Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Kelompok Pemberontak Haftar Libya Setuju untuk Mencabut Blokade Minyak dengan Syarat

Rofi' Munawwar
Terakhir diupdate: 21 September 2020 10:07 10:07 am
Rofi' Munawwar
Dipublikasikan 21 September 2020 10:07
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Komandan pemberontak Libya Timur Khalifa Haftar mengumumkan pada hari Jum’at pencabutan bersyarat dari blokade selama delapan bulan di ladang minyak dan pelabuhan yang dikelola oleh pasukannya.

“Kami telah memutuskan untuk melanjutkan produksi dan ekspor minyak dengan syarat distribusi pendapatan yang adil” dan menjamin mereka “tidak akan digunakan untuk mendukung terorisme,” katanya di televisi.

Kelompok Pro-Haftar yang didukung oleh Petroleum Facilities Guard memblokade ladang minyak utama dan terminal ekspor pada 17 Januari. Mereka menuntut apa yang mereka sebut bagian yang adil dari pendapatan hidrokarbon, Middle East Eye melaporkan.

Blokade, yang mengakibatkan hilangnya pendapatan lebih dari $ 9,8 miliar, menurut National Petroleum Company (NOC) Libya, telah memperburuk kekurangan listrik dan bahan bakar di negara itu. NOC, yang mengoperasikan sektor energi Libya, mengatakan pada Sabtu (19/09/2020) tidak akan mencabut larangan pada ekspor sampai fasilitas minyak didemiliterisasi.

Mengenakan seragam militernya, Haftar mengatakan komando pasukannya telah “mengesampingkan semua pertimbangan militer dan politik” untuk menanggapi “kemerosotan kondisi kehidupan” di Libya, yang memiliki cadangan minyak terbesar di Afrika.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Sementara itu, di Tripoli, wakil perdana menteri Pemerintah Aktor Nasional (GNA), Ahmed Maiteeg, mengeluarkan pernyataan segera setelah pidato Haftar. Ia mengatakan “telah diputuskan” untuk melanjutkan produksi minyak dan menambahkan ini akan melibatkan komite baru untuk mengawasi distribusi pendapatan.

Panitia akan berkoordinasi antara kedua belah pihak untuk menyiapkan anggaran dan mentransfer dana untuk menutupi pembayaran dan menangani hutang publik, katanya.

Perdana Menteri Pemerintah Libya yang diakui secara internasional, Fayez al-Sarraj mengatakan pada hari Rabu (16/09/2020) bahwa dia berencana untuk mundur pada akhir Oktober. Para analis mengatakan ini akan menyebabkan perebutan politik di antara tokoh-tokoh senior lainnya di Tripoli untuk menggantikannya.

Namun, baik Haftar maupun Maiteeg tidak membahas keberadaan komandan Tentara Nasional Libya dan pasukan asing sekutu dalam fasilitas produksi dan ekspor minyak. NOC bersikeras bahwa mereka harus ditarik untuk memastikan keamanan stafnya sebelum melanjutkan produksi.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan pada hari Jum’at bahwa Turki kecewa dengan niat Sarraj mengundurkan diri bulan depan. Ankara dapat mengadakan pembicaraan dengan pemerintahnya tentang masalah tersebut dalam minggu mendatang.

“Perkembangan seperti ini, mendengar berita seperti itu, telah mengecewakan kami,” kata Erdogan kepada wartawan di Istanbul. Ia menambahkan bahwa delegasi Turki mungkin mengadakan pembicaraan dengan pemerintah Sarraj dalam minggu mendatang.

“Dengan pertemuan ini, insya Allah kami akan mengarahkan masalah ini ke arah yang harus dituju,” katanya.

Pengumuman Haftar muncul setelah ratusan warga Libya melakukan protes pekan lalu di kota timur Benghazi, salah satu benteng Haftar, dan kota-kota lain atas korupsi, pemadaman listrik, dan kekurangan bensin dan uang tunai.

Memprotes dengan damai pada awalnya, pengunjuk rasa pada hari Ahad (13/09/2020) membakar markas besar pemerintah timur paralel di Benghazi dan menyerang kantor polisi di al-Marj.

Petugas polisi menembakkan peluru tajam untuk membubarkan mereka di al-Marj, menyebabkan sedikitnya satu orang tewas dan beberapa lainnya terluka, menurut saksi mata dan misi PBB di Libya.

Libya berada dalam kekacauan sejak pemberontakan yang didukung NATO menggulingkan dan membunuh diktator lama Muammar Gaddafi pada 2011.

Pendapatan minyak negara dikelola oleh NOC dan bank sentral, keduanya berbasis di Tripoli, yang juga merupakan pusat pemerintahan GNA Libya yang diakui secara internasional.

Haftar menjalankan pemerintahan saingan yang berbasis di timur negara itu.

Komandan, yang mendapat dukungan dari Mesir, Uni Emirat Arab dan Rusia, melancarkan serangan terhadap Tripoli pada April tahun lalu.

Setelah 14 bulan pertempuran sengit, pasukan pro-GNA, yang didukung oleh Turki, mengusir pasukannya dari sebagian besar Libya barat dan mendorong mereka ke Sirte, pintu gerbang ke ladang minyak Libya yang kaya dan terminal ekspor.*

Redaktur: Rofi' Munawwar
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:BlokadeHaftarLadang MinyakLibya
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Menag Terkonfirmasi Positif Covid-19, Kondisinya Baik
Tulisan selanjutnya Profesor Abdul Fatah El-Awaisi: Saatnya Negara Muslim Menghimpun Kekuatan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf

Berita
18 Juli 2026 09:30
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
Trump Bilang 1.000 Rudal akan Memusnahkan Iran Apabila Presiden AS Dibunuh

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?