Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Warga Suriah Kecewa, Kendaraan Militer AS Ditulisi “Kafir” dan Simbol Salib

Ahmad
Terakhir diupdate: 9 Juni 2025 20:52 8:52 pm
Ahmad
Dipublikasikan 9 Juni 2025 20:51
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Kekecewaan mendalam menyelimuti warga di timur laut Suriah setelah sebuah kendaraan militer Amerika Serikat (AS) terekam berpatroli di wilayah mereka dengan tulisan mencolok dalam huruf Arab: “Kafir”, berdampingan dengan simbol salib Kristen.

Tulisan yang dianggap menyinggung keyakinan mayoritas Muslim itu memicu kemarahan, kecemasan, dan tuduhan bahwa pasukan asing tidak menghormati budaya serta agama lokal.

“Kami merasa dihina. Mengapa mereka datang ke tanah kami untuk membantu melawan ekstremisme, tetapi justru membawa simbol seperti ini?” ungkap Jihan, seorang perempuan Kurdi yang tinggal di Hasakah, kepada media internasional.

Banyak warga mengaku terkejut dan terluka. Kata “kafir” bukan hanya sekadar istilah; dalam sejarah konflik Suriah, kata itu digunakan kelompok radikal seperti ISIS untuk menjustifikasi kekerasan brutal terhadap lawan mereka—termasuk terhadap sesama Muslim.

Maka ketika istilah itu terpampang di kendaraan pasukan AS, masyarakat menilai itu sebagai provokasi yang sangat tidak sensitif.

Baca Juga

Siti Hasmah Mohamad Ali, Istri Mahathir Mohamad Wafat di Usia 100
Timnas Irlandia Tolak Jabat Tangan dengan ‘Israel’ sebelum Libas Tiga Gol Tanpa Balas
Iran Klaim Tangkap Drone Bawah Laut Amerika di Selat Hormuz
Warga Maroko di Belasan Kota Gelar Demo Tolak Normalisasi Pemerintahnya dengan ‘Israel’
Drone ‘Israel’ Meledak, Tewaskan Dua Tentaranya Sendiri

Insiden ini memicu kehebohan besar di kalangan warga lokal dan komunitas internasional, menimbulkan pertanyaan tajam: siapa yang dimaksud sebagai kafir? Dan apakah pesan ini sengaja diarahkan kepada umat Islam Suriah?

Kata “kafir” secara harfiah berarti “orang yang tidak beriman”, dan dalam konteks konflik Suriah, istilah ini mengandung sejarah kelam.

Kata tersebut sering digunakan oleh kelompok teroris seperti Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) untuk membenarkan aksi kekerasan terhadap lawan mereka, termasuk sesama Muslim yang berbeda ideologi.

Namun kali ini, kata itu muncul bukan dari kelompok ekstremis, melainkan tertempel di kendaraan pasukan AS yang secara resmi hadir di Suriah sebagai bagian dari Koalisi Internasional anti-ISIS.

Foto kendaraan itu dengan jelas menunjukkan tulisan “Kafir” di bagian depan, di samping simbol salib Kristen. Kombinasi yang sangat provokatif—baik secara religius maupun politik.

Apakah Ini Sebuah Pesan Anti-Islam?

Sejumlah warga lokal menilai tulisan tersebut sebagai “penghinaan terang-terangan” terhadap identitas mayoritas Muslim Suriah.

Di kota Hasakah, tempat insiden terjadi, banyak yang bertanya-tanya apakah tulisan itu dimaksudkan sebagai pernyataan superioritas agama, atau lebih buruk, sebagai ejekan terhadap keyakinan lokal.

“Kami tidak ada hubungannya dengan ISIS. Kami tidak pernah menyebut orang Amerika atau Kristen sebagai kafir,” ujar Jihan, seorang warga Kurdi berusia 34 tahun, kepada Middle East Eye.

“Tulisan itu terasa seperti ejekan. Provokasi murahan yang sangat tidak pantas dari militer besar seperti Amerika.”

Beberapa pengamat regional menilai kemunculan kata “kafir” bisa menimbulkan konflik identitas baru, khususnya di wilayah yang baru bangkit dari trauma perang agama dan sektarian.

Reaksi Militer AS

Menanggapi kehebohan ini, pihak Combined Joint Task Force – Operation Inherent Resolve (CJTF-OIR) yang mewakili Koalisi Pimpinan AS segera mengeluarkan pernyataan resmi. Mereka menyebut bahwa simbol dan tulisan di kendaraan itu “tidak disetujui” dan “melanggar kebijakan Departemen Pertahanan AS.”

“CJTF-OIR telah memulai penyelidikan formal dan akan menjatuhkan tindakan disipliner berdasarkan Uniform Code of Military Justice,” kata pernyataan resmi tersebut.

Militer AS juga menegaskan bahwa insiden ini tidak mencerminkan profesionalisme pasukan mereka, dan menegaskan kembali bahwa misi mereka adalah mengalahkan ISIS secara permanen, bukan memicu konflik baru berbasis agama atau ideologi.

