anak Belanda atau peranakan Belanda yang selalu merasa superior dihadapan pribumi. Jika Sjahrir sibuk dengan klub debat ”Patriae Scientifiqiae” (Ibu Pertiwi dan Pengetahuan), maka Natsir bersama Roem aktif di Jong Islamieten Bond (JIB) Bandung.

JIB Bandung ini unik, ketika pertama kali dibentuk 1926, justru langsung diketuai mojang priangan asli Bandung, Emma Poeradiredja. Emma tidak berhijab, tapi ia seorang muslimah taat.

Ia lahir besar dari keluarga bangsawan Sunda (menak). Semula, Emma aktif di Jong Java, namun ia merasa Jong Java kurang pas karena menonjolkan etnisitas Jawa, kurang modern dan kesukuan.

Begitu JIB terbentuk di Bandung, Emma pindah ke Jong Islamieten Bond lalu didaulat sebagai ketua. JIB sendiri dibentuk di Batavia oleh Samsurijal pada 1 Maret 1925, lalu bersama Haji Agus Salim, Samsurijal membentuk cabang JIB di Bandung pada 1926.

Banyak anggota Jong Java yang menyeberang ke Jong Islamieten Bond. Para anggota JIB terbiasa memakai bahasa Belanda dalam bercakap-cakap. Itulah bahasa sehari-hari mereka.

Mereka tak terbiasa memakai bahasa Indonesia. Ukuran modern kala itu, untuk menghadapi Belanda.

George McT Kahin Indonesianis AS, sohib karib M Natsir, menulis obituari dalam jurnal Indonesia pada tahun 1993, bahwa Natsir baru masuk JIB pada 1929. Artinya, dua tahun setelah bersekolah di AMS Bandung. Sebelumnya, Natsir sudah aktif di Persatuan Islam (Persis) Bandung.

Natsir sangat terkesan pada sosok Dr Van Bessem, kepala sekolah AMS Bandung. Dari Van Bessem inilah Natsir belajar bahasa Latin, Yunani, Prancis, Jerman dan Inggris. Gemblengan AMS Bandung menjadikan Natsir sangat menguasai bahasa Latin, selain bahasa Belanda dan Inggris, sangat modern jaman itu.

Setiap kali bertemu Roem, Jusuf Wibisono (seangkatan dengan Sjafruddin di AMS) dan Sjahrir, mereka selalu ngobrol dalam bahasa Belanda. Di tangan M Natsir, JIB Bandung berkembang pesat, apalagi JIB sering menggelar acara diskusi dalam bahasa Belanda di dalam salah-satu ruang sekolah AMS.

Van Bessem memperbolehkan pemakaian ruangan itu, karena Van Bessem berwatak terbuka. Ia sumringah melihat anak-anak didiknya piawai mengolah kata, berdebat serta doyan baca.

Seluruh buku milik Van Bessem dibaca tuntas para aktivis JIB. Mereka sudah menjelajah dunia literasi saat masih belia, bahkan para aktivis JIB sangat tahu apa isi Das Kapital, dll.

Tahun 1929, Sjahrir lulus AMS, ia diterima di fakultas hukum Amsterdam Universiteit. Sedangkan Natsir lulus AMS pada 1930, ia sebenarnya sudah memperoleh dua beasiswa, yaitu ke Leiden untuk belajar hukum dan ke Rotterdam untuk belajar ekonomi.

Namun, Natsir memilih ke sekolah guru (kweekschool) agar ia punya dasar untuk mengembangkan lembaga Pendidikan Islam (Pendis) yang sudah dirintisnya.  Kelak, pada Januari 1946, Natsir dan Sukiman bertemu Tan Malaka dan Jenderal Soedirman di Solo untuk membentuk ”Persatoean Perjoeangan” menghadapi kabinet I Sjahrir.*

Peminat sejarah, tinggal di Surabaya

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:BelandaJIBJong Islamieten Bondmodern
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Munarman Divonis dengan Pasal 13 Penyembunyian Informasi, Aziz Yanuar: Membuktikan Bukan Teroris
Tulisan selanjutnya israel menahan palestina ‘Israel’ Memukuli dan Menahan Warga Palestina saat Bersiap Berbuka Puasa

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon

Berita
17 Oktober 2026 09:35
PBB Catat Kenaikan Angka Kemiskinan Dunia, 1 Miliar Orang Terdampak
Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang

Terbaru

  • Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang

Mungkin Anda Juga Suka

Tsaqafah

Maulid Nabi dan Kritik Agus Salim: Mengapa Kita Tertinggal dari Barat?

25 Agustus 2026 08:52
Artikel

Muhammadiyah dan Maulid Sekaten: Ketika Dakwah Kultural Masuk ke Jantung Keraton

22 Agustus 2026 10:46
Sejarah

Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo

17 Agustus 2026 07:05
Opini

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan

14 Agustus 2026 20:11
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?