Hidayatullah.com – Sekelompok pemukim ilegal ‘Israel’ bersenjata menyerang tiga jurnalis asing di dekat Hebron, di wilayah Tepi Barat yang diduduki, pada hari Rabu.
Peristiwa ini terjadi di tengah meningkatnya kekerasan yang dilakukan oleh para pemukim terhadap warga Palestina dan aktivis internasional. Aksi kekerasan pemukim ‘Israel’ seringkali dihiraukan atau bahkan didukung oleh pasukan ‘Israel’.
Aktivis asal Rusia, Adele Shoko, mengunggah rekaman penyerangan terhadap dirinya, jurnalis AS bernama Jasper Nathaniel dan aktivis Israel-Rusia bernama Andrey X di Twitter. Adele mengatakan bahwa mereka bertiga telah dipukuli dan diancam oleh para pemukim ‘Israel’ yang menenteng senjata api.
Gerombolan pemukim tersebut juga merampas peralatan serta barang-barang pribadi mereka di desa Palestina, Umm al-Khair, yang terletak di kawasan Masafer Yatta, Tepi Barat yang diduduki.
“Jasper dan saya juga dipukuli. Jasper kemudian disemprot dengan cairan merica (pepper spray) dan ditangkap,” tulis Shoko, seraya menambahkan bahwa Nathaniel dibawa pergi oleh pasukan ‘Israel’.
Akibat serangan tersebut, imbuh Shoko, Andrey X mengalami gegar otak dan sempat kehilangan kesadaran beberapa kali selama insiden tersebut, sebelum akhirnya ditahan oleh pihak berwenang.
“Andrey dipukuli dengan sangat kejam dan kehilangan kesadaran beberapa kali di hadapan polisi. Meski demikian, ia tidak diizinkan mendapatkan perawatan di rumah sakit. Ia sempat dimasukkan ke dalam ambulans, namun alih-alih dibawa ke rumah sakit, ia justru dibawa ke kantor polisi. Ia masih berada di sana, ditahan, dan tidak mendapatkan perawatan medis,” tulisnya.
Rekaman video yang diunggah Shoko memperlihatkan sejumlah pemukim—beberapa di antaranya bersenjata—sedang memukuli Nathaniel dan Andrey X.
Video lainnya menunjukkan pasukan ‘Israel’ menggiring Nathaniel pergi, sementara ia berteriak bahwa dirinya baru saja dipukuli.
Aksi kekerasan pemukim ‘Israel’ terhadap warga Palestina telah meningkat tajam selama beberapa bulan terakhir. Tindakan penjajah seringkali dilakukan dengan dukungan pasukan ‘Israel’ dan pemerintahnya.
Hal itu bertujuan untuk memaksa warga Palestina untuk meninggalkan rumah dan tanah mereka.
Serangan ini menyusul insiden pada 16 Oktober di Abu Falah, sebelah timur laut Ramallah, di mana sekelompok pemukim ‘Israel’ yang mengenakan penutup wajah menyerang petani Palestina yang sedang memanen zaitun. Mereka membakar pepohonan dan melemparkan batu menggunakan ketapel.
Jurnalis foto Washington Post, Heidi Levine, yang sedang meliput serangan tersebut, dipukuli, dirampok, dan harus dirawat di rumah sakit. Sementara itu, seorang pria Palestina tertembak di bagian kaki oleh tentara ‘Israel’ yang tiba di lokasi dan melepaskan tembakan peluru tajam serta gas air mata.
Levine, yang saat itu mengenakan rompi pelindung bertuliskan “PRESS” (PERS), menuturkan bahwa para pemukim berulang kali menendang dan memukulinya saat ia berada di tanah, sebelum akhirnya mencuri paspor, ponsel, dan peralatan kameranya. Pemimpin redaksi Washington Post, Matt Murray, mengecam “serangan yang tidak beralasan terhadap seorang jurnalis yang sedang menjalankan tugasnya”. Sejumlah anggota parlemen AS juga menyerukan diadakannya penyelidikan serta diakhirinya kekerasan oleh pemukim di wilayah tersebut.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mencatat lebih dari 1.330 serangan yang melibatkan pemukim Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat dari bulan Januari hingga akhir Juli. Angka ini mencakup rata-rata enam serangan per hari, yang merupakan tingkat kejadian tercepat dalam kurun waktu sekitar 20 tahun terakhir.*




