Ada saat-saat dalam hidup ketika seluruh ikhtiar terasa mentok. Pintu demi pintu tertutup, manusia yang diharapkan memberi pertolongan tak mampu berbuat banyak. Pada momen seperti itu, mau mengetuk pintu bumi yang sering mengecewakan atau justru pintu langit dengan memohon kepada Allah?
Hidayatullah.com | DALAM sejarah orang-orang beriman terdapat pelajaran berharga: ketika jalan-jalan di bumi seakan berakhir, jalan menuju langit tidak pernah tertutup. Kisah Abu Mu’allaq, seorang sahabat Nabi SAW dari kalangan Anshar, adalah salah satu bukti tentang bagaimana ketenangan, shalat, dan doa yang tulus mampu menghadirkan pertolongan Allah dari arah yang sama sekali tidak terduga.
Dalam kitab “Ad-Dā’ wad Dawā’” (1997: 13-14), Ibnu al-Qayyim menukil riwayat Ibnu Abi ad-Dunya dari Hasan al-Bashri mengenai seorang sahabat Nabi dari kalangan Anshar bernama Abu Mu’allaq Ra. Ia adalah pedagang yang jujur, wara’, dan tekun beribadah. Dalam urusan bisnis, ia mengelola modal pribadi maupun titipan pihak lain ke berbagai wilayah.
Suatu hari, dalam perjalanan dagang, langkahnya dihadang perampok bersenjata lengkap. Perampok itu langsung mengancam, “Serahkan semua hartamu, dan aku akan membunuhmu!” Abu Mu’allaq merespons dengan tenang, “Ambillah semua harta ini, untuk apa kau menumpahkan darahku?”
Sayangnya, si begal bersikeras, “Harta ini sudah pasti jadi milikku. Yang kuinginkan sekarang adalah nyawamu.” Melihat negosiasi buntu dan nyawanya di ujung tanduk, Abu Mu’allaq tidak memohon belas kasihan manusia. Ia hanya mengajukan satu permintaan, “Jika engkau menolak, izinkan aku shalat empat rakaat terlebih dahulu.”
“Shalatlah semaumu,” jawab si perampok meremehkan.
Abu Mu’allaq lalu berwudhu dan mendirikan shalat empat rakaat. Pada sujud terakhir, ia memanjatkan doa:
“Ya Wadūd, Ya Wadūd, wahai Pemilik ‘Arsy yang Mulia, wahai Dzat Yang Maha Melakukan apa yang Dia kehendaki. Aku memohon kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu yang tak tertandingi, dengan kerajaan-Mu yang tak tertundukkan, dan dengan cahaya-Mu yang memenuhi rukun-rukun ‘Arsy-Mu, agar Engkau melindungiku dari kejahatan perampok ini. Wahai Penolong, tolonglah aku (Ya Mughits, aghitsni)!”
Ia mengulang seruan itu tiga kali. Tak berselang lama, datang seorang penunggang kuda membawa tombak. Tanpa membuang waktu, penunggang kuda itu langsung menghujamkan tombaknya ke arah perampok hingga tewas di tempat.
Abu Mu’allaq Ra. yang terkejut bertanya, “Siapa engkau? Semoga Allah membalas kebaikanmu, Dia telah menyelamatkanku lewat dirimu hari ini.”
Penunggang misterius itu menjawab, “Aku malaikat dari langit keempat. Saat engkau berdoa pertama kali, pintu-pintu langit bergemeretak. Ketika doa keduamu terucap, para penghuni langit gempar. Lalu pada doa ketiga, ada suara berkata: ‘Ini doa orang yang sedang terjepit bahaya.’ Maka aku meminta izin kepada Allah agar diserahi tugas membunuhnya.”
Hasan al-Bashri menegaskan: siapa saja yang berwudhu, mendirikan shalat empat rakaat, lalu membaca doa tersebut, doanya akan dikabulkan; baik sedang berada dalam kesulitan maupun dalam keadaan lapang.
Kisah di atas sering dipahami semata-mata sebagai peristiwa mukjizat atau pertolongan gaib. Namun jika dibaca lebih dalam, ada teladan rasional dan psikologis yang relevan bagi kehidupan sehari-hari, terutama di era modern yang penuh tekanan.
Pertama, penguasaan diri saat menghadapi krisis. Kebanyakan orang modern, ketika menghadapi masalah mendadak —seperti penipuan finansial, ancaman kebangkrutan, pemutusan hubungan kerja, atau fitnah di tempat kerja— langsung bereaksi reaktif. Pikiran kacau, panik, dan mengambil keputusan impulsif yang sering kali justru memperburuk keadaan.
Abu Mu’allaq menunjukkan respons yang berbeda. Di bawah todongan senjata, ia mampu mengendalikan emosi dan meminta jeda. Shalat empat rakaat baginya bukan sekadar ritual pelarian, melainkan mekanisme untuk menenangkan detak jantung, menjernihkan akal sehat, dan mengembalikan fokus kepada otoritas tertinggi: Tuhan.
Kedua, keseimbangan etika kerja dan spiritualitas. Abu Mu’allaq bukan pertapa yang menghabiskan seluruh waktunya di masjid tanpa bekerja. Ia seorang profesional di bidangnya; pebisnis yang aktif mengelola permodalan. Namun, ia memegang prinsip wara’ (kehati-hatian moral) dan integritas. Doa yang tembus ke langit lahir dari pribadi yang menjaga kehalalan nafkah dan konsistensi ibadah, bukan kepasrahan dadakan dari orang yang malas berusaha.
Ketiga, arah sandaran. Di era digital, kecenderungan umum saat terkena masalah adalah segera membuat kegaduhan di ruang publik, berkeluh kesah di media sosial, atau bergantung penuh pada jaringan relasi manusia. Langkah-langkah manusiawi tentu sah diambil, namun kerap kali melupakan esensi tauhid: bahwa sumber perlindungan utama ada pada Allah.
Kisah Abu Mu’allaq Ra. mengingatkan kita bahwa ketika jalan buntu di hadapan manusia terlihat nyata, mengambil jeda untuk wudhu, mendekatlah kepada Allah melalui shalat, dan berdoa dengan hati yang pasrah adalah langkah nyata untuk memulihkan ketenangan batin.
Bantuan Allah pada masa kini mungkin tidak selalu datang berupa sosok berkuda, melainkan hadir dalam bentuk jalan keluar logis yang tak terduga, ketenangan berpikir, dan solusi atas masalah yang semula tampak mustahil diurai. Tidak mengherankan ketika Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Dan dijadikan penyejuk hatiku dalam shalat.” (HR. Ahmad) Karena memang shalat mengandung ketenangan dan solusi. (MBS)




