Kasus Abu Bakar Baasyir, nampaknya akan terus berbuntut panjang. Setidaknya, peristiwa itu belakangan ini telah mulai melahirkan berbagai kelompok Islam turun jalan. Kamis kemarin, (31/10/02), segenap aliansi umat Islam yang tergabung dalam Ummat Islam Surakarta (UIS) turun jalan. Mereka mendesak pemerintah untuk memecat Brigjen Aryanto Sutadi atas tragedi berdarah dalam evakuasi paksa terhadap Abu Bakar Baasyir, Senin (28/10), lalu. UIS juga menyatakan keberatan melakukan kerja sama dengan aparat Polri. UIS menilai, polisi sudah bertindak arogan. UIS juga menyatakan bila para eksekutif telah melakukan teror kepada rakyat. Sekretaris UIS, M. Rodhi dalam jumpa pers di Pondok Al Islam, Gumuk, Solo, mengecam tindakan Polri yang disebut kebiadaban atas kemanusiaan, dengan merusak fasilitas sosial kemanusiaan milik Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Solo. Tindakan itu juga dinilai melanggar konvensi Jenewa . “Kami memohon kepada MPR dan DPR melakukan fungsi kontrol karena jajaran ekskutif telah melakukan teror kepada rakyat, khususnya umat Islam,” tegasnya. Lebih lanjut UIS mendesak agar pemerintah memecat Direktur Tindak Pidana Umum Polri yang juga Ketua Tim Penyidik Kasus Abu Bakar Ba’asyir, Brigjen Aryanto Sutadi, dari kepolisian karena dianggap orang yang paling bertanggung jawab atas peristiwa ‘Sumpah Pemuda Berdarah” tersebut. Seperti diketahui, Abu Bakar Ba’asyir diambil paksa dari PKU Muhammadiyah Solo bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, Senin (28/10) yang lalu. Pada peristiwa itu, pihak Polri melakukan tindakan paksa dengan menjebol pintu kamar ruang VIP Al-Firdaus No 9, tempat Ba’asyir dirawat, dengan senjata pistol. Sedikitnya tiga pengikut Ba’asyir yang berusaha melindungi pimpinannya mengalami luka karena terlibat kontak fisik dengan aparat Polri. Karena peristiwa yang dinilai UIS arogan dan telah melakukan penghinaan terhadap ulama dan umat Islam maka UIS akan menolak semua bentuk kerjasama dengan pihak Polri sampai ada perubahan sikap terhadap umat Islam. Mulai Unjuk Rasa Sehari sebelumnya, ribuan mahasiwa Islam Ujung Pandang, Rabu, (30/10/02) mulai turun ke jalan. Gerakan mahasiwa yang tergabung dalam Lembaga Islam Universitas Makasar ini berdemontrasi memprotes penangkapan paksa aparat keamanan terhadap Amir Mujahidin Indonesia Abu Bakar Baasyir. Para demontran ini juga menentang intervensi Amerika Serikat dan sekutunya terhadap Indonesia. Dalam aksinya, ribuan mahasiswa tersebut melakukan pawai keliling kota Makasar sambil membagi-bagikan brosur yang isinya kecaman terhadap AS. Isi brosur itu, antara lain menyebutkan bila AS terlalu jauh mendiktekan dan menekan Indonesia dalam masalah terorisme. Sementara itu, di hari yang sama, KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) Semang juga menggelar demontrasi serupa. Aksi yang dilakukan di Semarang, Jawa Tengah itu, KAMMI menentang tindakan sewenang-wenang polisi dalam memperlakukan Abu Bakar Baasyir. KAMMI meminta agar aparat keamanan tidak seenaknya sendiri main tangkap terhadap tokoh-tokoh Islam. Demontrasi aktifis Islam yang dikenal militan ini dilakukan sebagai bentuk keprihatinan dalam melihat kasus Amir Mujahidin Indonesia Abu Bakar Baasyir. KAMMI menilai, evakuasi paksa terhadap Abu Bakar Baasyir dengan cara merusak kamar rumah sakit umum Muhammadiyah Solo, tempat Abu Bakar Baasyir sebagai bagian dari pesanan AS. Para pendemo mengaku kecewa pada para pemimpin bangsa Indonesia yang mudah didekte pihak asing, terutama AS. Karenya, Ketua KAMMI Semarang, Suhartono meminta kepada Presiden Megawati, Kapolri DaI Bachtir, Menkopolkam Susilo B. Yudhoyono dan Menham Matori Abdul Djalil mundur dari jabatannya.Rakyat Indonesia telah didominasi AS dan intervensi AS. Terbukti ditangkapnya Abu Bakar Baasyir menunjukkan betapa lemahnya bargaining pemerintah Indonesia di mata rakyatnya, katanya kepada wartawan seperti dikutip SCTV. Aktivis KAMMI yang semula berencana memasuki Kantor Mapolda Semarang akhirnya terpaksa gagal karena dihalangi pagar betis aparat keamanan. Jumat ini, dikabarkan ribuan aktivis KAMMI se Indonesia akan melakukan unjuk rasa secara serentak. (is/sctv/antv/cha)