Hidayatullah.com– Rombongan kendaraan laut Gaza Flotilla kedua dijadwalkan bertolak dari Pelabuhan Vell di kota Barcelona, Spanyol, hari Ahad (12/4/2026) dengan tujuan mendobrak blokade Zionis Israel dan mengantarkan bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina di wilayah Jalur Gaza.
Sebanyak 39 kapal dijadwalkan bertolak dari kota pelabuhan di Mediterania itu, kata seorang juru bicara flotilla tersebut, dan akan ada kapal-kapal lain yang bermuatan bantuan medis serta barang-barang kebutuhan lain ikut bergabung di sepanjang rute pelayaran menuju Palestina.
Disebabkan gelombang tinggi dan cuaca buruk, rombongan laut itu akan singgah ke sebuah pelabuhan lain terlebih dahulu sebelum bertolak menuju laut lepas di pekan selanjutnya, kata Thiago Avila, salah satu anggota panitia penyelenggara, dalam konferensi pers yang digelar hari Ahad (12/4/2025) seperti dilansir Reuters.
Militer Israel menghentikan perjalanan Gaza Flotilla sebelumnya yang diselenggarakan oleh organisasi yang sama pada Oktober 2025, menangkap aktivis asal Swedia Greta Thunberg beserta lebih dari 450 orang peserta lain.
Israel, yang menguasai semua jalan masuk menuju Jalur Gaza, membantah menahan suplai bagi lebih dari 2 juta penduduk wilayah pesisir Palestina itu.
Meskipun sudah tercapai kesepakatan gencatan senjata pada bulan Oktober tahun lalu, sampai sekarang organisasi-organisasi internasional penyalur bantuan kemanusian untuk Gaza mengatakan bahwa jumlah barang kebutuhan yang diperbolehkan masuk oleh Zionis masih jauh dari cukup.
Liam Cunningham, seorang pelakon serial televisi Game of Thrones yang mendukung Gaza Flotilla tetapi tidak ikut serta dalam rombongan, mengatakan kepada Reuters, “Setiap kilogram bantuan kemanusiaan yang terdapat di atas kapal-kapal ini merupakan kegagalan karean semua orang yang berada di kapal-kapal ini merelakan waktu mereka guna membantu sesama manusia melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah-pemerintah mereka.”
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa bahkan di masa konflik bersenjata, negara-negara berkewajiban berdasarkan hukum kemanusiaan internasional untuk memastikan bahwa rakyat terdampak bisa memperoleh perawatan medis secara aman.
“Ini adalah sebuah misi yang ditujukan untuk membuka koridor kemanusiaan sehingga organisasi-organisasi pembawa bantuan kemanusiaan dapat masuk,” kata Saif Abukeshak, seorang aktivis Palestina dan anggota dari panitia penyelenggara kegiatan itu, kepada Reuters.
Para aktivis asal Swiss dan Spanyol yang ambil bagian dalam flotilla tahun lalu mengatakan bahwa mereka selama ditempatkan di dalam tahanan Israel mengalami kondisi tidak manusiawi. Tuduhan itu kemudian dibantah oleh seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel.*




