Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Pelayat di Jepang Diperingatkan Risiko Keracunan CO2 dari Es Kering di Peti Mati

Ama Farah
Terakhir diupdate: 25 September 2023 09:23 9:23 am
Ama Farah
Dipublikasikan 23 September 2023 20:03
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com– Pihak berwenang di Jepang memperingatkan risiko keracunan CO2 (karbon dioksida) dari es kering yang digunakan sebagai pendingin peti mati di pemakaman, dan mendesak para pelayat agar tidak menundukkan kepalanya ke dalam peti mati saat mengucapkan perpisahan kepada si mayat.

Antara tahun 2020 dan 2021, tiga kematian dilaporkan terjadi akibat keracunan CO2 dari es kering di dalam peti mati. Kematian tersebut terjadi di prefektur Miyagi, Miyazaki dan Okinawa prefectures, menurut Badan Urusan Konsumen

Pada dua kasus, pelayat ditemukan dalam keadaan tidak bergerak dengan posisi kepala mereka masih berada di dalam peti mati, sementara pada kasus ketiga korban ditemukan tergeletak di lantai di samping peti mati yang terbuka jendelanya.

Menurut Badan Urusan Konsumen, insiden-insiden itu terjadi diduga disebabkan pelayat tidak sadar akan bahaya CO2 dari es kering. Terlebih, pemakaman merupakan acara yang umum berlangsung dalam kehidupan sehari-hari dan kebanyakan orang tidak berpikir soal karbon dioksida yang menguap dari es kering di dalam peti mati.

Pusat Urusan Konsumen Nasional Jepang melakukan percobaan untuk merekonstruksi insiden-insiden tersebut, menggunakan peti mati berisi boneka manekin dan 10 kilogram es kering.

Baca Juga

Prancis dan Chad Bina Ulang Hubungan Militer
Korea Selatan Pidanakan Siswa yang Curang dengan Kacamata Pintar
Tersangka Penembakan di Pinggiran Paris Menarget Orang Berpenampakan Muslim atau Afrika
Akademisi Swedia Dilarang Masuk Inggris Jelang Penampilan Bersama Pendiri Palestine Action
LPH Hidayatullah Sambangi BPJPH, Bahas Penguatan Regulasi, Kompetensi dan Integritas Auditor

Dalam 20 menit, konsentrasi karbon dioksida di dalam peti mati yang tertutup mencapai 30 persen, cukup tinggi untuk membuat pingsan seseorang dalam beberapa detik. Empat jam sejak dimulainya percobaan, karbon dioksida konsentrasinya mencapai 90 persen.

Ketika peti mati dibuka, tingkat CO2 dengan cepat menurun menjadi sekitar 60 persen.

Namun, kadarnya tetap di atas 30 persen bahkan setelah peti mati dibiarkan terbuka selama 50 menit. Hal ini kemungkinan terjadi karena gas karbon dioksida yang lebih padat dan lebih berat dari udara akan tenggelam ke dasar dan tidak mudah menguap ke atas dan menghilang bercampur udara, lapor Asahi Shimbun Jumat (22/9/2023).

Kedua organisasi tersebut memperingatkan agar peti mayat diletakkan di dalam ruangan yang berventilasi baik dan tidak membiarkan pelayat sendirian berada di dekat peti mati.*

Yuk bantu dakwah media melalui BCA 1280720000 a.n. Yayasan Baitul Maal Hidayatullah (BMH)

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Co2Jepangkarbon dioksidapeti mati
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Selamat, Prof. KH Hamid F Zarkasyi jadi Tokoh Perbukuan Islam
Tulisan selanjutnya IBF 2023: Psikolog Ingatkan Orang Tua Harus jadi “Best Friend Forever” Anak

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Macklemore Palestina
Berita

Macklemore Janji akan Menyuarakan Pembebasan Palestina Sampai Napas Terakhir

Berita
27 Oktober 2026 19:35
Penjajah ‘Israel’ Bakar Kamp Pengungsian di Gaza, Lebih dari 200 Keluarga Terusir
Pintar Saja Tidak Cukup, Ilmu Harus Bersendi Akhlak
Akademisi Swedia Dilarang Masuk Inggris Jelang Penampilan Bersama Pendiri Palestine Action
Pejabat Malaysia Sebut Waze Petakan Lokasi Sensitif Negara

Terbaru

  • Prancis dan Chad Bina Ulang Hubungan Militer
  • Pintar Saja Tidak Cukup, Ilmu Harus Bersendi Akhlak
  • Korea Selatan Pidanakan Siswa yang Curang dengan Kacamata Pintar
  • Tersangka Penembakan di Pinggiran Paris Menarget Orang Berpenampakan Muslim atau Afrika
  • Akademisi Swedia Dilarang Masuk Inggris Jelang Penampilan Bersama Pendiri Palestine Action
  • LPH Hidayatullah Sambangi BPJPH, Bahas Penguatan Regulasi, Kompetensi dan Integritas Auditor
  • Madinah dan Istana Kepresidenan Yaman Jadi Target Serangan Houthi
  • Tolak Konser Andrea Bocelli di Indonesia, UBN: Jangan Beri Panggung Pendukung Genosida
  • Meretas untuk Kepentingan Rezim Assad Pria Suriah Divonis 42 Bulan Penjara
  • Pengembangan AI Membuat Investor Alphabet, Amazon, dan Microsoft Khawatir

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Madinah dan Istana Kepresidenan Yaman Jadi Target Serangan Houthi

31 Oktober 2026 09:40
Berita

Meretas untuk Kepentingan Rezim Assad Pria Suriah Divonis 42 Bulan Penjara

30 Oktober 2026 17:19
Berita

Pengembangan AI Membuat Investor Alphabet, Amazon, dan Microsoft Khawatir

30 Oktober 2026 16:27
Berita

Koalisi Pimpinan Arab Saudi Umumkan Tembak Jatuh Drone Houthi di Mekkah

30 Oktober 2026 15:57
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?