Hidayatullah.com– Pentagon, hari Kamis (1/10/2026), mengumumkan pemberian kontrak senilai $24,4 miliar kepada Raytheon untuk mempercepat produksi rudal SM-6, guna mengganti sejumlah besar amunisi yang terkuras digunakan selama perang Iran.
Rudal-rudal tersebut merupakan “amunisi perang anti-udara dan anti-permukaan yang sangat penting. Perjanjian lima tahun ini, dengan opsi perpanjangan dua tahun lagi, akan mendorong produksi yang lebih cepat,” kata Pentagon dalam sebuah pernyataan seperti dilansir AFP.
Kesepakatan itu “memberikan industri pertahanan kepastian jangka panjang yang dibutuhkan untuk memperluas kapasitas tenaga kerja dan mengamankan rantai pasokan yang sangat penting,” imbuh Pentagon.
Presiden Donald Trump sampai sekarang menampik pertanyaan tentang dampak besar yang ditimbulkan perang Iran pada pasokan amunisi AS.
Namun, bulan lalu inspektur jenderal Departemen Pertahanan mengatakan bahwa pengeluaran amunisi untuk Operation Epic Fury telah mengakibatkan kekurangan pada persediaan strategis amunisi dan hal tersebut mengungkap kelemahan pada rantai pemasokan ulang. Operation Epic Fury adalah nama resmi misi militer Amerika Serikat dalam peperangan melawan Iran yang dimulai sejak 28 Februari 2026.
Tidak hanya itu, dalam laporan tanggal 15 September yang dibuat oleh Congressional Budget Office disebutkan bahwa terkurasnya cadangan amunisi itu akan menyebabkan Amerika Serikat memiliki persediaan pencegat rudal yang tidak memadai selama beberapa tahun ke depan.
Raytheon dalam sebuah sebuah pernyataan yang dirilis hari Rabu (30/9/2026) mengatakan bahwa rudal SM-6 buatannya “berhasil ditembakkan dari berbagai platform dinatas kapal Angkatan Laut AS dan peluncur di darat,” dan menyebutnya sebagai “senjata yang terbukti ampuh dalam pertempuran.”
Pabrik pembuat senjata itu juga mengaku sedang berupaya untuk memenuhi permintaan.
“Dengan terus berinvestasi dalam operasional dan fasilitas kami, kami dapat menghilangkan kendala dan meningkatkan kapasitas untuk memastikan kami bisa menyediakan persenjataan penting yang bisa diandalkan oleh para pelaut kita,” kata Phil Jasper, presiden Raytheon, dalam sebuah pernyataan.
Trump sudah mengatakan kepada para ajudannya bahwa dia kemungkinan akan kembali membombardir Iran pada akhir November, yang berarti militer Amerika membutuhkan lebih banyak amunisi, lapor The Wall Street Journal.*




