Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

Mahmud
Terakhir diupdate: 6 Mei 2026 16:35 4:35 pm
Mahmud
Dipublikasikan 6 Mei 2026 08:34
Bagikan
KH. Ahmad Dahlan
Bagikan

“Dekatilah mereka itu dengan cara yang sebaik-baiknya sehingga mereka mengenal kita dan kita mengenal mereka. Sehingga perkenalan kita bertimbal balik, sama-sama memberi dan sama-sama menerima.” (Wasiat KH. Ahmad Dahlan kepada H. Soedja)

Hidayatullah.com | DALAM narasi sejarah arus utama, KH. Ahmad Dahlan sering kali dicitrakan sebagai sosok yang lemah lembut, sabar, dan penuh toleransi. Gambaran ini memang tidak salah, hanya saja, dalam  majalah Adil No. 5 tanggal 29 Oktober 1938 terdapat catatan sejarah yang memberikan dimensi lebih luas mengenai karakter beliau.

Melalui tulisan sahabat KH. Ahmad Dahlan: R. Sosrosoegondo dalam majalah ini, kita mengenal sosok tokoh pendiri Muhammadiyah ini sebagai jembatan persatuan yang tegas, cerdas, dan tidak segan menghadapi keangkuhan intelektual demi tegaknya ukhuwah Islamiyah.

Misi Kyai Dahlan sebagai pemersatu umat diuji ketika beliau mendengar kabar tentang perpecahan hebat di kalangan tokoh agama di daerah Jombang. Di sana, para ulama lokal terjebak dalam perselisihan sengit mengenai masalah-masalah keagamaan. Alih-alih menjadi pelita bagi umat, para pemimpin agama ini justru terkotak-kotak dalam faksi yang saling menjauh dan tidak sudi untuk bersatu.

Kyai Dahlan memiliki prinsip teguh bahwa perbedaan pendapat seharusnya bukan menjadi alasan untuk bercerai-berai. Baginya, setiap perselisihan harus dicari titik temunya melalui musyawarah demi menemukan kebenaran yang hakiki. Maka, beliau memutuskan untuk turun tangan langsung ke lokasi konflik. Kedatangan beliau bukanlah sebagai hakim yang ingin mengadili siapa yang bersalah atau benar, melainkan membawa misi besar untuk membangun kembali jembatan persaudaraan yang telah retak.

Baca Juga

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

Kyai Dahlan akhirnya berhasil mengumpulkan sembilan orang ulama yang selama ini saling bertikai dalam satu ruangan. Di hadapan mereka, beliau menyampaikan pidato yang sangat menyentuh hati, yang berlandaskan pada ajaran Al-Qur’an. Beliau menyerukan pentingnya bagi para pemuka agama untuk kembali “memegang tali Allah” dan berhenti saling berselisih. Beliau mengungkapkan penyesalan mendalam melihat para penjaga agama justru tidak mampu bersatu sesuai dengan perintah Tuhan.

Namun, suasana damai yang diharapkan Kyai Dahlan tidak segera terwujud. Suasana justru memanas karena para ulama tersebut mulai menunjukkan sikap unjuk gigi. Alih-alih mencari solusi persatuan, mereka berdiri satu per satu untuk memamerkan kealiman masing-masing. Mereka mengutip berbagai macam kitab secara mendalam hanya untuk membela pendapat kelompoknya sendiri. Puncaknya, ulama ketiga dengan sangat percaya diri menutup pembicaraannya dengan persyaratan yang sangat kaku:

“Apabila kawan-kawan oelama sama memakai sebagai apa jang saja terangkan itoe, saja dapat dan maoe bersatoe. Sebab apa! Jang saja kemoekakan itoe semoeanja memang perloe-perloe, tidak boleh dibantah, tidak boleh dihiraukan.”

Bagi ulama tersebut, pendapatnya adalah kebenaran mutlak yang harus diikuti oleh semua orang sebagai syarat persatuan. Ego intelektual semacam inilah yang selama ini mempertebal dinding pemisah di antara mereka.

Kritik Tajam demi Menyadarkan Umat

Melihat realita yang menyedihkan tersebut, Kyai Dahlan tetap tenang. Beliau menyimak setiap argumen yang dilontarkan dengan saksama hingga semua ulama selesai berbicara. Di balik ketenangannya, beliau telah menyiapkan sebuah teguran yang sangat tajam, namun bertujuan untuk menyadarkan kembali esensi ilmu bagi ukhuwah. Beliau berkata:

“Kjahi, menilik pidato toean tadi, ternjata, bahwa toean itoe memang alim betoel. Oleh karena itoelah, maka menimboelkan penjesalan saja. Adapoen jang mendjadikan hati saja menjesal itoe demikian: Seumpama saja alimnja sebagai toean saja pandang dengan amat ringan, kalau hendak mempersatoekan orang 9 sadja.”

