Hidayatullah.com– Kepolisian Ethiopia mengatakan pihaknya telah menyita ribuan butir amunisi yang dikirim oleh negara tetangga Eritrea ke para pemberontak di daerah Amhara, memanaskan konflik bersenjata di sana sehingga dapat memicu bentrokan maut baru.
Kepolisian federal Ethiopia mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Rabu malam (14/1/2026) bahwa mereka telah menyita 56.000 butir amunisi dan menangkap dua tersangka pekan ini di wilayah Amhara, tempat pemberontak Fano yang menentang pemerintahan Perdana Menteri Abiy Ahmed melakukan pemberontakan sejak 2023.“
Penyelidikan awal yang dilakukan terhadap dua tersangka yang tertangkap basah mengkonfirmasi bahwa amunisi tersebut dikirim oleh pemerintah Shabiya,” kata pernyataan itu, menggunakan istilah untuk menyebut partai penguasa di Eritrea, lansir Reuters Kamis (15/1/2026).
Kedua negara terlibat perang perbatasan selama tiga tahun yang meletus pada tahun 1998, lima tahun setelah Eritrea memisahkan diri dari Ethiopia.
Mereka menandatangani perjanjian bersejarah untuk menormalisasi hubungan pada tahun 2018 yang menjadikan PM Abiy Ahmed memenangkan Nobel Perdamaian pada tahun 2019, tetapi hubungan keduanya kembali memburuk.
Pasukan Eritrea ikut bertempur untuk mendukung tentara Ethiopia selama perang saudara 2020-2022 di wilayah Tigray utara, tetapi hubungan memburuk setelah Asmara dikecualikan dari kesepakatan damai yang mengakhiri konflik tersebut.
Sejak saat itu, Eritrea merasa geram dengan PM Abiy yqng berulang kali mengatakan ke publik bahwa Ethiopia yang terkurung daratan memiliki hak akses ke laut – komentar yang oleh banyak orang di Eritrea, negara yang berhadapan dengan Laut Merah, sebagai ancaman militer tersirat.
Abiy mengatakan Ethiopia tidak bermaksud berkonflik dengan Eritrea dan ingin menyelesaikan masalah akses laut melalui dialog.
Asmara sebelumnya menampik tuduhan bahwa mereka mencampuri urusan Ethiopia dan menuduh Addis Ababa melakukan agresi. Presiden Isaias Afwerki mengatakan kepada media pemerintah pekan ini bahwa partai yang berkuasa di Ethiopia saat ini menyatakan perang melawan Eritrea.
“Kami tidak memiliki napsu untuk berperang. Tetapi kami tahu bagaimana membela negara kami,” kata Isaias dalam wawancara pekan ini.*




