Oleh: Muhaimin Iqbal
SUDAH sekitar 10 tahun saya tidak menelusuri pulau Jawa melalui jalan darat, baru melakukannya lagi sejak beberapa hari lalu bersama rombongan Tour de Keboen. Hal yang luar biasa saya jumpai adalah jarak tempuh perjalanan darat di Jawa. Dulu biasa nyetir sendiri Jakarta – Semarang dalam tempo 8 jam, kini jarak tempuh itu – bahkan diluar hari raya, sampai 14 jam. Kemacetan lalu lintas yang bukan hanya di kota besar tetapi sudah merembet ke hampir seluruh Jawa bisa menjadi Freezing Point atau titik beku kemakmuran di negeri ini.
Titik beku adalah menggambarkan situasi di mana tidak ada gerakan atau perubahan, semuanya stuck tidak bergerak. Ketika barang dan orang lambat bergerak, perputaran ekonomi melambat di tengah biaya yang terus meningkat. Biaya bahan bakar dan unit waktu untuk setiap pekerjaan meningkat secara luar biasa – disitulah kebekuan kemakmuran terjadi.
Masyarakat yang setiap hari mengalami kemacetan di kota-kota besar seperti Jakarta, dan juga masyarakat yang sehari-hari melalui jalan-jalan di Jawa khususnya pantura – mereka sudah menjadi kebal dengan kemacetan ini sehingga tidak lagi merasakan keanehan dalam rutinitas problem besar transportasi ini.
Lantas apa hubungannya kemacetan ini dengan kebekuan kemakmuran? Karena ongkos produksi dan transportasi meningkat, masyarakat membayar setiap barang yang dibutuhkannya lebih mahal dari yang seharusnya. Penghasilan rata-rata masyarakat menurun – relative terhadap daya beli, dan inilah dugaan saya yang menjadi salah satu penyebab dari proses pemiskinan di Jawa.
Untuk sektor transportasi, saya melihat di seluruh jawa baik itu di kota-kota besarnya maupun perjalanan antar kotanya, masih menjadi unsur yang membekukan kemakmuran. Bila tidak bisa diatasi proses pembekuan ini akan berlangsung terus dan semakin lama rakyat akan semakin miskin.
Transportasi sebenarnya bisa berfungsi sebaliknya, bukan membekukan kemakmuran tetapi bisa menjadi tipping point kemakmuran atau titik didih kemakmuran – suau kondisi dimana tiba-tiba bermunculan masyarakat yang makmur dari peluang-peluang baru yang timbul karena lancarnya transportasi.
Di China misalnya, ekonominya terpacu dengan cepat karena mereka juga memiliki jalur kereta cepat terpanjang di dunia. Untuk kereta cepat yang didefinisikan sebagai kereta yang mampu menempuh perjalanan rata-rata di atas 200 km/jam, kini China memiliki jalur sepanjang 6.800 KM dan akan menjadi 18.000 KM dalam tiga tahun mendatang. Bahkan projek penambahan jalur kereta cepat ini saja di China menjadi stimulus ekonomi tersendiri di tengah krisis ekonomi yang menghantui negeri-negeri pesaingnya.
Kita sebenarnya juga dapat melakukan hal yang sama, tidak usah muluk-muluk misalnya mulai dari Jakarta yang gubernur-nya baru. Bila dia bisa mewujudkan transportasi massal yang murah, aman dan nyaman – maka sektor transportasi bisa menjadi pemicu tipping point kemakmuran di Jakarta. Pegawai tidak lagi perlu memaksakan membeli dan mencicil mobil, kelebihan pendapatannya bisa diinvestasikan secara produktif.
Hal yang sama bisa dilakukan di Jawa, bila Perusahaan Kereta Api Indonesia bisa secepatnya membangun jalur-jalur ganda kereta Api di seluruh Jawa – maka barang dan orang bisa bergerak jauh lebih cepat, tepat waktu dan aman. Biaya produksi barang turun, masyarakat akan membayar barang lebih rendah. Kelebihan penghasilannya bisa untuk lagi-lagi investasi di sector riil yang produktif.
Tetapi bagaimana bila gubernur Jakarta yang diharapkan banyak pihak untuk mampu berbuat ini ternyata juga tidak bisa berbuat banyak mengatasi kemacetan yang semakin dasyat ? Bagaimana bila PT KAI tidak juga mampu segera membangun jalur-jalur ganda di tengah transportasi darat yang semakin lumpuh?
Rakyat seperti kita-kita insyaallah masih bisa berbuat sesuatu. Ilhamnya adalah ayat-ayat berikut:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan…” (QS alam-Nasyrah [94] : 5-6)
Di tengah kesulitan transportasi yang mungkin tidak teratasi dengan baik oleh pihak-pihak yang berkompeten, masyarakat yang bisa memberi solusi akan memiliki peluang tersendiri. Project O-JEX yang development-nya masih saya lombakan di situs ini misalnya, bisa menjadi peluang Anda untuk menemukan kemudahan yang hadir bersama kesulitan itu.
Kemudian tidak berhenti di sini, diilhami pula oleh ayat berikutnya:
فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ
“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (QS alam Nasyrah [94]:7), rakyat seperti kita dapat terus berbuat mengatasi masalah demi masalah, menghadirkan kemudahan demi kemudahan.
Jadi ekonomi akan terus membeku dalam kemiskinan atau mendidih menyebarkan kemakmuran, itu tidak hanya tergantung pada para pemimpin dan pemegang otoritas negeri ini : mereka harus segera berbuat sesuai tanggung jawabnya, tetapi pada saat bersamaan kita juga bisa berbuat sesuai kapasitas kita. InsyaAllah!
Penulis adalah Direktur Gerai Dinar, kolumnis hidayatullah.com