Hidayatullah.com— Maraknya gagasan ateisme di era digital tidak lagi sebatas diskursus di ruang-ruang akademik, melainkan telah merambah ke platform media sosial populer seperti TikTok dan YouTube yang dekat dengan generasi muda.
Pakar filsafat Islam Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Prof. Dr. Syamsuddin Arif, menilai fenomena ini sebagai tantangan intelektual serius yang dipicu oleh dominasi sains dan maraknya kekeliruan logika (logical fallacy) di ruang publik.
Hal tersebut disampaikan beliau dalam kuliah umum bertema “Ancaman Ateisme terhadap Generasi Muda” di Institut Agama Islam (IAI) Persis Garut, Selasa (29/9/2026).
“Hari ini banyak sekali konten yang secara sengaja mempromosikan ateisme di media sosial,” ujar peneliti senior Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) tersebut.
Pergeseran pola keagamaan ini sejalan dengan temuan Pew Research Center (2010–2020) yang mencatat pertumbuhan populasi tanpa afiliasi agama—termasuk ateis dan agnostik—naik dari 1,6 miliar menjadi 1,9 miliar jiwa (bertambah 17 persen). Di sejumlah negara, tren ini didominasi oleh kelompok usia muda rentang 18–39 tahun.
Sains dan Algoritma Media Sosial
Menurut Syamsuddin, salah satu pintu masuk utama paham ini adalah pemahaman yang keliru terhadap sains. Generasi muda yang mendalami ilmu empiris sering kali terjebak dalam pandangan “saintisme” (scientism)—paham yang menganggap sains sebagai satu-satunya ukuran kebenaran.
“Ketika sesuatu tidak dapat dilihat atau diuji secara empiris, sebagian orang langsung menyimpulkan bahwa sesuatu itu tidak ada. Padahal dalam filsafat, tidak terlihat bukan berarti tidak ada,” jelasnya.
Kondisi tersebut diperparah oleh kerja algoritma media sosial yang merekomendasikan konten berdasarkan ketertarikan pengguna. Paparan konten yang dimulai dari sains atau skeptisisme ringan secara bertahap dapat mengarahkan generasi muda pada narasi ateisme yang dipadatkan dalam video berdurasi singkat.
Cacat Logika dalam Argumen Ateisme
Syamsuddin menyoroti bahwa banyak argumen ateisme yang tampak meyakinkan sebenarnya mengandung cacat logika dasar. Salah satunya adalah menyamakan ketidaktahuan pribadi dengan ketiadaan wujud (argument from ignorance).
“Seseorang yang tidak melihat atau tidak mengetahui keberadaan Tuhan tidak bisa secara logis langsung menyimpulkan Tuhan itu tidak ada. Ketidaktahuan kita akan sesuatu bukanlah bukti ketiadaan sesuatu itu,” tegasnya.
Selain itu, ia juga menyinggung argumen penderitaan (argument from evil). Dalam argumen ini, ketiadaan tindakan Tuhan saat terjadi kejahatan atau bencana kerap diartikan sebagai ketiadaan wujud-Nya.
“Ini adalah kekeliruan mengira ketiadaan tindakan sebagai ketiadaan pelaku (mistaking non-action for non-existence). Sama seperti seorang ayah yang tidak membelikan anaknya sepeda motor, bukan berarti sang ayah tidak ada atau tidak mampu,” ujarnya memberi analogi.
Jawab Pertanyaan dengan Argumen
Menghadapi arus informasi yang masif, Syamsuddin menekankan pentingnya membangun daya kritis dan literasi filsafat bagi generasi muda, ketimbang merespons pertanyaan mereka dengan doktrin atau pelabelan semata.
“Kalau belum ketemu cari, kalau tidak tahu pelajari. Jangan langsung bilang tidak ada,” tuturnya.
Ia menyimpulkan bahwa pendekatan terbaik menghadapi tantangan ateisme adalah memperkuat penguasaan logika dan literasi keagamaan, sehingga anak muda mampu mengevaluasi mana argumentasi yang valid dan mana yang memiliki cacat nalar. *




