Hidayatullah.com – Setelah membantai anak-anak dan perempuan Palestina serta membumihanguskan Gaza, moral pasukan ‘Israel’ malah semakin merosot, bukan sebaliknya. Hal itu diungkapkan oleh seorang perwira dari tentara cadangan ‘Israel’ yang meminta namanya tidak disebutkan kepada Haaretz.
“Sekarang, semuanya diperbolehkan, dan kita terlalu mudah menekan pelatuk,” kata perwira Israel anonim itu dalam sebuah surat yang diterbitkan oleh surat kabar Haaretz pada Rabu (08/07/2026).
“Saya tidak ingin menulis tentang kesulitan tugas cadangan yang berulang atau tentang kerusakan yang ditimbulkannya pada tubuh dan jiwa seseorang, meskipun topik-topik penting ini seharusnya lebih sering dibahas,” imbuhnya.
“Sebaliknya, saya ingin membahas nilai-nilai, sebuah masalah yang sayangnya saya hadapi saat saya menyaksikan kemerosotan moral yang terjadi di dalam tentara. Moralitas adalah inti dari sifat manusia kita dan hubungan kita dengan Tuhan,” katanya panjang lebar.
Perwira itu, yang mengidentifikasi dirinya sebagai komandan unit pasukan cadangan di Gaza, mengatakan bahwa para tentara ‘Israel’ sedang berjuang dalam “pertempuran parit yang berkelanjutan yang tidak pernah berakhir.”
“Tujuan misi kita tidak lagi jelas, bahkan tidak terdefinisi, sehingga kita tidak memiliki kriteria untuk mengukur keberhasilan,” katanya.
“Karena kita berada dalam misi defensif, ada tingkat kewaspadaan tinggi dan rasa takut akan musuh yang mungkin mengejutkan kita. Pola pikir ini menyebabkan banyak dilema moral.”
Perwira itu mengatakan peningkatan kewaspadaan sejak serangan 7 Oktober telah mengakibatkan tentara menembak warga Palestina yang mendekati posisi mereka.
“Terkadang penembakan itu dibenarkan, terkadang tidak. Bagaimanapun, penembakan terjadi karena prajurit di garis depan merasa terancam atau tidak aman,” katanya.
“Terik matahari, kelelahan, dan rasa sia-sia memperkuat perasaan ini bahkan ketika perasaan itu tidak berdasar. Meskipun mudah untuk menghakimi mereka dengan keras saat duduk di kantor ber-AC di markas besar di Tel Aviv, kita harus mengakui bahwa perasaan ini ada.”
Perwira itu mengakui bahwa membunuh begitu banyak orang tak bersenjata telah berdampak buruk pada para tentara. “Ini berdampak buruk pada saya,” katanya.
Sejak Oktober 2023, pasukan penjajah ‘Israel’ telah membunuh lebih dari 73.000 orang di Gaza dan melukai lebih dari 173.000 lainnya dalam perang mematikan yang telah menghancurkan seluruh wilayah tersebut.
“Aturan keterlibatan tanpa batasan menjamin bahwa tidak ada warga Gaza yang akan mencapai pagar perbatasan, tetapi hal itu semakin berdampak buruk pada kami, pada nilai-nilai kami, dan pada kondisi mental kami.”




