Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Puasa di Pesawat, Waktu Mana yang Dijadikan Patokan?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 3 September 2010 02:17
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Sebagaiaman dilansir oleh situs resmi Dar Al Ifta Al Mishriya, Syaikh Dr.Ali Jum’ah, Mufti Mesir telah memfatwakan beberapa masalah yang berhubungan dengan waktu puasa, jika seseorang sedang berada di pesawat.

Beberapa masalah yang dibahas menyangkut waktu yang dijadikan rujukan untuk berpuasa dan berbuka. Bagaimana pula jika matahari terbenam lebih panjang dibanding waktu normal. Bagaiman pula jika telah melihat matahari tenggelam, kemudian karena kecepatan pesawat melebihi kecepatan perputaran bumi, akhirnya matahari terlihat kembali?

Syaikh Ali Juma’ah menjawab dalam fatwa beliau yang bernomor 859 bahwa waktu yang dijadikan untuk patokan saat seseorang yang berpuasa berada di pesawat adalah waktu terbitnya fajar (shadiq) dan terbenamnya matahari, sesuai dengan nash al-Qur’an dan Hadits.

Beliau juga menjelaskan bahwa ketika seorang berada di tempat yang lebih tinggi, maka waktu terbenam matahari lebih lama dari pada mereka yang tinggal di dataran lebih rendah. Sehingga para ulama sebelumnya separti Fakhruddin Az Zaila`i dan Ibnu Abidin memfatwakan bahwa orang yang berada di tempat yang tinggi tidak boleh berbuka, kecuali setelah melihat matahari terbenam, semisal mereka yang tengah berada di menara Iskandaria.

Jika terbenamnya matahari dijadikan patokan dalam berbuka, bagaimana jika waktu terbenamnya lebihnya lebih lama. Seseorang menceritakan bahwa ia pergi ke Kanada dari Mesir. Pesawat tinggal landas pukul satu siang. Perjalanan menuju Kanada sendiri memakan waktu 11 jam. Di masa itu matahari ternyata belum juga terbenam, hingga pesawat landing. Kalau berpedoman kepada tenggelamnya matahari, maka waktu puasa amat panjang.

Baca Juga

Jelang Pemilu ‘Israel’, Trump Dukung Netanyahu Terpilih Kembali
Iran Sebut Puluhan Pesawat Maskapai Nasional Hancur dalam Serangan AS-Israel
Jutaan Dolar Dana Nasabah Syariah HSBC Diduga Mengalir ke Perusahaan Senjata terkait ‘Israel’
60 Ribu Anak Palestina Jadi Yatim Akibat Perang Genosida Zionis ‘Israel’
Makin Banyak Pemukim ‘Israel’ yang Hindari Wajib Militer, Jumlahnya Tembus 110.000

Menjawab masalah ini Syaikh Ali Jum’ah tetap menyatakan dalam fatwa beliau yang bernomor 676, bahwa waktu berbuka adalah tenggelamnya matahari. Namun, jika berpuasa dalam kondisi demikian memberatkan, maka boleh meninggalkan puasa dan menqadha`nya di hari yang lain.

Nah, jika terbenamnya matahari menjadi patokan untuk berbuka, bagaimana jika seorang yang berpuasa di pesawat melihat matahari telah terbenam, namun kemudian terlihat kembali, karena kecepatan pesawat melebihi kecepatan rotasi bumi?

Masalah ini diakui oleh Syaikh Ali Jum’ah merupakan persoalan yang langka. Namun, jika keadaan ini terjadi, maka penumpang boleh berbuka saat melihat matahari terbenam. Dan tidak merusak puasa, jika ia melihat kembali matahari tampak. [tho/ift/hidayatullah.com]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya CAIR Luncurkan Pesan Damai pada Publik Amerika
Tulisan selanjutnya NU Kirim 1.320 Dai ke Lokasi Transmigrasi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

60 Ribu Anak Palestina Jadi Yatim Akibat Perang Genosida Zionis ‘Israel’

Berita
20 Oktober 2026 13:24
Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang
Halal Ditunda, Kepastian Dipertaruhkan?
Makin Banyak Pemukim ‘Israel’ yang Hindari Wajib Militer, Jumlahnya Tembus 110.000

Terbaru

  • Jelang Pemilu ‘Israel’, Trump Dukung Netanyahu Terpilih Kembali
  • Iran Sebut Puluhan Pesawat Maskapai Nasional Hancur dalam Serangan AS-Israel
  • Jutaan Dolar Dana Nasabah Syariah HSBC Diduga Mengalir ke Perusahaan Senjata terkait ‘Israel’
  • 60 Ribu Anak Palestina Jadi Yatim Akibat Perang Genosida Zionis ‘Israel’
  • Makin Banyak Pemukim ‘Israel’ yang Hindari Wajib Militer, Jumlahnya Tembus 110.000
  • 19 Orang Tewas Akibat Berdesakan saat Festival Hindu Durga Puja India
  • Halal Ditunda, Kepastian Dipertaruhkan?
  • Mesir Tegaskan Siap Bela Arab Saudi di Tengah Meningkatnya Serangan Houthi
  • Arab Saudi Tembak Jatuh 4 Drone di Riyadh dan Dua Wilayah Lain
  • Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

19 Orang Tewas Akibat Berdesakan saat Festival Hindu Durga Puja India

19 Oktober 2026 21:48
Berita

Mesir Tegaskan Siap Bela Arab Saudi di Tengah Meningkatnya Serangan Houthi

19 Oktober 2026 12:57
drone peledak Houthi
Berita

Arab Saudi Tembak Jatuh 4 Drone di Riyadh dan Dua Wilayah Lain

19 Oktober 2026 12:54
Berita

Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla

17 Oktober 2026 21:46
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?