Hidayatullah.com— Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor menegaskan komitmennya untuk merombak tradisi formalitas akademik dalam Rapat Terbuka Senat Pengukuhan Guru Besar di Aula Kampus UNIDA Gontor, Ponorogo, Ahad (27/9/2026). Hal ini disampaikan Rektor UNIDA Gontor, Prof. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Ed., M.Phil.
“Di Amerika, para mahasiswa tidak mencari universitas. Dia mencari profesor yang ahli dalam bidang yang dia minati,” ujar Prof. Hamid menekankan pentingnya reputasi keilmuan seorang pengajar.
Lebih jauh, ia mengajak para dosen dan Guru Besar untuk terus mengasah kepakaran keilmuan hingga menjadi magnet utama bagi para penuntut ilmu.
Menurut Hamid, sejatinya daya tarik utama sebuah perguruan tinggi tidak hanya terletak pada nama besar kampus, melainkan pada keahlian riil para pengajarnya.
Hamid merefleksikan bagaimana tradisi akademis di berbagai negara maju telah lama menempatkan kapasitas dan reputasi kepakaran profesor sebagai pilar utama magnet pendidikan.
Mahasiswa yang berorientasi pada ilmu akan melacak keberadaan sang pakar, bukan sekadar melihat kemegahan institusi semata.
Untuk memperjelas pandangan tersebut, ia mengangkat kisah historis ketokohan Prof. Dr. Fazlur Rahman, saat mengajar di University of Chicago, Amerika Serikat. Keahlian mendalam beliau di bidang pemikiran dan studi Islam mampu menarik minat para cendekiawan muda dari berbagai belahan dunia, termasuk para tokoh dan akademisi terkemuka asal Indonesia.
“Kalau tidak salah dulu di Chicago ada Profesor Fazlur Rahman. Orang-orang Indonesia… ke Amerika hanya ingin belajar dengan Profesor Fazlur Rahman. Setelah Fazlur Rahman tidak lagi di situ karena beliau wafat, orang tidak lagi datang ke situ. Inilah pentingnya profesor,” pungkasnya.
Ia menambahkan bahwa kultur ‘berburu ilmu’ berdasarkan kepakaran ini sebenarnya identik dengan tradisi luhur pesantren klasik di Indonesia, di mana para santri berpindah dari satu pondok ke pondok lain demi mengaji langsung kepada ulama yang ahli dalam kitab atau bidang keilmuan tertentu. Karenanya, ia bertekad mengembalikan serta memperkuat tradisi luhur ini di lingkungan UNIDA Gontor.
“Maka saya ingin membalikkan tradisi itu. Marilah kita, kepakaran kita ini menjadi tujuan para calon mahasiswa,” ajaknya kepada seluruh jajaran pengajar.
Mengakhiri orasinya, ia mengingatkan para dosen agar tidak lelah meneliti, menulis, dan mempublikasikan karya-karya ilmiah. Kepakaran yang terus diasah tidak hanya akan mendatangkan pengakuan akademik, tetapi juga menjadikan dosen sebagai figur pendidik yang diidolakan, dicari, dan menginspirasi mahasiswa dalam melahirkan generasi intelektual masa depan.
Tak hanya menekankan kapasitas keilmuan, ia juga mengajak para Guru Besar dan seluruh pengajar di UNIDA untuk menjadi sosok pendidik sejati yang dekat dan dicintai oleh para mahasiswa. Ia mengingatkan agar para dosen tidak bersikap dingin atau menakutkan yang justru dapat merugikan proses pembelajaran.
“Untuk para dosen yang sudah punya NIDN, jabatan fungsional, dan seterusnya, saya mengimbau supaya menjadi dosen yang diidolakan oleh mahasiswa. Jangan menjadi dosen killer, karena hal itu tidak berkah. Dibenci oleh mahasiswa, kemudian selalu diumpat-umpat oleh mahasiswa, mahasiswanya berdosa, dosennya juga tidak suka,” pesan Prof. Hamid.
Ia juga mengajak para dosen dan Guru Besar menjadikan atmosfer pengabdian di UNIDA Gontor sebagai universitas berasrama (residential university) seolah tidak memiliki batas jam ketat semata untuk melayani mahasiswa. Jika perlu, interaksi dan pengabdian itu berlangsung kapan saja selama 24 jam penuh.
“Kita bisa memanggil mahasiswa kapan saja. Kita pun juga didatangi oleh mahasiswa pada waktu-waktu di luar jam kantor, dan kita tidak ada masalah. Sekretaris saya meminta tanda tangan di luar jam kantor. Bahkan ada yang habis Subuh datang hanya untuk minta tanda tangan karena surat segera dikirim pada waktu itu. Tidak ada jam kantor, semua kampus ini adalah kantor,” ungkap Prof. Hamid menggambarkan dedikasi yang perlu diperlihatkan pengajar dan para Guru Besar UNIDA.
Ia mengatakan, saat ini dari total 467 dosen, terdapat 263 dosen profesional ber-NIDN, dengan rincian 35 Lektor Kepala, 115 Lektor, 59 Asisten Ahli, dan 48 dosen pemula. Berbekal potensi tersebut, UNIDA merancang peta jalan pengukuhan Guru Besar yang terukur menuju tahun 2030.
“Tahun 2027 ada 30 guru besar lagi insyaallah. Tahun 2028 ada 40 guru besar. Tahun 2029 ada 40 guru besar. Tahun 2030 ada 50 guru besar. Mungkin lebih dari itu, insyaAllah,” sebutnya.
Sebagai penutup orasinya, Hamid merefleksikan pentingnya kepakaran figur profesor dalam menarik minat para penuntut ilmu, sebagaimana tradisi keilmuan pesantren klasik maupun perguruan tinggi ternama di dunia.
Karenanya ia mendorong para dosen terus berkarya dan menulis. ”Teruslah menulis, meneliti, memimpin para mahasiswa dan para dosen dalam bidang yang menjadi keahliannya,” lanjutnya. *




