Kopi dikaitkan dengan risiko sirosis 32%, kanker hati 47%, dan kematian akibat penyakit hati 42% lebih rendah, tetapi belum terbukti secara langsung mencegah penyakit hati.
Hidayatullah.com | KOPI Kopi bukan sekadar minuman untuk mengusir kantuk. Sebuah penelitian berskala besar yang dipimpin peneliti Cedars-Sinai Health Sciences University, Amerika Serikat, menemukan hubungan antara konsumsi kopi dan risiko lebih rendah terhadap sirosis, kanker hati, serta kematian akibat penyakit hati.
Penelitian Cedars-Sinai menemukan bahwa konsumsi kopi berkaitan dengan risiko sirosis 32 persen lebih rendah, kanker hati 47 persen lebih rendah, dan kematian akibat penyakit hati 42 persen lebih rendah pada kelompok yang minum lima cangkir atau lebih per hari.
Namun, peneliti menegaskan bahwa temuan ini belum membuktikan kopi secara langsung mencegah penyakit hati.Penelitian yang melibatkan 354.957 orang dewasa itu juga menemukan petunjuk biologis yang membantu menjelaskan hubungan tersebut.
Pemeriksaan pencitraan resonansi magnetik (MRI) hati dan analisis protein darah menunjukkan bahwa konsumsi kopi berkaitan dengan kadar lemak, peradangan, dan jaringan parut hati yang lebih rendah.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Clinical Gastroenterology and Hepatology dengan judul penelitian yang berfokus pada petunjuk biologis di balik hubungan kopi dan kesehatan hati.
Informasi penelitian ini juga diberitakan ScienceDaily pada 25 Juli 2026, dalam artikel berjudul “Coffee may help shield the liver from fat, scarring, and cancer”.
Sementara itu, Cedars-Sinai Medical Center memublikasikan penjelasan resmi penelitian tersebut melalui ruang beritanya. Kedua sumber itu merujuk pada penelitian yang sama, bukan dua penelitian terpisah.
Mengikuti 355 Ribu Orang Selama 13 Tahun
Tim peneliti menganalisis data 354.957 peserta UK Biobank, basis data penelitian kesehatan berskala besar di Inggris. Seluruh peserta yang masuk dalam analisis tidak memiliki sirosis maupun kanker hati ketika penelitian dimulai.
Para peneliti kemudian memantau perkembangan kesehatan mereka melalui catatan medis yang terhubung dengan basis data tersebut. Masa pemantauan memiliki median 13 tahun, sehingga penelitian dapat mengidentifikasi kasus baru sirosis, kanker hati, dan kematian yang berkaitan dengan penyakit hati.
Hyunseok Kim, MD, MPH, PhD, ahli hepatologi sekaligus asisten profesor kedokteran di Cedars-Sinai dan penulis korespondensi penelitian, menjelaskan bahwa penelitian terdahulu umumnya memiliki cakupan lebih terbatas.
“Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kopi mungkin bermanfaat bagi hati, tetapi sebagian besar berukuran lebih kecil atau hanya melihat satu bagian dari persoalan,” kata Kim, sebagaimana dikutip dalam keterangan resmi Cedars-Sinai.
Ia menjelaskan bahwa timnya mengikuti ratusan ribu orang selama lebih dari satu dekade, kemudian menggabungkan data hasil kesehatan dengan pemeriksaan MRI hati dan analisis protein darah.
“Secara bersama-sama, temuan tersebut membantu menjelaskan mekanisme biologis di balik hubungan kopi dengan kesehatan hati yang lebih baik,” ujarnya.
Pendekatan ini menjadi bagian penting penelitian. Tim tidak hanya membandingkan kebiasaan minum kopi dengan angka kejadian penyakit, tetapi juga menelaah tanda-tanda biologis yang mungkin berkaitan dengan kesehatan hati.
Risiko Sirosis, Kanker Hati, dan Kematian Lebih Rendah
Salah satu temuan utama penelitian terlihat pada kelompok peserta yang mengonsumsi lima cangkir kopi atau lebih setiap hari. Dibandingkan dengan mereka yang tidak minum kopi, kelompok tersebut memiliki risiko relatif yang lebih rendah terhadap tiga hasil kesehatan utama; Sirosis hati: risiko relatif 32 persen lebih rendah, kanker hati: risiko relatif 47 persen lebih rendah, kematian akibat penyakit hati: risiko relatif 42 persen lebih rendah.
Angka-angka tersebut merupakan perbedaan risiko relatif yang dilaporkan penelitian, bukan penurunan risiko absolut ataupun jaminan bahwa seseorang yang minum kopi akan terhindar dari penyakit.
Sirosis merupakan kondisi ketika jaringan hati mengalami kerusakan kronis dan membentuk jaringan parut, sehingga fungsi organ tersebut dapat terganggu. Sementara itu, kanker hati merupakan salah satu komplikasi serius yang dapat muncul pada orang dengan penyakit hati kronis.
Meski kelompok peminum kopi terbanyak menunjukkan hubungan perlindungan yang lebih kuat, para peneliti tidak menyarankan masyarakat meningkatkan konsumsi hingga lima cangkir sehari demi menjaga kesehatan hati.
Sebaliknya, hubungan dengan risiko lebih rendah sudah terlihat pada orang yang minum satu hingga dua cangkir per hari. Hubungan terkuat dalam penelitian tampak pada konsumsi sekitar tiga hingga empat cangkir sehari.
