Hidayatullah.com— Menteri Pertahanan (Menhan) Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth mengumumkan pembentukan Kantor Urusan Keagamaan (Office of Religious Affairs) di Pentagon yang akan melapor langsung kepadanya.
Dalam pidato yang sama, ia mengutip ayat-ayat Alkitab dan menyerukan perang terhadap “kaum Islamis”, sehingga memunculkan kontroversi mengenai penggunaan agama dalam kebijakan militer AS.
Pengumuman tersebut disampaikan Hegseth di hadapan sekitar 600 perwira dan personel militer dalam pidato bertajuk State of the Force di Pangkalan Korps Marinir AS, Quantico, Virginia, Rabu (30/9/2026).
Ia mengatakan kantor baru itu bertujuan memperkuat dukungan keagamaan bagi personel militer dan memberikan kewenangan lebih besar kepada para rohaniwan militer, sebagaimana dikutip Army.mil.
“Mulai hari ini, atas arahan saya, saya membentuk Kantor Urusan Keagamaan. Kantor ini akan melapor langsung ke tingkat tertinggi, dengan jalur komunikasi langsung kepada menteri,” kata Hegseth.
Ia menegaskan kantor tersebut tidak hanya akan menjalankan fungsi administratif. “Ini bukan kantor yang hanya mengurus dokumen. Kantor ini akan memiliki kewenangan nyata. Kantor ini akan melindungi anggaran, menuntut penyediaan infrastruktur, dan memperkuat dukungan keagamaan,” ujarnya.
Menurut Hegseth, kurang dari lima persen personel militer AS mengidentifikasi diri sebagai tidak beragama. Ia menggunakan angka tersebut untuk mendukung argumen bahwa pelayanan keagamaan harus menjadi bagian penting dari dukungan terhadap prajurit.
“Sebanyak 95 persen personel kami mengakui keberadaan Tuhan Yang Mahakuasa. Oleh karena itu, departemen kami memiliki kewajiban suci untuk menyediakan dukungan keagamaan kelas satu, di mana pun kami mengirimkan para prajurit,” kata Hegseth.
Namun, pengumuman itu disampaikan bersamaan dengan pernyataan Hegseth yang menghubungkan keyakinan Kristen dengan misi perang militer AS. Ia mengutip Mazmur 33:12, “Berbahagialah bangsa yang Allahnya adalah Tuhan,” kemudian menyatakan bahwa militer AS harus mengenakan “seluruh perlengkapan senjata Allah”.
Hegseth juga menggunakan Kitab Yesaya pasal 6 ayat 8 untuk menyerukan kesiapan menghadapi sejumlah musuh. “Utuslah aku untuk melawan pasukan Inggris. Utuslah aku untuk melawan kaum Komunis. Utuslah aku untuk melawan kaum Islamis. Utuslah aku,” katanya.
Penyebutan “kaum Islamis” dalam seruan perang tersebut menjadi salah satu bagian paling kontroversial dari pidatonya. Al Jazeera melaporkan munculnya reaksi keras di media sosial berbahasa Arab.
Kritik terhadap kebijakan keagamaan Hegseth juga datang dari dalam Amerika Serikat. Rachel Laser, Presiden Americans United for Separation of Church and State, menilai pembentukan kantor tersebut berisiko meningkatkan kedudukan Kristen dalam kebijakan militer dan mengganggu kebebasan beragama personel dengan keyakinan berbeda.
“Pengumuman terbaru Hegseth meningkatkan peran Kristen dalam membentuk kebijakan militer AS ke tingkat yang lebih tinggi lagi,” kata Laser.
Organisasinya menilai militer AS selama lebih dari 250 tahun telah melayani kebutuhan spiritual personel dari beragam latar belakang agama.
Pendiri Military Religious Freedom Foundation (MRFF) Mikey Weinstein mengecam “Semangat kerja prajurit rendah, kepercayaan pada kepemimpinan rendah… Nasionalisme Kristen di militer telah melonjak di luar kendali”. Sementara anggota DPR AS Jared Huffman merespons pembentukan kantor tersebut dalam laporan Hindustan Times dengan mengecam bahwa “Kantor Urusan Agama yang baru mengabaikan anggota militer non-religius yang jumlahnya banyak dan meludahi konstitusi negara kita,” katanya.*




