BARU-BARU ini Polri membongkar praktik prostitusi kaum homoseksual secara online yang melibatkan anak-anak.
Sekejap, berita semacam di atas mendadak viral belakangan ini. Hal itu dipicu oleh terbongkarnya praktik amoral yang menimpa korban anak-anak.
Mengerikan sekaligus mimpi buruk bagi setiap keluarga dan para orang tua. Pelacuran yang dulu hanya identik dilakukan oleh orang dewasa tak beradab, kini sudah mulai menyasar anak-anak sebagai korbannya.
“Kita harus garis bawahi bahwa anak-anak itu harus dilindungi,” kata Agung Setya di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, seperti dilansir laman berita detik.com, beberapa saat usai kejadian.
Mengerikan! 99 Anak Jadi Korban Eksploitasi Prostitusi Kaum Homo
Sebagai orang tua rasanya miris membayangkan segala kejadian yang makin tak terkendali tersebut.
Satu pertanyaan yang menggelayut, apakah orang tua merasa cukup aman dengan janji aparat kepolisian bahwa anak-anak dilindungi oleh Negara?
Apakah kita harus menunggu korban lain berjatuhan lagi?
Diakui atau tidak, kini ada upaya massif yang terencana untuk merusak moral anak-anak. Bahkan mungkin upaya itu lebih besar dibanding pengorbanan merawat dan melindungi mereka.
Sebut saja tontonan dan hiburan yang tak mendidik, makanan yang tidak menyehatkan, hingga berbagai ragam game dan mode fashion. Belum lagi buku-buku ‘bacaan jahat’ yang siap menerkam otak dan pikiran anak-anak.
Dengan fakta di atas, lalu dimana bentuk perlindungan yang disebutkan? Apakah semua orang tua bisa mengandalkan semua ini?
Sungguh berat hidup di zaman fitah ini. Jika tanpa agama, mungkin tak banyak orang sanggp bertahan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala (Swt) pernah berfirman:
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا …
“… Dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali agama Allah wahai semua manusia…” (QS: Ali imran [3]: 103).
Disebutkan dalam Sunan at-Tirmidzi, yang dimaksud tali Allah ialah al-Quran. Al-Qur’an digambarkan sebagai tali Allah yang kokoh. Peringatan yang sarat dengan kebijaksanaan, serta jalan yang lurus bagi yang menapakinya.
Untuk itu hendaknya setiap orang tua berpegang teguh dengan al-Qur’an, termasuk dalam penjagaan anak-anak dengan mengajarkan al-Qur’an.
Pertanyaannya, bagaimana al-Qur’an tersebut bisa menjaga dan memberi perlindungan kepada anak-anak dan anggota keluarga?
Atau bagaimana al-Qur’an menjadi tali pegangan yang menolong keluarga yang sedang dilanda arus deras berupa kehidupan modern ini?
Selanjutnya, di antara yang bisa dilakukan adalah membiasakan anak membaca wirid pagi-sore atau setiap petang sebelum tidur malam.
Bagi orang beriman, bacaan-bacaan tertentu yang dibiasakan itu diyakini sanggup menjadi tameng dari pengaruh bisikan jahat jin dan manusia.
Sebut misalnya, membiasakan membaca ayat al-Kursi, Surah al-Ikhlash, Surah al-Falaq, Surah an-Nas, dan beberapa bacaan doa lainnya.
Untuk langkah pertama, setiap orang tua membacakan ayat-ayat tersebut untuk ditirukan oleh anak-anak di rumah atau di sekolah.
Diupayakan, setelah terbiasa dan sudah hafal, mereka dianjurkan untuk membaca dan berdoa sendiri rutin di waktu-waktu yang disunnahkan itu
Hal ini penting sebab diyakini, perilaku-perilaku penyakit menyimpang seperti lesbian, Gay (homoseksual), Biseksual dan Transgender (LGBT) dan yang semacamnya tak lain merupakan bisikan-bisikan jahat dari golongan jin dan manusia.
Allah berfirman:
ٱلَّذِى يُوَسۡوِسُ فِى صُدُورِ ٱلنَّاسِ (٥) مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ (٦)
“Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari jin dan manusia.” (Surat An-Nas [114]: 5-6).
Awalnya, bisikan-bisikan itu mungkin membuat anak-anak takut dan khawatir. Namun kelamaan membuat mereka menikmati dan menjadi biasa, bahkan ketagihan.
Terakhir, mari bentangkan tali Allah dalam diri anak dan keluarga. Jika bukan orang tua yang peduli, lalu siapa lagi?
Jika bukan kepada al-Qur’an dan sunnah Nabi, lalu kemana tali penolong itu hendak dicari?.*/Mujtahidah, ibu rumah tangga di Paser, Kaltim