Hidayatullah.com– Para pelajar di sekolah-sekolah di Jerman melakukan aksi mogok guna menentang kebijakan wajib militer yang berusaha dihidupkan kembali oleh pemerintah pimpinan Kanselir Friedrich Merz.
Salah satu penyelenggara aksi mogok, Bela Breitner, dari School Strike Against Compulsory Military Service, mengatakan pemerintah federal “serius berupaya memberlakukan kembali wajib militer secara bertahap”, lansir BBC hari Jumat (25/9/2026).
Dalam sebuah aksi protes di Hamburg, para demonstran mengusung bendera dan membentangkan spanduk bertuliskan “Kami tidak akan ambil bagian dalam perang kalian”.
Belum lama ini semua remaja berusia 18 tahun di Jerman dikirimi kuesioner yang menanyakan apakah mereka tertarik dan bersedia bergabung dengan angkatan bersenjata.
Salah seorang demonstran, Elias Bernhard, seorang remaja berusia 16 tahun dari Hamburg, mengatakan bahwa tanggapan terhadap kuesioner tersebut “menunjukkan bahwa kaum muda tidak ingin bergabung dengan Bundeswehr (angkatan bersenjata Jerman)”.
“Itulah mengapa saya turun ke jalan hari ini. Itulah mengapa kami serius melakukan mogok sekolah sampai wajib militer dicabut. Kami akan terus berjuang.”
Kuesioner itu wajib diisi oleh kaum pria dan bersifat sukarela bagi wanita. Semua pria berusia 18 tahun wajib menjalani pemeriksaan medis untuk menilai kelayakan mereka untuk kemungkinan menjalani dinas militer.
Para penyelenggara protes mengatakan mereka melakukan aksi setelah beberapa remaja berusia 18 tahun di kota-kota Kiel dan Flensburg, di Jerman bagian utara, dikirimi undangan resmi untuk menjalani pemeriksaan medis, meskipun mereka menyatakan tidak berminat untuk menjadi tentara dalam formulir pendaftaran yang disebarkan.
Kelompok aksi tersebut mengatakan lebih dari seratus demonstrasi direncanakan digelar di berbagai daerah di Jerman seperti Kiel, Hamburg, Berlin dan Frankfurt.
Seorang juru bicara Kementerian Pertahanan mengatakan kepada BBC bahwa berdasarkan hukum, kewajiban untuk menjalani pemeriksaan medis berlaku “untuk semua pria yang berkewajiban menjalani dinas militer yang lahir setelah 31 Desember 2007”.
Ketentuan itu juga berlaku bagi orang-orang yang telah menyatakan bahwa mereka tidak tertarik untuk mengikuti wajib militer.
Juru bicara tersebut mengatakan bahwa sejak Juli sekitar 1.000 pria berusia 18 tahun, yang tidak menunjukkan minat pada militer, sudah menjalani pemeriksaan medis.
Semasa Perang Dingin, Jerman, seperti halnya kebanyakan negara Eropa lain, memiliki banyak personel militer. Namun, jumlahnya dikurangi pada era 1990-an setelah runtuhnya Iron Curtain (Tirai Besi).
Kanselir Angela Merkel mengakhiri wajib militer pada 2011. Namun sekarang, dibayang-bayangi ancaman Rusia dan di bawah tekanan Amerika Serikat, Kanselir Friedrich Merz berjanji akan menjadikan Bundeswehr sebagai tentara konvensional terkuat di Eropa.
Bundeswehr saat ini memiliki sekitar 186.700 prajurit. Pada awal tahun 2030-an, Jerman bertekad meningkatkan jumlahnya menjadi 260.000, ditambah sekitar 200.000 pasukan cadangan, guna memenuhi target kekuatan pasukan NATO yang baru dan memperkuat pertahanan Jerman.*