Makna dari kalimat ini sangat menghujam jantung ego para tokoh tersebut. Kyai Dahlan ingin menegaskan sebuah logika fundamental yang sering dilupakan: bahwa kealiman sejati seharusnya membuat urusan persatuan umat menjadi ringan, bukan malah menjadi beban yang merusak hubungan antarmanusia. Beliau menyindir bahwa ilmu setinggi langit tidak ada gunanya jika hanya untuk menyatukan sembilan orang dalam satu ruangan saja seseorang merasa tidak mampu tanpa memaksakan kehendaknya.

Momen tegang ini disaksikan langsung oleh keponakan Kyai Dahlan yang berprofesi sebagai dokter. Sang dokter merasa sangat kagum sekaligus heran melihat kecerdikan pamannya dalam menjatuhkan ego para ulama besar tersebut tanpa harus bersikap kasar atau menghujat. Kyai Dahlan mampu menjembatani perbedaan tersebut dengan cara membenturkan intelektualitas dengan realitas sosial persatuan.

Dalam ingatan saksi sejarah, muncul istilah “Engklek” (pincang atau lumpuh) untuk menggambarkan fenomena yang terjadi pada para ulama tersebut. Istilah ini menggambarkan kondisi seseorang yang memiliki ilmu sangat tinggi secara teori, namun cacat atau “pincang” dalam kearifan bertindak sehingga ilmunya tidak mampu membawa manfaat sosial nyata berupa persatuan umat.

Warisan Jembatan Ukhuwah

Catatan dalam majalah ADIL ini memberikan pelajaran berharga bahwa warisan terbesar KH. Ahmad Dahlan bukan sekadar pendirian organisasi besar atau amal usaha yang melimpah. Warisan beliau yang paling berharga adalah keberanian moral untuk menjembatani perbedaan dan meruntuhkan tembok kesombongan demi tegaknya kebenaran serta persatuan umat.

Beliau telah memberikan contoh nyata bahwa menjadi seorang alim (berilmu) tidak boleh dipisahkan dari semangat persaudaraan. Sebagaimana ditunjukkan dalam misinya di Jombang, Kyai Dahlan mengajarkan bahwa ukuran kehebatan seorang ulama bukanlah dari seberapa banyak kitab yang ia hafal atau seberapa dalam ia mampu berdebat, melainkan dari seberapa besar ilmu tersebut mampu menjadi jembatan bagi kedamaian, kemaslahatan, dan ukhuwah Islamiyah di tengah-tengah masyarakat.

Tanaman persatuan yang beliau semai dengan air mata pengorbanan dan ketabahan menghadapi fitnah itu kini telah tumbuh menjadi pohon yang rindang. Tugas generasi sekarang adalah merawat jembatan ukhuwah yang telah dibangun beliau, agar Islam tetap menjadi rahmat dan perekat bagi seluruh bangsa Indonesia.

Dalam rapat tahunan pertama Muhammadiyah, KH. Ahmad dalam pidatonya pernah berkata, “Tujuan Muhammadiyah adalah untuk menyelesaikan semua sengketa dan membuat semua kelompok Islam saling bergandengan tangan.” (Abdul Mu’thi dkk, KH. Ahmad Dahlan 1868-1923, 125) (MBS)

Redaktur: Mahmud
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Ahmad DahlanMuhammadiyah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kisah Jenaka Qurban: 1 Ekor Ayam Ditebus 30 Domba
Tulisan selanjutnya SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Iptekes

Pakar Bilang Suplemen Harian Lebih Banyak Bahaya Dibandingkan Manfaat

Iptekes
21 Juni 2026 13:43
Pengadilan Penjarakan Orang Tua dari Bocah Pelaku Penembakan di Sekolah Beograd Serbia 2023
MUI Serukan Masyarakat Lawan Gerakan Normalisasi LGBT
Tahun Baru Hijriah, Kini Punya Makna Perubahan Orientasi Hidup dan Kepedulian Sosial
AS-Iran Capai Kesepakatan Final, Trump dan Pezeshkian Resmikan Memorandum

Terbaru

  • Taliban Melarang Penggunaan Ponsel Pintar oleh Aparat Pemerintah
  • Gegara Perang Iran Saudi Aramco Pertimbangan Perluasan Kapasitas Penyimpanan di Luar Negeri
  • ISIS Klaim Serangan di Aleppo yang Tewaskan 2 Tentara Suriah
  • Produksi Minyak Iraq Diperkirakan Normal Dalam Dua Bulan
  • Pakar Bilang Suplemen Harian Lebih Banyak Bahaya Dibandingkan Manfaat
  • Dicabut, Zelensky Kembalikan Medali Penghargaan dari Polandia
  • Pentagon Perlu $80 Miliar untuk Tutup Biaya Perang Iran dll
  • Dua Ledakan di Jalan Raya Khyber Pakhtunkhwa Sedikitnya 7 Orang Tewas
  • Pesepakbola Paraguay Jadi yang Pertama Diusir dari Lapangan Piala Dunia karena Menutup Mulut
  • Pengadilan Penjarakan Orang Tua dari Bocah Pelaku Penembakan di Sekolah Beograd Serbia 2023

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
KajianSejarah

Dukungan Nyata Bangsa dan Tokoh Palestina untuk Kemerdekaan Indonesia

14 Maret 2026 06:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?