Hidayatullah.com–Bagi Jamaah Muslimin (Hizbullah), ini adalah konferensi internasional pembebasan al-Quds kelima yang mereka adakan sejak 2006. Tujuan dan harapannya dari dulu hingga sekarang sama saja; bebaskan al-Quds dan Palestina.
“Ini adalah perjuangan yang lama dan panjang,” kata Ketua Panitia Pelaksana Konferensi, Yakhsyallah Mansur kepada hidayatullah.com.
Mansur mengatakan, jika kita merasa telah berbuat untuk al-Quds tetapi merasa al-Quds tidak kunjung bebas, maka Yahudi akan merasa senang.
Kata Mansur, kaum Yahudi mendirikan negara Israel di atas negeri Palestina sejak 1400 tahun lalu, ketika kaum Yahudi diusir dari Madinah oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wassallam.
“Jadi jangan isti’jal (tergesa-gesa, red). Jangan berpikir sudah lama, kok tidak bebas-bebas. Itu yang paling dimaui Yahudi,” katanya.
Kata Mansur, jika kita tidak merasakan hasil perjuangan, insyaAllah anak-cucu kita yang akan menikmatinya.
Mansur mengatakan, konferensi kali ini adalah konferensi yang paling banyak diikuti peserta dari luar, yakni 30 orang dar 12 negara. Seperti Palestina, Turki, Yordania, Maroko, Nigeria, Filipina, China, Inggris, dan lainnya.
Orientasi perjuangan juga mulai baik. “Kalau yang lalu fokus membebaskan Palestina, sekarang al-Aqsha yakni al-Quds (Jerusalem),” katanya.
Dia menjelaskan, jika niatnya al-Quds maka niatnya untuk agama dan keridhaan Allah. Tapi kalau untuk Palestina saja, katanya, itu sama dengan ashabiyah atau fanatik golongan saja.
“Pokoknya, kalau al-Quds merdeka otomatis Palestina juga merdeka,” tandasnya.