Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kajian

Harga Pasar menurut Ibnu Taimiyah

Ahmad
Terakhir diupdate: 13 April 2023 12:55 12:55 pm
Ahmad
Dipublikasikan 13 April 2023 14:30
Bagikan
ekonomi madinah
Bagikan

Meskipun Ibnu Taimiyah mengemukakan tentang konsep kekuatan pasar bukan berarti dia setuju dengan konsep “invisible hand” yang dikembangkan oleh Adam Smith

Oleh: Ali Rama

Hidayatullah.com | SEMUA literature tentang ekonomi yang tersebar di berbagai perpustakaan menganggap bahwa ide hukum pasar supply dan demand adalah hasil perkembangan dari sejarah pemikiran ekonomi.

Sayangnya, Sangat minim literature yang mengungkapkan bahwa teori mekanisme pasar sudah dikenal sebelum pertengahan abad 18. Bahkan Schumpeter dengan thesisnya yang sangat terkenal “Great Gap atau Blank Centuries” betul-betul berusaha menafikan keberadaan dan kontribusi ilmuan Arab Islam (Arab-Muslim Scholars) dalam sejarah perkembangan pemikiran ilmu ekonomi.

Banyak ilmuan Muslim yang sudah mengemukakan berbagai pemikiran ekonomi sebelum berkembang menjadi theori ekonomi modern saat ini namun tak ditemukan dalam literature sejarah pemikiran ekonomi yang ditulis oleh ilmuan-ilmuan Barat.

Baca Juga

Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
KH. Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
Jika Bumi Menutup Semua Pintu, Ketuklah Pintu Langit!
Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam

Salah satu ilmuan Muslim yang pemikirannya berusaha dinafikan oleh Schumpeter dalam sejarah perkembangan pemikiran ilmu ekonomi adalah Ibnu Taimiyah.

Dia adalah salah satu ilmuan Muslim yang secara mendetail membahas tentang mekanisme harga pasar dan jenis-jenis pasar. Tulisan ini dimaksudkan untuk menelusuri pemikiran ekonomi Ibnu Taimiyah khususnya tentang konsep harga pasar yang adil.

Ibnu Taimiyah yang nama lengkapnya Taqiyuddin Ahmad bin Abdul Halim lahir di Harran pada tanggal 22 Januari 1263 (10 Rabiul Awwal 661 H). Dia banyak menghabiskan umurnya di Mesir dan Suriah di mana kedua kota itu menjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Dinasti Mamluk.

Pemikiran ekonomi Ibnu Taimiyah sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial, ekonomi dan politik dimana dia menetap.

Karena kedalaman keyakinan dan pengetahuannya tentang Islam, Ibnu Taimiyah disejajarkan dengan Ilmuan Muslim lainnya seperti Al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Hazam, Al-Ghazali, Ibn Rusd, dll yang telah melahirkan berbagai karya tulisan dalam lintas berbagai disiplin ilmu.

Meskipun peradaban Islam pada saat itu sudah bersentuhan dengan pemikiran ilmuan Yunanni, Ibnu Taimiyah tetap berusaha menjaga kejernihan ajara Islam dan mencocokkan segala sesuatunya pada shariah Islam. Dia terkenal sebagai reformis radikal yang selalu mengkritik kondisi sosial, politik dan stagnasi perkembangan ajaran Islam yang terjadi disekelilingnya.

Jiwa reformis inilah yang membuatnya dipenjara beberapa kali, bahkan ia meninggal dalam keadaan dipenjara di Damaskus tahun 1328 diumur 65 tahun. Tokoh reformis Muslim yang sangat terpengaruh dengan pemikiran Ibnu Taimiyah yang hidup di abad 18 adalah Muhammad bin Abdul Wahhab (1792).

Ibnu Taimiyah menulis lebih dari 15 buku dengan tema pembahasan yang bervariasi. Pemikiran ekonominya kebanyakan dapat ditelusuri dikedua bukunya yaitu: Al-Hisbah fi’l-Islam dan al-Siyasah al-Shariah fi Islah al-Rai wal’l-Raiyah.

Ibnu Taimiyah menggabungkan aspek philosofi, agama, etika, sosiologi dan ekonomi dalam berbagai pemikirannya, sama seperti ilmuan Muslim lainnya yang lebih cenderung menggunakan pendekatan holistik (holistic intellectual approach) dalam berbagai kajian keilmuannya.

Pendekatan ini tentunya berbeda dengan saat ini yang lebih cenderung fokus dan teoritis karena ekonomi telah berkembang jauh menjadi sebuah Ilmu ekonomi yang matang dan solid.

Ilmu ekonomi asal muasalnya berasal dari ide, gagasan dan pemikiran yang kemudian dieksperimentasi dan dikembangkan menjadi teori dan model. Pada tataran ide, gagasan dan pemikiranlah kontribusi para Ilmuan Arab Muslim khususnya Ibnu Taimiyah dalam proses metamorposis pemikiran ekonomi menjadi ilmu ekonomi.

