Hidayatullah.com–Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyatakan Amerika Serikat tidak demokratis jika menggunakan hak veto untuk menghalangi pengakuan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) terhadap kedaulatan Palestina.
“Tentu sangat disayangkan kalau Amerika sampai memveto keputusan Perserikatan Bangsa Bangsa. Apalagi Obama di awal pemerintahannya mengaku tidak membenci Islam, mengklaim Amerika sebagai negara yang paling demokratis,” kata Ketua Umum PBNU Kiai Haji Said Aqil Siroj di Jakarta, Senin (19/09/2011) dikutip Antara.
Said Aqil mengatakan, Palestina memang sudah semestinya menjadi negara merdeka, sesuai dengan keputusan Dewan Keamanan PBB terkait wilayahnya yang diterbitkan pada 1967.
“Palestina itu seharusnya merdeka sejak 1967. Itu keputusan PBB dan kita semua harus mendukung. Palestina mayoritas warganya Islam, dan itu sudah menjadi keharusan NU mendukung kemerdekaan mereka,” katanya.
Sebagai dukungan nyata bagi terbentuknya negara Palestina yang merdeka dan berdaulat, PBNU akan mendorong Pemerintah Indonesia agar juga mendukung hal tersebut.
“Saya yakin Indonesia sudah memberikan dukungan. Tapi jika belum, NU akan mendorong agar Indonesia mendukung dan mengakui negara Palestina yang merdeka,” katanya.
Sebagaimana diketahui, Palestina telah mengirimkan proposal ke Dewan Keamanan PBB untuk mendapatkan pengakuan kedaulatan. Rencananya akan dilakukan sidang pembahasan pada Jumat (23/09/2011) mendatang.
Sebelum ini, Menteri Luar Negeri Indonesia, Marty Natalegawa dikutip Voice of Amerika hari Senin ini mengatakan RI akan ikut ambil bagian dalam Sidang Umum PBB ke-66 di New York, AS mulai pekan ini.
Menurutnya Indonesia akan menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina dan masuknya Palestina menjadi anggota.
Sejauh ini lebih dari 100 negara, termasuk sejumlah negara di Eropa dan hampir semua negara Arab memberikan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina.
Amerika Serikat dikabarkan akan menggunakan hak vetonya guna menghalangi kemerdekaan Palestina atas penajajahan Zionis-Israel.*