Temuan ini memberi gambaran bahwa hubungan antara kopi dan kesehatan hati tidak hanya muncul pada kelompok dengan konsumsi sangat tinggi.
Namun, hasil tersebut tetap perlu ditafsirkan sebagai hubungan statistik, bukan bukti bahwa penambahan setiap cangkir kopi pasti menghasilkan manfaat tertentu.
MRI dan Protein Darah Mengungkap Petunjuk Biologis
Hal yang membedakan penelitian ini dari sejumlah penelitian terdahulu adalah penggunaan pemeriksaan MRI hati dan analisis protein darah untuk menelusuri kemungkinan mekanisme biologis.
Peserta yang mengonsumsi lebih banyak kopi menunjukkan kadar lemak dan zat besi hati yang lebih rendah, serta lebih sedikit tanda fibrosis dan peradangan pada pemeriksaan MRI. Fibrosis adalah pembentukan jaringan parut akibat kerusakan organ yang berlangsung berulang atau berkepanjangan. Jika terus berkembang, kondisi tersebut dapat berujung pada sirosis.
Analisis darah memperlihatkan pola yang sejalan. Peminum kopi memiliki kadar lebih tinggi dari sejumlah protein yang berkaitan dengan fungsi hati yang sehat, serta kadar lebih rendah dari protein yang berhubungan dengan peradangan dan pembentukan jaringan parut.
Ju Dong Yang, MD, penulis senior penelitian sekaligus direktur medis Program Kanker Hati di Cedars-Sinai, menyatakan bahwa hasil tersebut mendukung hubungan antara konsumsi kopi dan kesehatan hati.
“Temuan kami mendukung konsumsi kopi dalam jumlah sedang bagi orang yang memang menyukai dan dapat menoleransinya dengan baik,” kata Yang, sebagaimana dikutip Cedars-Sinai.
Ia mengingatkan bahwa hasil penelitian tersebut tidak cukup untuk menganjurkan seseorang mulai minum kopi semata-mata demi melindungi hati.
“Pencegahan tetap harus berfokus pada menjaga berat badan yang sehat, membatasi alkohol, berolahraga secara teratur, serta mengendalikan gula darah, tekanan darah, dan kolesterol,” ujarnya.
Dengan demikian, hasil MRI dan protein darah memberikan petunjuk tambahan tentang proses yang mungkin menghubungkan kopi dengan kesehatan hati. Namun, penelitian ini belum memastikan bahwa perubahan biologis tersebut sepenuhnya disebabkan oleh kopi atau menjadi satu-satunya penjelasan atas perbedaan risiko penyakit.
Kopi Tanpa Kafein Juga Menunjukkan Hubungan Serupa
Petunjuk lain muncul ketika peneliti membandingkan kopi berkafein dan kopi tanpa kafein atau decaf. Keduanya menunjukkan hubungan serupa dengan hasil kesehatan hati yang lebih baik.
Temuan tersebut mengindikasikan bahwa kafein kemungkinan bukan satu-satunya komponen yang berperan. Kopi mengandung beragam senyawa alami yang mungkin memengaruhi proses peradangan, pembentukan jaringan parut, dan mekanisme biologis lainnya.
Shelly Lu, MD, salah satu penulis penelitian, pemegang Women’s Guild Chair in Gastroenterology, sekaligus direktur Karsh Division of Gastroenterology and Hepatology di Cedars-Sinai, mengatakan penelitian berikutnya akan berfokus pada identifikasi senyawa spesifik yang berkaitan dengan manfaat tersebut.
“Langkah berikutnya dalam penelitian kami adalah mengidentifikasi senyawa tertentu dalam kopi yang bertanggung jawab atas hubungan dengan perlindungan hati ini,” kata Lu dalam keterangan resmi Cedars-Sinai.
Menurut dia, temuan timnya menunjukkan jalur biologis yang melibatkan peradangan dan pembentukan jaringan parut, sekaligus membuka kemungkinan untuk meneliti sasaran molekuler yang relevan.
Penelitian lanjutan diharapkan dapat menjelaskan bagaimana kopi mungkin memengaruhi kesehatan hati dan kelompok masyarakat mana yang berpotensi memperoleh manfaat paling besar.
Di balik temuan yang menjanjikan tersebut, terdapat batasan penting. Penelitian ini bersifat observasional, yakni mengamati hubungan antara kebiasaan konsumsi kopi dan hasil kesehatan tanpa menetapkan secara eksperimental bahwa kopi menjadi penyebab langsung perbedaan risiko tersebut.
Karena itu, belum dapat dipastikan bahwa kopi secara langsung mencegah sirosis, kanker hati, atau kematian akibat penyakit hati. Faktor lain yang berkaitan dengan gaya hidup, kondisi kesehatan, dan karakteristik peserta mungkin turut memengaruhi hasil, meskipun analisis statistik telah digunakan dalam penelitian.
Konsumsi kopi juga tidak selalu sesuai untuk setiap orang. Mereka yang memiliki tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol, gangguan irama jantung tertentu, kecemasan berat, insomnia, atau kondisi lain yang mengharuskan pembatasan kafein sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum meningkatkan konsumsi.
Kesimpulan penelitian ini bukanlah anjuran untuk memperbanyak kopi tanpa batas. Temuannya menunjukkan bahwa konsumsi kopi berkaitan dengan risiko penyakit hati yang lebih rendah dan sejumlah indikator biologis yang lebih sehat, tetapi belum membuktikan hubungan sebab-akibat.*




