Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
BeritaCover Story

Pakar Filsafat Islam UNIDA Ungkap Penyebab Generasi Muda Terpapar Ateisme di Media Sosial

Ahmad
Terakhir diupdate: 3 Oktober 2026 07:56 7:56 am
Ahmad
Dipublikasikan 3 Oktober 2026 09:46
Bagikan
Dosen Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Dr Syamsuddin Arif
Bagikan

Hidayatullah.com— Maraknya gagasan ateisme di era digital tidak lagi sebatas diskursus di ruang-ruang akademik, melainkan telah merambah ke platform media sosial populer seperti TikTok dan YouTube yang dekat dengan generasi muda.

Pakar filsafat Islam Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Prof. Dr. Syamsuddin Arif, menilai fenomena ini sebagai tantangan intelektual serius yang dipicu oleh dominasi sains dan maraknya kekeliruan logika (logical fallacy) di ruang publik.

Hal tersebut disampaikan beliau dalam kuliah umum bertema “Ancaman Ateisme terhadap Generasi Muda” di Institut Agama Islam (IAI) Persis Garut, Selasa (29/9/2026).

“Hari ini banyak sekali konten yang secara sengaja mempromosikan ateisme di media sosial,” ujar peneliti senior Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) tersebut.

Pergeseran pola keagamaan ini sejalan dengan temuan Pew Research Center (2010–2020) yang mencatat pertumbuhan populasi tanpa afiliasi agama—termasuk ateis dan agnostik—naik dari 1,6 miliar menjadi 1,9 miliar jiwa (bertambah 17 persen). Di sejumlah negara, tren ini didominasi oleh kelompok usia muda rentang 18–39 tahun.

Baca Juga

Iraq Dapat Pengecualian dari Sanksi Amerika Terkait Penerbangan Iran dari dan ke Najaf
Houthi Menarget Gardu Listrik Masjid Nabawi, Kata Koalisi
Menlu AS Bicarakan Perlucutan Senjata Hizbullah dengan Raja Yordania
Masjidil Aqsha Terus Diserbu Pemukim, Ulama Palestina Serukan ‘Jumat Kemarahan’
Menteri Ekstremis ‘Israel’ Pimpin Gerombolan Pemukim Yahudi Serbu Masjid Ibrahimi

Sains dan Algoritma Media Sosial

Menurut Syamsuddin, salah satu pintu masuk utama paham ini adalah pemahaman yang keliru terhadap sains. Generasi muda yang mendalami ilmu empiris sering kali terjebak dalam pandangan “saintisme” (scientism)—paham yang menganggap sains sebagai satu-satunya ukuran kebenaran.

“Ketika sesuatu tidak dapat dilihat atau diuji secara empiris, sebagian orang langsung menyimpulkan bahwa sesuatu itu tidak ada. Padahal dalam filsafat, tidak terlihat bukan berarti tidak ada,” jelasnya.

Kondisi tersebut diperparah oleh kerja algoritma media sosial yang merekomendasikan konten berdasarkan ketertarikan pengguna. Paparan konten yang dimulai dari sains atau skeptisisme ringan secara bertahap dapat mengarahkan generasi muda pada narasi ateisme yang dipadatkan dalam video berdurasi singkat.

Cacat Logika dalam Argumen Ateisme

Syamsuddin menyoroti bahwa banyak argumen ateisme yang tampak meyakinkan sebenarnya mengandung cacat logika dasar. Salah satunya adalah menyamakan ketidaktahuan pribadi dengan ketiadaan wujud (argument from ignorance).

“Seseorang yang tidak melihat atau tidak mengetahui keberadaan Tuhan tidak bisa secara logis langsung menyimpulkan Tuhan itu tidak ada. Ketidaktahuan kita akan sesuatu bukanlah bukti ketiadaan sesuatu itu,” tegasnya.

Selain itu, ia juga menyinggung argumen penderitaan (argument from evil). Dalam argumen ini, ketiadaan tindakan Tuhan saat terjadi kejahatan atau bencana kerap diartikan sebagai ketiadaan wujud-Nya.

“Ini adalah kekeliruan mengira ketiadaan tindakan sebagai ketiadaan pelaku (mistaking non-action for non-existence). Sama seperti seorang ayah yang tidak membelikan anaknya sepeda motor, bukan berarti sang ayah tidak ada atau tidak mampu,” ujarnya memberi analogi.

Jawab Pertanyaan dengan Argumen

Menghadapi arus informasi yang masif, Syamsuddin menekankan pentingnya membangun daya kritis dan literasi filsafat bagi generasi muda, ketimbang merespons pertanyaan mereka dengan doktrin atau pelabelan semata.

“Kalau belum ketemu cari, kalau tidak tahu pelajari. Jangan langsung bilang tidak ada,” tuturnya.

Ia menyimpulkan bahwa pendekatan terbaik menghadapi tantangan ateisme adalah memperkuat penguasaan logika dan literasi keagamaan, sehingga anak muda mampu mengevaluasi mana argumentasi yang valid dan mana yang memiliki cacat nalar. *

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ABGagnostikAteismegenerasi mudaHeadlineislammedia sosialmedsoaTikTok
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Studi: Kopi Dikaitkan dengan Penurunan Risiko Kanker dan Sirosis Hati
Tulisan selanjutnya Raja Yordania Abdullah II Menlu AS Bicarakan Perlucutan Senjata Hizbullah dengan Raja Yordania

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Drone ‘Israel’ Meledak, Tewaskan Dua Tentaranya Sendiri

Berita
28 September 2026 05:00
Temuan BRIN, Bahaya Vape: 100% Berdampak Diabetes, 92% pada Paru-Paru
Negara Bagian California Tetapkan Idul Fitri dan Idul Adha sebagai Hari Libur Resmi
Warga Maroko di Belasan Kota Gelar Demo Tolak Normalisasi Pemerintahnya dengan ‘Israel’
Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam

Terbaru

  • Iraq Dapat Pengecualian dari Sanksi Amerika Terkait Penerbangan Iran dari dan ke Najaf
  • Houthi Menarget Gardu Listrik Masjid Nabawi, Kata Koalisi
  • Menlu AS Bicarakan Perlucutan Senjata Hizbullah dengan Raja Yordania
  • Pakar Filsafat Islam UNIDA Ungkap Penyebab Generasi Muda Terpapar Ateisme di Media Sosial
  • Studi: Kopi Dikaitkan dengan Penurunan Risiko Kanker dan Sirosis Hati
  • Ustadz Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
  • Temuan BRIN, Bahaya Vape: 100% Berdampak Diabetes, 92% pada Paru-Paru
  • Masjidil Aqsha Terus Diserbu Pemukim, Ulama Palestina Serukan ‘Jumat Kemarahan’
  • Menteri Ekstremis ‘Israel’ Pimpin Gerombolan Pemukim Yahudi Serbu Masjid Ibrahimi
  • MUI: Wajib Halal Oktober 2026 Bagian dari Pemenuhan Hak Masyarakat

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

MUI: Wajib Halal Oktober 2026 Bagian dari Pemenuhan Hak Masyarakat

1 Oktober 2026 16:02
Berita

LPPOM Dorong Restoran Terbuka soal Status Halal Setiap Outlet

1 Oktober 2026 15:49
Berita

Jurnalis Ini Dipenjara Usai Kritik Menteri India soal Pembongkaran Masjid

1 Oktober 2026 15:47
Berita

Bertemu tim ‘Israel’, Pemain Catur Terbaik Australia Pilih Boikot

1 Oktober 2026 14:54
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?