Hidayatullah.com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengapresiasi film biografi Hamka: Awal Mula (Vol. 3) yang dinilai dapat menjadi sarana pendidikan moral bagi generasi muda melalui pengenalan nilai ketauhidan, adab, integritas, dan perjuangan dalam perjalanan hidup Buya Hamka.
Sekretaris Jenderal MUI Buya Amirsyah Tambunan mengatakan film produksi Starvision dan Falcon Pictures tersebut menghadirkan pesan penting tentang pembentukan karakter di tengah tantangan moral yang dihadapi masyarakat.
“Menanamkan satu sikap yang luar biasa, menanamkan karakter, menanamkan adab, menanamkan tauhid tentunya. Itu penting di saat kondisi bangsa kita mengalami sebuah krisis keyakinan, krisis akhlak moral adab. Film ini tampil untuk mengisi kekosongan,” kata Amirsyah saat menghadiri pemutaran khusus film tersebut di XXI Plaza Senayan, Jakarta, Rabu (28/10/2026).
Menurut Amirsyah, film yang disutradarai Fajar Bustomi itu tidak sekadar mengangkat perjalanan hidup ulama, sastrawan, sekaligus pahlawan nasional Buya Hamka. Kisah tersebut juga memperlihatkan bagaimana nilai-nilai agama, pendidikan, dan keteladanan keluarga membentuk karakter seseorang.
Ia menilai perjalanan hidup Buya Hamka dapat menjadi pembelajaran bagi generasi muda untuk memahami bahwa karakter dan integritas tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses panjang yang membutuhkan keteguhan prinsip dan pembinaan adab.
Amirsyah juga mengajak para pelaku industri perfilman Indonesia untuk terus menghasilkan karya yang mengandung pesan pendidikan dan pembentukan karakter bangsa.
“Wahai para maestro film Indonesia, bangkitlah dan berikan pesan-pesan kuat untuk membangun karakter bangsa dan umat. Jangan sampai kita tertinggal,” tuturnya.
Selain pesan moral, Amirsyah menyoroti penggambaran perjalanan ibadah haji pada masa lalu dalam film tersebut. Menurutnya, kisah itu dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat, khususnya calon jamaah haji, mengenai beratnya perjuangan umat Islam untuk menunaikan ibadah ke Tanah Suci.
Ia mengatakan, perjalanan haji pada zaman dahulu membutuhkan waktu berbulan-bulan melalui kapal laut, melewati samudra dan wilayah tandus dengan penuh perjuangan serta keyakinan.
“Saya mengajak para calon jemaah haji, tontonlah film ini, ya, supaya tahu bahwa menunaikan ibadah haji itu ternyata tidak semudah yang kita bayangkan sekarang. Dahulu kala berjalan di tengah padang pasir yang tandus, yang luar biasa, ya, dengan penuh keyakinan, dengan penuh optimis, akhirnya bisa menunaikan ibadah haji dalam perjalanan panjang yaitu melalui kapal laut, berbulan-bulan,” ujar Amirsyah.
Ajakan untuk menyaksikan film tersebut juga disampaikan Wakil Sekretaris Jenderal MUI Bidang Seni Budaya dan Peradaban Islam Erick Yusuf. Ia menilai film Hamka: Awal Mula (Vol. 3) menyimpan banyak pesan positif yang dapat menjadi bahan pembelajaran bagi masyarakat.
Erick mengajak masyarakat untuk mengapresiasi karya tersebut sekaligus mengambil nilai-nilai kehidupan yang disampaikan melalui perjalanan sejarah Buya Hamka.
Apresiasi serupa disampaikan pendakwah Derry Sulaiman yang mengaku terharu menyaksikan penggambaran kehidupan Buya Hamka dalam film tersebut.
Derry secara khusus mengajak masyarakat Minangkabau untuk mengenal lebih jauh sosok Buya Hamka yang berasal dari Sumatera Barat. Menurutnya, film tersebut memperlihatkan bahwa pembentukan karakter seseorang tidak terlepas dari pendidikan keluarga dan proses kehidupan yang dijalani.
Ia menyoroti ketegasan Haji Rasul dalam mendidik Buya Hamka sebagai bagian dari proses pembentukan pribadi yang kuat dan berintegritas.
“Kita melihat tegasnya Haji Rasul mendidik Buya Hamka. Setiap orang memiliki prosesnya masing-masing untuk menjadi lebih baik,” kata Derry.
Sementara itu, Desy Ratnasari menilai kisah Buya Hamka penting dikenalkan kepada generasi muda agar mereka memahami arti kesungguhan dalam menuntut ilmu dan menjalani kehidupan.
Menurutnya, keberhasilan seseorang memberikan manfaat kepada masyarakat tidak dapat diraih tanpa melalui proses panjang, perjuangan, dan ketekunan.
“Menurut saya, kisah Buya Hamka sangat penting untuk dikenalkan kepada generasi muda. Kita bisa belajar bahwa untuk menjadi seseorang yang memiliki manfaat bagi banyak orang, ada proses panjang yang harus dijalani,” tuturnya.
Aktor Donny Damara juga berharap film tersebut dapat mendorong masyarakat memahami sejarah melalui pengalaman hidup tokoh yang diangkat sekaligus mengambil nilai-nilai positif untuk diterapkan dalam kehidupan masa kini.
Generasi Muda Jangan Bermental Instan
Pesan tentang pentingnya proses turut disampaikan aktor Vino G. Bastian yang memerankan Buya Hamka dalam film tersebut.
Vino mengajak generasi muda untuk tidak memiliki mentalitas serba instan dan meneladani perjuangan Buya Hamka dalam membangun diri melalui pendidikan, karakter, prinsip hidup, dan keimanan.
“Semangat anak muda itu enggak boleh generasi-generasi instan, harus berjuang dari bawah,” kata Vino setelah pemutaran film di Jakarta, Rabu.
Menurut Vino, perjalanan Buya Hamka semasa muda dalam mencari ilmu memberikan gambaran bahwa keberhasilan membutuhkan fondasi yang kuat. Generasi muda, kata dia, perlu membangun kemampuan dan kepribadian sebelum menghadapi berbagai tantangan kehidupan. “(Generasi muda) harus punya ilmu, harus punya karakter, harus punya prinsip, tapi, yang paling benar harus punya iman,” ujarnya.
Vino berharap kisah perjalanan Buya Hamka dapat menginspirasi masyarakat, khususnya anak muda, untuk menghargai proses, terus belajar, dan tidak hanya berorientasi pada hasil yang cepat.
Film Hamka: Awal Mula (Vol. 3) merupakan bagian ketiga sekaligus penutup trilogi biografi Buya Hamka yang mengangkat perjalanan hidup ulama, sastrawan, dan pahlawan nasional Indonesia.
Film tersebut dibintangi sejumlah aktor lintas generasi, antara lain Vino G. Bastian, Mawar De Jongh, Desy Ratnasari, Laudya Cynthia Bella, Donny Damara, Reza Rahadian, Ayu Laksmi, Mathias Muchus, Wafda Saifan, dan Rey Bong.
Film Hamka: Awal Mula (Vol. 3) dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 19 November 2026.*




