Hidayatullah.com— Sebuah pemandangan lautan bendera hijau membentang ratusan meter sampai ke panggung. Seorang anak laki-laki berusia enam tahun berpakaian tempur, termasuk militer, rompi anti peluru dan senjata mainan. Demikian gambaran yang mewarnai hari jadi kelompok pejuang Hamas ke-23.
Di depan puluhan ribu warga Palestina di Jalur Gaza, Perdana Menteri Palestina yang sah, Ismail Haniyah mengatakan Hamas tetap tidak akan mengakui Israel. Haniyah juga mengatakan akan melindungi pendirian warga Palestina.
Ada sedikit hal baru dalam pidato Ismail Haniya. Setelah dua puluh tiga tahun berdirinya gerakan ini, peringatan itu tetap nampak, meski tetap menunjukkan menunjukkan kekuatannya.
Dalam pidatonya Haniya mengatakan, bahwa gerakan tersebut akan \”melanjutkan pengoreksian penyimpangan sejarah\” yang menimpa warga Palestina akibat Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) mengakui Israel.
\”Hari ini, pada ulang tahun berdirinya, Hamas menekankan bahwa komitmen terhadap prinsip rekonsiliasi,\” ujar Haniya di depan yang memenuhi jalan-jalan Kota Gaza, sambil melambai-lambaikan spanduk warna hijau.
\”Rekonsiliasi adalah suatu keharusan agar rakyat Palestina kembali persatuan mereka dalam menghadapi pendudukan,\” katanya.
Haniya berpidato kepada lebih dari 100.000 pendukung Hamas serta anggotanya yang berkumpul dengan keluarga mereka di alun-alun Al Katiba, Gaza City dan dia naik ke podium melalui gambar yang menampilkan Masjid Al Aqsa di Jerusalem.
Haniya menyerukan kembali tawaran sebelumnya yang diberikan oleh pendiri Hamas, Ahmed Yassin, bahwa Hamas dapat bertahan dalam baku tembak jangka panjang dengan Israel tanpa mengakui negara Yahudi dengan mengatakan \”kami memerdekakan apa yang dapat kami bebaskan di Tepi Barat, Jalur Gaza, Jerusalem atau kawasan lain kemudian perdamaian\”.
Haniya juga mengkritisi Pemerintah Nasional Palestina di Tepi Barat yang \”memerintah di balik mimpi\”, dengan mendesak mereka untuk melakukan kesungguhan atas perdamaian dan \”upaya perlawanan bersenjata\”.
Hamas memangkan Pemilu secara sah, meski akhirnya Amerika menolak mengakuinya. Amerika bersama sekutunya bahkan menetapkan Hamas sebagai organisasi “teroris”. Hamas akhirnya kembali mengangkat senjata dan mengambil alih Jalur Gaza melalui perlawanan pada 2007, satu tahun setelah Pemilu parlemen.[bbc/prtv/cha/hidayatullah.com]
Ulang Tahun ke-23, Hamas Tetap Tak Akui Israel