Operasi militer AS di Suriah dimulai pada Oktober 2014 sebagai bagian dari strategi global yang mengklaim menghapus keberadaan ISIS.

Saat ini, masih terdapat sekitar 2.000 tentara AS di Suriah, namun jumlah tersebut diperkirakan akan berkurang separuhnya dalam waktu dekat.

Menurut utusan khusus AS untuk Suriah, dari delapan pangkalan, hanya akan tersisa tiga, seluruhnya berada di provinsi Hasakah. Namun, meski jumlah personel berkurang, jejak kerusakan konflik bertahun-tahun masih terasa jelas.

Kerugian Masyarakat

Sepanjang satu dekade terakhir, masyarakat Suriah menderita kerugian besar akibat kehadiran pasukan asing dan AS dan perang yang tak kunjung usai.

Ribuan warga tewas atau terluka akibat serangan udara dan konflik bersenjata. Infrastruktur rusak parah: sekolah, rumah sakit, masjid, dan fasilitas air bersih hancur.

Krisis pengungsian dan ekonomi memburuk, terutama di wilayah timur laut tempat pasukan AS sering beroperasi.

Penduduk juga mengeluhkan kurangnya akuntabilitas dari pasukan asing yang kerap beroperasi tanpa koordinasi dengan warga lokal.

Insiden tulisan “kafir” kini menambah daftar luka psikologis yang dalam. Bagi banyak warga, itu bukan hanya kata, melainkan simbol ketidakhormatan terhadap budaya, agama, dan martabat mereka sebagai manusia.

Media internasional seperti Middle East Eye dan The Cradle menyebut insiden ini sebagai “tamparan diplomatik” dan “contoh dari arogansi kekuatan militer besar di tanah asing.”

Mereka mendesak Washington tidak hanya memberi sanksi administratif, tapi juga merefleksikan kebijakan luar negerinya di kawasan rawan konflik seperti Suriah.

Jika tak ditangani serius, insiden semacam ini dapat menyalakan kembali api sektarian yang coba dipadamkan selama bertahun-tahun.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Amerika SerikatASHeadlineintervensi asingISISkafirkendaraan tempurkolonialismeluka sejarahPasukan asingsalibsuriah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Santap Daging Tanpa Khawatir Kolesterol Ala Pakar Kesehatan UNAIR
Tulisan selanjutnya PPATK Bekerjasama dengan OJK Menekan Judi Online

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

LPH Hidayatullah Perkuat Kemitraan dengan Maybank, Fasilitasi 1.000 Sertifikat Halal untuk UMK Indonesia
Berita

LPH Hidayatullah Perkuat Kemitraan dengan Maybank, Fasilitasi 1.000 Sertifikat Halal untuk UMK Indonesia

Berita
24 September 2026 11:12
Kebutuhan Dai Masjid Ibukota Mendesak, DPW Hidayatullah DKI Jakarta Gagas Madrasah Muballigh Muda
Timnas Irlandia Tolak Jabat Tangan dengan ‘Israel’ sebelum Libas Tiga Gol Tanpa Balas
Hari Solidaritas Hijab, Muslimat Hidayatullah Jaksel Ajak Muslimah Bangga Berhijab
Lewat MIHAS, Malaysia Bidik Penguatan Jejaring Halal Dunia

Terbaru

  • Siti Hasmah Mohamad Ali, Istri Mahathir Mohamad Wafat di Usia 100
  • Timnas Irlandia Tolak Jabat Tangan dengan ‘Israel’ sebelum Libas Tiga Gol Tanpa Balas
  • Iran Klaim Tangkap Drone Bawah Laut Amerika di Selat Hormuz
  • Warga Maroko di Belasan Kota Gelar Demo Tolak Normalisasi Pemerintahnya dengan ‘Israel’
  • Drone ‘Israel’ Meledak, Tewaskan Dua Tentaranya Sendiri
  • Uganda Tangguhkan Kerja Sama Militer dengan Turki Terkait Ekstradisi Pengkritik Presiden Museveni
  • Presiden Brazil Teken Larangan Judi Online
  • Pemerintah Italia Setuju Larangan Burqa dan Niqab, Serta Pembatasan Siswa Asing
  • Pos Polisi Pakistan Dibom Sedikitnya 11 Nyawa Melayang
  • Orang Terkaya Afrika Bantu Pembangunan Jaringan Pipa BBM antara Ethiopia dan Djibouti

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Uganda Tangguhkan Kerja Sama Militer dengan Turki Terkait Ekstradisi Pengkritik Presiden Museveni

27 September 2026 16:44
Berita

Presiden Brazil Teken Larangan Judi Online

27 September 2026 10:23
Berita

Pemerintah Italia Setuju Larangan Burqa dan Niqab, Serta Pembatasan Siswa Asing

27 September 2026 09:31
Berita

Pos Polisi Pakistan Dibom Sedikitnya 11 Nyawa Melayang

27 September 2026 09:26
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?