Hidayatullah.com–“Saya sangat kaget atas kritikan pengamat soal pemilihan presiden. Padahal sebenarnya ini adalah penghargaan atas pemilihan presiden yang demokratis, adil dan damai,” ujarnya di Istana Negara Kamis, (29/7) kemarin. Dia mengungkapkan saat pengamat asing mengucapkan selamat kepada Indonesia karena berhasil melaksanakan pemilu yang adil dan demokratis, justru mereka dituduh intervensi. “Di mana letak intervensinya?, ” tanya Boyce. Boyce juga membantah kehadiran Menlu AS Collin Powel yang dituduh bertemu Susilo Bambang Yudhoyono, capres dari Partai Demokrat. Menurut dia, kedatangan Powel ke Indonesia dalam rangka pertemuan Asean Regional Forum (ARF). Powel, kata Boyce, sama sekali tidak bertenu dengan SBY termasuk Megawati Soekarnoputri. Hal tersebut, tambahnya, untuk menjaga independensi capres maupun Powel sendiri. Sebagaimana diketahui, beberapa hari menjelang Pemilu, Menlu AS, Colin Powell datang ke Jakarta dan menemui beberapa tokoh politik. Diantaranya Susilo Bambang Yudhoyono, capres dari Partai Demokrat. Beberapa minggu sebelum pelaksanaan Pemilu pilpres beberapa LSM sibuk melakukan polling yang isinya tak jauh dari dukungan pada salah seorang calon presiden. Seorang Indonesianis dari Universitas Ohio, Wiliam Leadle dalam berbagai kesempatan di media massa dan TV cenderung mendukung salah satu capres dan meragukan capres lain. Pernyataan-pernyataannya inilah yang ditengarai berbagai pihak sebagai propaganda tersembunyi berkedok penilitian ilmiah bernama polling. (bi/hid/cha)