Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
BeritaGhazwul Fikr

SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 6 Mei 2026 12:57 12:57 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 6 Mei 2026 12:55
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com – Berbagai peristiwa dan wacana yang berkembang belakangan ini menunjukkan bahwa feminisme memang hadir untuk melestarikan konflik. Hal itu ditegaskan oleh Dr. Akmal Sjafril dalam kajian daring Tuesday’s Special edisi Selasa (05/05) yang diselenggarakan oleh Sekolah Pemikiran Islam (SPI).

Menurut Akmal, siapa saja yang ingin memahami feminisme harus terlebih dahulu memahami konsep gender. “Gender itu berbeda dengan jenis kelamin. Jika jenis kelamin membedakan manusia berdasarkan organ, maka gender adalah ciri perilaku, psikologis atau peran sosial yang diidentikkan dengan jenis kelamin tertentu. Misalnya laki-laki itu maskulin dan perempuan itu feminin, suami berkewajiban mencari nafkah dan istri fokus mendidik anak, lelaki mengangkat galon dan perempuan mengenakan rok, dan sebagainya,” ujar Akmal.

Pembedaan di antara laki-laki dan perempuan adalah hal yang wajar dalam pandangan agama dan budaya. Hanya saja, konsep gender yang dikembangkan di Barat menganggap bahwa pembedaan tersebut merupakan murni konstruksi sosial budaya.

“Artinya, yang menentukan suami sebagai kepala keluarga, ibu wajib berusaha menyusui anaknya dan sebagainya itu adalah semata-mata konsensus masyarakat, bukan kodrati. Karena itu, kaum feminis berupaya untuk mendekonstruksi tatanan itu, sehingga laki-laki dan perempuan dianggap sama saja, tidak memiliki peran yang berbeda,” ujar peraih gelar doktor ilmu sejarah dari Universitas Indonesia (UI) itu.

Karena pandangan yang semacam itu, feminisme selalu memandang buruk segala pembedaan. “Mereka bersikeras bahwa perempuan harus dianggap sama dengan lelaki di dunia kerja dan menerima gaji yang sama, misalnya. Pada saat yang bersamaan, mereka juga tak bisa memungkiri adanya perbedaan antara pegawai lelaki dan perempuan. Mereka juga memperjuangkan cuti datang bulan dan memperpanjang cuti melahirkan, misalnya. Permintaan mereka itu justru menunjukkan bahwa memang ada perbedaan di antara laki-laki dan perempuan, dan pembedaan tidak perlu ditafsirkan negatif sebagai diskriminasi, dominasi atau misogini. Adanya kondisi-kondisi khusus bagi pekerja perempuan itu adalah hikmah mengapa agama tidak membebankan kewajiban mencari nafkah kepada perempuan, meski tidak melarangnya secara mutlak juga,” ungkap Akmal lagi.

Baca Juga

Ledakan Terdengar di Riyadh, Arab Saudi Keluarkan Peringatan Serangan Udara
Dorong Tinggalkan Kebiasaan Scrolling, Singapura Beri Imbalan Warganya yang Baca Buku
Irlandia Boikot Eurovision untuk Kedua Kalinya, Soroti Situasi Kemanusiaan Gaza
Mantan Presiden Kosovo Dihukum Penjara 25 Tahun karena Kejahatan Perang
Oman Serukan Rute Alternatif Pengiriman LNG Supaya Tidak Lewat Hormuz

Sikap kaum feminis yang menolak segala pembedaan itu pada akhirnya melestarikan konflik di tengah-tengah masyarakat yang tidak jarang terjadi di alam bawah sadar. Untuk menjelaskan hal ini, Akmal mengambil dua contoh peristiwa yang belum lama terjadi.

“Kasus pertama adalah pernyataan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bu Arifah Fauzi, yang sempat merespon kecelakaan kereta di Bekasi Timur dengan usulan agar gerbong khusus perempuan tidak lagi di posisi paling depan dan belakang, melainkan di tengah. Pernyataan ini dikritik publik, karena tidak ada hubungannya dengan permasalahan yang sedang dihadapi. Pemerintah semestinya mengupayakan supaya tidak ada kecelakaan lagi, dan bukan meminimalisir korban perempuan semata,” ujar Akmal.

Meskipun Menteri PPPA telah mengoreksi sikapnya, hal itu tetap perlu menjadi perhatian bersama. “Ketika jatuh korban dari kalangan perempuan, mengapa sebagian orang seolah refleks mengalihkan pandangannya kepada kaum lelaki, kemudian menyalahkan atau bahkan menumbalkan mereka? Padahal kecelakaan di Bekasi itu tidak ada hubungannya dengan jenis kelamin penumpang,” ujar Akmal lagi.

Fenomena kedua yang juga menjadi perbincangan hangat di dunia maya adalah komentar Najwa Shihab dalam podcast yang ditayangkan di channel Youtube-nya sendiri. Akmal menguraikan, “Dalam podcast itu, Najwa Shihab menyampaikan pendapatnya bahwa laki-laki takkan sanggup menjadi perempuan. Pernyataan ini langsung direspon dengan komentar ‘Sepakat!’ dari salah seorang narasumber yang diundang, yaitu Ge Pamungkas. Tapi Najwa sepertinya tidak puas dan masih terus memperpanjang komentarnya. Sikap Najwa ini yang kemudian menjadi olok-olokan orang di dunia maya, seolah membuktikan bahwa jawaban apa pun yang diberikan oleh lelaki tetap saja akan dipermasalahkan.”