Adam Smith yang disebut oleh kalangan Ilmuan Barat sebagai “the father of economic science” hanya mengemukakan konsep dasar ekonomi dalam bentuk pemikiran seperti dalam bukunya The Wealth of Nation yang melahirkan istilah “invisible hand” yang kemudian dikembangkan ilmuan-ilmuan ekonomi berikutnya menjadi konsep pasar bebas dan hukum pasar supply-demand.

Sedangkan ide tentang pasar supply dan demand sudah dikemukakan oleh ilmuan Muslim jauh sebelum Adam Smith dilahirkan. Bedanya cuma satu, Adam Smith diakui sebagai “bapak ilmu ekonomi” oleh para ilmuan ekonomi Barat tapi ilmuan Muslim semacam Ibnu Taimiyah tidak dianggap pernah memiliki pemikiran ekonomi.

Salah satu contoh sederhana misalnya konsep tentang harga, Ibnu Taimiyah sering kali menggunakan dua istilah saat membahas tentang harga yaitu kompensasi yang setara (‘iwadh al-mitsl) dan harga yang setara (tsaman al-mitsl).

Harga yang adil menurut dia adalah harga yang setara. Ia mengatakan

“kompensasi yang setara diukur dan ditaksir oleh hal-hal yang setara, dan inilah makna keadilah (nafs al-‘adl).” (Ghazanfar dan Islahi, 1990).

Kemudian Ibnu Taimiyah menjelaskan lebih lanjut tentang harga yang setara (price of equivalent) sebagaimana yang dikutip oleh Ghazanfar sebagai:

“Harga yang setara adalah harga standar yang berlaku ketika masyarakat menjual barang-barang dagangannnya dan secara umum dapat diterima sebagai sesuatu yang setara bagi barang-barang tersebut atau barang-barang yang serupa pada waktu dan tempat yang khusus.” (terjemahan)

Harga yang setara menurut Ibnu Taimiyah adalah harga yang dibentuk oleh kekuatan pasar yang berjalan secara bebas, yakni pertemuan antara kekuatan permintaa dengan penawaran. Oleh karena itu bisa disimpulkan bahwa Ibnu Taimiyah telah mengemukakan istilah yang sama (baca: harga keseimbangan) pada abad ke 11 seperti yang dikemukakan oleh St Thomas pada abad ke 13.

Istilah tentang harga yang adil (fair price) telah dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah secara detail dalam pembahasannya tentang hukum fiqhi. Dan melalui hukum evolusi metamorposis, nampaknya istilah “adil” yang merefleksikan tentang spirit etika agama Islam pada awalnya, bertransformasi menjadi “natural” pada zaman Physiocrats, menjadi “normal” pada zaman Classical dan terkahir menjadi istilah “Equilibrium” ditangan Marshall dan Ilmuan ekonomi Barat lainnya (Ghazanfar, 2005).

Dapat disimpulkan bahwa istilah tentang harga keseimbangan (equilibrium) yang sering dipelajari dalam ilmu ekonomi adalah sebenarnya hasil metamorposis dari istilah Ibnu Taimiyah tentang “thaman al-mithl” atau harga adil dalam pembahasannya tentang hukum fiqhi.

Ibnu taimiyah sangat memahami tentang ekonomi pasar bebas dan bagaimana harga ditentukan melalui kekuatan permintaan dan penawaran. Dia mengatakan (Ibn Taimiyah 1983-9, vol. 8, p.583):

“Naik turunnya harga tidak selalu diakibatkan oleh kezaliman orang-orang tertentu. Terkadang, hal tersebut disebabkan oleh kekurangan produksi atau penurunan impor barang-barang yang diminta. Oleh karena itu, apabila permintaan naik dan penawaran turun, harga-harga naik. Di sisi lain, apabila persediaan barang meningkat dan permintaan terhadapnya menurun, harga pun turun. Kelangkaan atau kelimpahan ini bukan disebabkan oleh tindakan orang-orang tertentu. Ia bisa disebabkan oleh sesuatu yang tidak mengandung kezaliman, atau terkadang, ia juga bisa disebabkan oleh kezaliman. Hal ini adalah kemahakuasaan Allah yang telah menciptakan keinginan di hati manusia.” (terjemahan)

Dari ungkapan ini jelas sekali menunjukkan bahwa kenaikan harga bisa disebabkan oleh ketidakadilan yang dilakukan oleh pihak penjual yang kita kenal sebagai penimbunan atau perilaku manipulasi pasar. Di sisi yang lain, Ibnu Taimiyah mengemukakan bahwa harga bisa naik turun akibat kekuatan pasar yaitu supply dan demand. Harga yang terbentuk melalui hukum supply dan demand tanpa ada unsur ketidakadilan didalamnya maka itu disebabkan karena kehendak Allah;

“Jika penduduk menjual barang-barangnya secara normal (al-wajh al-ma’ruf) tanpa menggunakan cara-cara yang tidak adil kemudian harga tersebut meningkat karena pengaruh kelangkaan barang (yakni penurunan supply) atau karena peningktan jumlah penduduk (yakni peningkatan demand), kenaikan harga-harga tersebut merupakan kehendak Allah SWT.” (Ibnu Taymiyah, 1983).

