Hidayatullah.com—Hari Jum’at, 17 April 2015, Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI)-Pakistan menggelar diskusi umum tentang “Isu-isu Kontemporer Pemikiran Islam” di Aula Budaya KBRI Islamabad.
Diskusi umum ini menghadirkan tokoh dan pemikir Islam Indonesia sekaligus Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Phil.
Ketua PPMI, Hasanuddin Tosimpak dalam keteranganya menyampaikan bahwa kesempatan baik kedatangan Dr. Hamid dan tim peneliti lainnya dari Universitas Daarussalam-Gontor ke IIU Islamabad ini harus dimanfaatkan oleh mahasiswa Indonesia yang belajar di Pakistan untuk menggali informasi sebanyak-banyak tentang isu-isu keumatan.
“Lebih-lebih saat ini dengan maraknya isu konflik di tubuh umat Islam seperti Sunni-Syi’ah, ataupun isu Islamic State in Iraq and Syiria (ISIS),” ujar Tosimpak.
Diskusi umum ini mendapatkan apresiasi dari Kedutaan Besar RI di Islamabad sebagaimana yang disampaikan oleh Fungsi Politik KBRI, bahwa maraknya tuduhan negatif dan islamphobia di Barat, menjadi sebuah keharusan bagi para tokoh dan pemikir Islam untuk menyampaikan wajah Islam yang sebenarnya.
Di antara materi yang disampaikan oleh Dr. Hamid Fahmy adalah terkait pluralisme.
Dalam peryaatannya, Hamid mengatakan, pluralisme yang berkembang saat ini telah mengandung makna relativisme. Pluralisme dianggap sebuah doktrin sosial an sich ternyata juga menyentuh aspek teologis.
“Pluralisme dan pluralisme agama muaranya adalah sama, kecuali jika ada yang memahami pluralisme hanya setingkat toleransi,” papar pria yang kerap dipanggil Gus Hamid ini.
Namun menurut Hamid, faktanya pluralisme yang dikembangkan oleh pemikir Barat postmodern semisal Peter L. Berger, John Hick, Schuon atau lainnya bukanlah prinsip mengenai toleransi, tetapi relativisme kebenaran yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama.
Kekacauan dari paham ini mengajak masyarakat untuk menerima kenyataan bahwa disana tidak ada kebenaran tunggal artinya semua benar atau masyarakat tidak boleh memiliki keyakinan bahwa agama dan kepercayaan mereka itu benar atau paling benar.
“Bahkan dalam satu pengertian pluralisme mengajarkan bahwa sebenarnya kebenaran itu tidak ada. Pemikiran seperti ini sangat tidak islami, “ paparnya.
Selain persoalan pluralisme agama, isu yang mendapat perhatian Hamid adalah relasi Sunni-Syi’ah, sebagaimana yang dinyatakan dalam menjawab pertanyaan dari Muladi (mahasiswa S3 di IIU-I) tentang fakta mahasiswa Indonesia yang belajar di Iran dan jelas memiliki paham Syi’ah dan tentunya ketika mereka kembali ke tanah air membawa paham tersebut.
Dr. Hamid mengungkapkan, bahwa ajakan untuk bertoleransi dengan Syiah adalah ajakan yang tak bersesuaian dengan fakta, bahwa sudah sangat jelas kebencian ada di pihak Syiah dengan mencaci maki dan menghina para sahabat yang dicintai oleh Ahlus Sunnah.
Dalam diskusi itu juga terungkap isu usaha-usaha mensyiahkan Indonesia, negeri mayoritas Suni.
Saat diminta menjelaskan sikap pemerintah tentang Syi’ah, Hamid mengatakan, konsep ideologi politik Syi’ah adalah mengusung sistem wilayah faqih yang jelas-jelas bertentangan dengan NKRI, maka pemerintah harus mewaspadai.
Di akhir diskusi, Hamid yang juga salah satu alumni Pakistan memberikan wejangan kepada para mahasiswa untuk memanfaatkan waktu selama di Pakistan untuk aktif dalam kegiatan ilmiah di luar kampus dan membaca buku sebanyak-banyaknya.
“Pakistan banyak memiliki pakar-pakar keislaman dan buku-buku berbahasa Inggris sangat banyak dan murah,” tuturnya.
Dr. Hamid Fahmy bersama tiga orang t im peneliti lainnya berkunjung ke Pakistan dalam rangka melakukan penelitian kolaboratif internasional tentang metode dan kurikulum pendidikan ekonomi Islam kerjasama antara UNIDA-Gontor dengan IIU-Islamabad.*/ Muladi (Pakistan).