Hidayatullah.com– Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) hari Jumat (7/8/2026) mengatakan tiga kapal tankernya diserang misil dan drone saat transit di Selat Hormuz pekan ini, menambah total armadanya yang diserang sejak awal perang Iran menjadi 15.
Perusahaan penghasil minyak terbesar Uni Emirat Arab itu mengatakan mengambil semua langkah yang diperlukan guna memenuhi kebutuhan pelanggannya sambil melindungi pekerja dan asrt-asetnya, menurut surel berisi pernyataan ADNOC yang diterima Bloomberg. Sejauh ini serangan-serangan yang dialami armada lautnya merenggut satu nyawa dan mengakibatkan 20 korban luka, imbuh pernyataan itu.
Sementara sebagian besar lalu lintas di Selat Hormuz masih tertahan, ADNOC sudah melakukan pengiriman minyak mentahnya melalui selat itu lebih banyak dibandingkan produsen lain kurun dua bulan terakhir.
Sepanjang perang Iran, ADNOC menggunakan kapal-kapal tanker milik sendiri dan sewaaan untuk mengangkut minyak mentah dan produk-produk olahannya, yang seringkali dilakukan di saat kondisi gelap dan dengan pengawalan militer, keluar dari kawasan Teluk Arab di mana barel-barel minyak bisa dipindahkan ke kapal-kapal lain.
UEA juga bisa mengirimkan minyaknya melalui jaringan pipa minyak guna menghindari Selat Hormuz.Dalam pernyataannya itu ADNOC menyerukan kebebasan bernavigasi dan melintasi jalur maritim dengan selamat, sementara perundingan-perundingan antara Iran dan Oman perihal Selat Hormuz sedang digelar.
Sejak perang Timur Tengah pecah pada 28 Februari akibat serangan mendadak Israel-Amerika Serikat atas Teheran, ADNOC juga mengalami serangan atas berbagai fasilitasnya, termasuk penyulingan minyak terbesar di Emirat dan fasilitas pemroses gas alam utamanya. Pernyataan ADNOC itu tidak menyinggung soal kondisi saat ini fasilitas-fasilitas lain miliknya.*