Menurut Samuelson harga keseimbangan adalah “A market equilibrium comes at that price and quantity where the force of supply and demand are in balance”. Ini sama dengan apa yang dikemukakan oleh Ibnu Taimiyah, perbedaannya hanya terletak pada harga equilibrium itu terjadi bukan hanya karena hukum supply dan demand tapi karena kehendak Allah. Konon katanya, Adam Smith mengalami kesulitan untuk menafsirkan tentang konsep supply dan demand dalam worldview kehendak Allah sehingga ia menciptakan istilah sendiri menjadi “invisible hand”.

Ibnu Taimiyah menganalisis bahwa kenaikan harga bisa karena penurunan supply barang atau peningkatan jumlah penduduk (jumlah pembeli) –terjadi karena kehendak Allah- atau disebut harga pasar yang adil.

Dan kenaikan harga juga bisa disebabkan oleh perilaku zalim penjual berupa penimbunan dan manipulasi pasar. Pendapat ini senada dengan pendapat para ahli ekonomi modern yang mengatakan bahwa pergeseran kurva permintaan terjadi bisa dikarenakan oleh pertumbuhan jumlah penduduk, pendapatan, selera, dll.

Ibnu Taimiyah juga mengidentifikasi beberapa faktor yang bisa membuat pergeseran pada kurva permintaan dan penawaran yang akhirnya berdampak pada harga pasar, seperti: tingkat permintaan, kelangkaan dan keberlimpahan barang, cara pembayaran dan potongan harga. Misalnya dia mengatakan:

“if the need is great and strong, the price will increase to extant greater than if the need is small and week…….. The price of what is availbale is lower than the price of what is not (physically) available. The same applies to the buyer who is sometimes able to pay at once as he has money, but sometimes he does not have (cash) and wants to borrow (in order to pay) or sell the commodity (to make payment).” (Terjemahan Inggris, Ibnu Taimiyah, 1983).

Meskipun Ibnu Taimiyah mengemukakan tentang konsep kekuatan pasar bukan berarti dia setuju dengan konsep “invisible hand” yang dikembangkan oleh Adam Smith pada abad 18 yang kemudian menjadi dasar keberadaan sistem pasar bebas.

Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa negara harus berperan penting dalam pemenuhan kepentingan publik. Negara harus intervensi jika harga yang berlaku di pasar akibat kezaliman supplier (penimbunan dan manipulasi pasar).

Bahkan dia memperkenalkan institusi Hisbah yang bertujuan untuk memastikan semua pelaku ekonomi memenuhi semua kewajibannnya terhadap pihak lain dan bertindak berdasarkan norma dan aturan yang berlaku.

Dapat disimpulkan bahwa Ibnu Taimiyah yang hidup di abad 11 sudah terlebih dahulu mengemukakan konsep harga pasar dalam perspektif hukum fiqhi Islam.

Dia mengemukakan pemikiran ekonomi ini saat ekonomi belum berkembang menjadi ilmu ekonomi dan ekonomi pada zaman itu belum terpisah sebagai sebuah disiplin ilmu tersendiri. Ini bukan berarti kontribusinya harus dinafikan dalam literature sejarah pemikiran ekonomi seperti yang dilakukan oleh Schumpeter dalam History of Economic Analysis. Ibnu Taimiyah berhak untuk diakui sebagai salah satu pionir munculnya pemikiran ekonomi modern.*

Penulis dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:harga pasarHeadlineIbnu Taimiyahpasarpasar islamPilihan Redaksi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya (Video) Pendeta Hindu Yati Narsinghanand Serukan Menghancurkan Islam dan Menguasai Ka’bah di Makkah
Tulisan selanjutnya Menag Bakal Cabut Izin Pesantren yang Kiainya Terlibat Pelecehan Santriwati

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Tiga Pria Mengaku Merencakan Serangan Terhadap Masjid Maryam di Galway

Berita
11 Oktober 2026 23:14
Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
Pilot Berkewarganegaraan Indonesia, Pesawat Ethiopian Airlines Dilarang Mendarat di ‘Israel’
Wakaf Al-Qur’an: Menghadirkan Cahaya Qur’an bagi Santri di Tolitoli
Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran

Terbaru

  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang
  • Majelis Ulama Indonesia Tetap Tegas Tolak Konser Andrea Bocelli

Mungkin Anda Juga Suka

Hikmah

Teladan Umar bin Khattab Ra. dalam Mengatasi Problem Gratifikasi

29 September 2026 08:30
Kajian

Al-‘Aqabah: Jalan Terjal Menuju Peradaban Fitrah

15 September 2026 13:13
Kajian

Merdeka Bersuara, Bukan Merampas Ketenangan: Sound Horeg dalam Syariat

22 Agustus 2026 11:43
Kajian

Atas Jasa Ulama Madzhab, Ijtihad Tidak Lagi Harus Dari Nol

22 Agustus 2026 10:58
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?