Hidayatullah.com | TANGGAL 15 September 2020 lalu, Uni Emirat Arab (UEA) setuju menjalin hubungan diplomatik dalam perjanjian yang ditengahi Presiden AS Donald Trump. Lima belas hari setelah perjanjian, tepat pada 31 Agustus, delegasi ‘Israel’-Amerika lepas landas pada penerbangan komersial pertama dari Tel Aviv ke Abu Dhabi.
Arab Saudi bahkan mengizinkan penerbangan melintasi wilayah udaranya. Penasihat Gedung Putih yang juga menantu Donald trump, Jared Kushner, mengucapkan rasa terima kasih kepada Arab Saudi karena memungkinkan penerbangan itu terjadi.
Bahrain juga mengukiti jejak UEA untuk menormalisasi hungan dengan ‘Israel’. Bahkan Bahrain mengumumkan keputusan setuju mengizinkan penerbangan UEA ke dan dari ‘Israel’ untuk terbang melintasi wilayahnya.
Belum lama lin A News Turki mewawancarai Profesor Abdul Fatah El-Awaisi terkait masalah ini. Profesor hubungan internasional dan kepala program studi di Universitas Ilmu Sosial Universitas Ankara (ASBU) menilai negara-negara Arab mulai mencari keuntungan sendiri dengan bekerjasama dengan Zionis.
Melalui program News Hour, anggota Royal Historical Society – Inggris Raya, dan Pendiri dari Bidang Studi Penelitian Baitul Maqdis atau Islamic Jerussalem ini mengusulkan aliansi baru di Dunia Islam terkait pergeseran geopolitik ini.
Profesor El-Awaisi telah mengajar dan melakukan penelitian selama 32 tahun (dari tahun 1986) di universitas-universitas Arab, Inggris, Malaysia, dan Turki. Pria berdarah Palestina ini saat ini merupakan Profesor Kehormatan Tamu di Universiti Utara Malaysia (UUM); dan Profesor Hubungan Internasional di Turki. Inilah petikan wawancara A News nya.
Apa makna dibalik langkah terkini dari UEA dan Bahrain bagi dunia Islam?
Itu bermakna banyak, bahwa negara-negara Arab yang telah berurusan secara diam-diam dengan ‘Israel’, mereka datang secara terbuka ke meja perundingan untuk mengakui ‘Israel’ dan bersepakat dengan ‘Israel’ demi keuntungannya sendiri.
Kita tahu bahwa Bahrain, UEA, Arab Saudi, serta sejumlah negara Arab dan negara Teluk; mereka berada di bawah perlindungan Inggris. Kini mereka berada di bawah perlindungan Amerika Serikat.
Mereka membutuhkan perlindungan negara superpower. Dan untuk melanjutkan kekuasaannya, mereka harus memposisikan dan mengakomodir AS melalui “negara” ‘Israel’.
Trump beberapa kali mengatakan kepada Raja Salman dan beberapa diktator kawasan Teluk, bahwa cara untuk bertahan adalah dengan mengakomodir kepentingan AS. Jika tidak, negara Anda akan runtuh dalam dua pekan dan selanjutnya runtuh dalam beberapa jam.
Profesor, berbicara tentang negara Arab lainnya, yang disebut-sebut bakal bergabung dengan blok yang menormalisasi hubungan dengan ‘Israel’; bertepatan saat ‘Israel’ memperluas pendudukannya atas Palestina, bertepatan saat ‘Israel’ menyakiti anak-anak Palestina dengan kekerasan?
Jika itu terjadi, apakah diperlukan blok baru dunia Islam untuk melindungi hak-hak dunia Islam dari penindasan yang membabi buta?
Itu pasti. Sekarang kita menyaksikan pergeseran keseimbangan kekuatan baru di kawasan, yang dipimpin Arab Saudi, Negara Teluk lain, Yordania, Mesir. Mereka bekerja dalam kelompok ini.
Saya berpikir, negara Muslim, khususnya Turki, kini muncul sebagai kekuatan regional baru.
Sejumlah akademisi menilai, di tengah kesepakatan ini (khususnya antara zionis ‘Israel’ dengan Bahrain, UEA, dan selanjutnya kemungkinan Arab Saudi), sekarang adalah momentum untuk Turki.
Turki bisa memimpin untuk mengorganisir kekuatan Muslim. Kita tahu di kawasan Arab, negara Arab terbagi-bagi. Di Suriah kini tidak ada negara, Iraq dan Mesir telah menjadi negara gagal.
Negara-negara Arab, selama beberapa dekade, mengatakan bahwa ‘Israel’ merupakan proyek barat, bayi Inggris, yang sekarang menjadi bayi AS. Sayangnya, saat ini, rezim negara diktator Arab justru mengamankan dan mendukung “negara” ‘Israel’.
Saya pikir ini saatnya untuk Turki, khususnya, dan secara umum negara Muslim lainnya, seperti Pakistan dan Malaysia, untuk menghimpun kekuatan guna menghadapi masalah ini.
Saya melihat Turki terus bergerak strategis menuju 2023. Saya pikir ‘Israel’, AS, UEA, dan negara Arab lain akan berusaha menghalangi pencapaian tujuan strategis Turki di 2023.
Baik Prof El-Awasi, terima kasih banyak atas kesediaan Anda berbincang dengan kami di News Hour. Kami sangat mengapresiasi kesediaan Anda meluangkan waktu. Terima kasih banyak. *