Hidayatullah.com– Presiden Libanon Joseph Aoun, hari Jumat (21/11/2025), mengatakan bahwa monopoli negara atas persenjataan tidak terelakkan dan mendesak dibentuknya sebuah komite pemantau gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah guna memastikan bahwa hanya tentara pemerintah saja yang memiliki senjata di wilayah bagian selatan Libanon.
Di bawah tekanan besar Amerika Serikat dan kekhawatiran akan serangan dari Israel, Libanon bertekad untuk melucuti militan Syiah dukungan Iran, Hizbullah, yang sekarang melemah setelah para pemimpinnya tewas dan daerah pertahanannya digempur oleh Zionis Israel.
Meskipun sudah dicapai kesepakatan gencatan senjata November tahun lalu, sampai sekarang Israel masih kerap melancarkan serangan ke wilayah Libanon dengan alasan menarget militan Hizbullah yang tersisa.
Berdasarkan rencana yang disetujui pemerintah, militer Libanon diamanati untuk melucuti persenjataan dan infrastruktur militer Hizbullah yang berada di selatan Sungai Litani — sekitar 30 kilometer dari perbatasan — sampai akhir tahun ini, sebelum kemudian melakukan perlucutan senjata Hizbullah di bagian lain Libanon.
Memastikan kontrol oleh negara atas persenjataan dan keputusan perihal perang dan perdamaian merupakan hal yang “penting dan tidak terelakkan” kata Presiden Joseph Aoun dalam pidato di malam peringatan Hari Kemerdekaan Libanon, seperti dilansir AFP.
Dia mengatakan Libanon siap untuk memberntuk Lebanon siap mempercayakan komite pengawas gencatan senjata, yang terdiri dari Amerika Serikat, Prancis, Libanon, Israel, dan pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa, guna “memastikan bahwa di wilayah Litani selatan, hanya tentara Libanon yang menjalankan kedaulatannya dengan caranya sendiri.”
Dia juga menegaskan bahwa negaranya siap untuk melakukan negosiasi yang dijembatani oleh Amerika Serikat atau lembaga internasional guna memastikan tidak akan ada lagi agresi lintasbatas wilayah negara seperti yang selama ini kerap terjadi.
Aoun menyampaikan pidatonya dari wilayah selatan Libanon, di mana Israel masih menempatkan pasukannya di lima daerah yang dianggapnya strategis.
Aoun mendesak negara-negara sahabat dan saudara Libanon untuk ikut memantau proses tersebut dengan memberikan batas waktu yang jelasdan pasti, mengimplementasikan mekanisme dukungan internasional bagi tentara Libanon, serta memberikan bantuan dalam upaya-upaya rekonstruksi.
Dengan melakukan itu semua diharapkan semua persenjataan akan berada di tangan negara, di wilayah Libanon yang utuh, imbuhnya.
Sementara serangan oleh Israel masih terus berlanjut, kantor berita resmi Libanon National News Agency (NNA) melaporkan bahwa satu orang tewas dalam serangan udara yang dilancarkan Israel pada hari Jumat di bagian selatan Libanon.
Menurut Kementerian Kesehatan, lebih dari 330 orang kehilangan nyawa di Libanon dan 945 lainnya terluka sejak tercapainya kesepakatan gencatan senjata tahun lalu.*




