Hidayatullah.com – Muhammad Fadhila Azka menyampaikan materi tentang konsep wahyu dan kenabian dalam pertemuan kedelapan Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Jakarta yang berlangsung di Aula INSISTS, Kalibata, Jakarta Selatan, pada Rabu malam (29/10/2026). Pada kesempatan kali ini, tema yang dibahas adalah Konsep Wahyu dan Kenabian.
Hadir sebagai narasumber utama, Muhammad Fadhila Azka, Dosen SPI sekaligus pakar kajian pemikiran Islam, mengupas secara rinci bagaimana Islam melihat realitas kehidupan dan keilmuan. Dalam pemaparannya, Muhammad Fadhila Azka menegaskan bahwa Islam bukanlah sekadar ajaran filsafat rasional semata.
“Pembahasan kita kali ini lebih merembet kepada ilmu kalam. Islam ini bukan sekadar agama filsafat dan sejenisnya, tetapi Islam mendudukkan pendalaman yang sangat mendasar terhadap wahyu,” ujar Muhammad Fadhila Azka di hadapan para peserta kajian.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa dalam Islam, realitas fisik maupun metafisik diakui secara utuh. Allah SWT menyatakan diri-Nya melalui firman-firman-Nya, yang memberikan gambaran kosmik (cosmic) yang lengkap bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, setiap Muslim dituntut untuk memiliki asas etika yang benar terhadap Sang Pencipta.
Menukil pemikiran Imam Al-Ghazali, Muhammad Fadhila Azka memaparkan pembagian ilmu menjadi Ilmu Aqliyah (seperti ilmu kedokteran dan sains) serta Ilmu Syar’i (ilmu agama). Ilmu agama dan perbaikan batin mencakup kajian Fiqih, Ushul Fiqih, Tafsir, Tasawuf, hingga Ilmu Kalam. Di antara seluruh cabang tersebut, Ilmu Kalam menduduki posisi kulliyah (mencakup keseluruhan ajaran dasar).
Beliau juga mengingatkan pentingnya menjaga adab dalam menempatkan ilmu. Fenomena kekacauan pemikiran saat ini sering kali berakar dari apa yang disebut sebagai Loss of Adab. “Loss of Adab itu terjadi ketika seseorang tidak lagi meletakkan sesuatu sesuai pada tempatnya,” tegas Dosen SPI tersebut.
Dalam sesi pembahasan wahyu, dipaparkan pula bagaimana Al-Qur’an diturunkan sebagai mukjizat utama Nabi Muhammad SAW untuk menantang kebiasaan masyarakat jahiliyah yang mengagungkan keahlian bersastra dan berbahasa. Bahasa Al-Qur’an (lughatud din) bukanlah bahasa sekuler atau sekadar alat komunikasi biasa, melainkan kerangka pikir yang meruntuhkan cara pandang jahiliyah.
Al-Qur’an juga menjadi pendorong utama meluasnya bahasa Arab sebagai bahasa peradaban dan keilmuan yang tinggi di dunia Islam. Oleh sebab itu, Al-Qur’an harus menduduki posisi sebagai dasar epistemologi yang menilai realitas, bukan justru realitas yang menilai dan menghakimi Al-Qur’an.
Kajian yang berlangsung interaktif ini memantik antusiasme besar dari para peserta. Banyak murid yang menyadari betapa pentingnya mendalami ilmu agama secara terstruktur untuk membentengi diri dari arus pemikiran kontemporer yang menyimpang. Salah satu murid SPI Angkatan 15, Putri, memberikan tanggapannya mengenai materi yang disampaikan. Ia menyoroti fenomena pemikiran liberal yang kerap menguji keaslian dan otoritas Al-Qur’an tanpa kedalaman ilmu.
“Ternyata orang-orang liberal itu cuma pintar ngomong saja ya. Kalau kita mempelajari Islam dengan benar dan runtut, semua argumen orang liberal itu kelar sih, kosong semua. Konsep wahyu ini kalau didalami lagi, real Islam itu adalah agama yang sangat superior,” ungkap Putri dengan mantap.*/Salsabila