Saat ini, dunia maya diramaikan dengan akun para lelaki yang seolah mengejek setiap komentar perempuan feminis dengan kata “Sepakat!”. Meski demikian, Akmal mengingatkan bahwa ejekan tersebut muncul bukan untuk meniru sikap Ge Pamungkas, melainkan justru karena reaksi Najwa Shihab yang berlebihan.

“Kalau kita simak baik-baik, komentar ‘Sepakat!’ dari Ge Pamungkas nampaknya bukan ejekan atau ungkapan yang sekadar ingin menghindari perdebatan. Menurut saya, ia benar-benar serius menyepakati pendapat Najwa bahwa laki-laki tak bisa menjadi perempuan,” ungkap Akmal.

Menurut Akmal, banyak perempuan yang seperti Najwa, yang alam bawah sadarnya sudah terpengaruh dengan apa yang disebutnya sebagai ‘ideologi konflik’.

“Konflik sudah menjadi semacam ideologi bagi mereka. Dalam bayangan mereka, semua lelaki memandang rendah perempuan, sehingga pasti menolak jika dikatakan bahwa lelaki tak bisa menjadi perempuan. Padahal justru sebagian besar lelaki menerima dengan baik pandangan ini. Laki-laki dan perempuan memang tidak sama, dan karena itu memang ada hal-hal yang biasa dikerjakan perempuan namun tak bisa dikerjakan oleh lelaki. Dengan kata lain, lelaki tak bisa menggantikan perempuan. Justru perempuan yang terprovokasi oleh feminis itulah yang biasanya tak bisa menerima kenyataan bahwa perempuan tak bisa menjadi lelaki,” tandas lelaki berdarah Minang ini.

Karena feminisme menghembuskan ideologi konflik, maka para aktivis Muslim perlu lebih gencar mendakwahkan keluarga sakinah. “Tentu saja, sebelum mengajari orang lain, kita perlu membuktikannya sendiri. Keluarga para aktivis dakwah, da’i, asatidz, ulama, kyai, semuanya harus diperjuangkan agar sakinah, mawaddah wa rahmah, dan itu harga mati,” pungkas Akmal.

Untuk merespon persoalan-persoalan kontemporer dan memperluas jangkauan, SPI secara rutin menggelar kajian daring Tuesday’s Special. Selain itu, dari pertengahan Mei hingga Juni 2026, SPI juga sedianya akan mengadakan rangkaian Kelas Online Pemikiran (KOMIK) Intensif yang akan mengupas berbagai sisi perjuangan kemerdekaan Indonesia. Berita-berita terkini dari SPI dapat disimak melalui akun media sosialnya di Instagram.*SPI Media Center

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Akmal Sjafrilfeminismeislamic worldviewSekolah Pemikiran IslamSPI
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah
Tulisan selanjutnya Waspada Akhir Zaman: Merebaknya Ulama Sū’

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI Titip Pesan kepada Menkeu Suahasil: Jaga APBN dan Perkuat Ekonomi Syariah

Berita
18 September 2026 10:40
Arab Saudi Keluarkan Peringatan Serangan Udara, Mekkah dan Jeddah Siaga
Anwar Ibrahim Serukan BRICS untuk Tolak Penjajahan dan Terorisme ‘Israel’
Erdogan: Pakta Pertahanan Makkah adalah Sinyal Persatuan bagi Dunia Islam
Ulama Sunni Iran Dibunuh, Pihak Berwenang Sebut Pelaku “Tentara Bayaran Zionis”

Terbaru

  • Ledakan Terdengar di Riyadh, Arab Saudi Keluarkan Peringatan Serangan Udara
  • Dorong Tinggalkan Kebiasaan Scrolling, Singapura Beri Imbalan Warganya yang Baca Buku
  • Irlandia Boikot Eurovision untuk Kedua Kalinya, Soroti Situasi Kemanusiaan Gaza
  • Mantan Presiden Kosovo Dihukum Penjara 25 Tahun karena Kejahatan Perang
  • Oman Serukan Rute Alternatif Pengiriman LNG Supaya Tidak Lewat Hormuz
  • Ms Rachel Gandakan Donasi Mackelmore untuk Palestina, Jadi 2 Juta Dolar AS
  • Saat Harga BBM Naik, Qatar Salurkan 1,3 Juta Liter Bahan Bakar untuk Gaza
  • MUI Titip Pesan kepada Menkeu Suahasil: Jaga APBN dan Perkuat Ekonomi Syariah
  • Ucap Salam, Polisi Muslimah Berpangkat Tinggi India Dimutasi
  • Erdogan akan Maju Pemilihan Presiden 2028

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Ms Rachel Gandakan Donasi Mackelmore untuk Palestina, Jadi 2 Juta Dolar AS

18 September 2026 17:59
Berita

Saat Harga BBM Naik, Qatar Salurkan 1,3 Juta Liter Bahan Bakar untuk Gaza

18 September 2026 13:09
Berita

Ucap Salam, Polisi Muslimah Berpangkat Tinggi India Dimutasi

18 September 2026 10:38
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengecam keras serangan Israel
Berita

Erdogan akan Maju Pemilihan Presiden 2028

17 September 2026 23:36
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?